Tekad yang bulat disertai kerelaan hati mereka yang tinggi di dalam menyerahkan totalitas pengabdian, hidup dan matinya kepada Allah telah mengantarkan mereka pada rahasia ilham dan kasyaf atau ilmu dari sisi-Nya. "Mereka menemukan seorang hamba Kami yang Kami beri rahmat dari hadirat Kami dan Kami ajari dari ilmu Kami" (Al-Kahfi 65). Di dalam aktualisasi diri tanpa motif selain amr-Allah tersirat wujudnya 'peran' ketuhanan di dalam diri pelakunya . "Dan apa yang aku lakukan tidak dari kemauanku sendiri." (Al Kahfi: 82). Resikonya ia akan terlempar ke dalam keunikan yang sulit dipahami dan terpisah dari lingkungannya. "Inilah saat perpisahan antara aku dengan engkau." (Al-Kahfi:78). Ketika itu seorang Sufi telah berdiri di atas 'titik beda' dengan semua individu yang ada (Khariqul-adah). Syekh Abdul Qadir Al-Jaelani di dalam efidensinya sempat bercengkerama dengan Tuhan seraya berkata: "Engkaulah yang Tunggal di langit, dan akulah yang tunggal di bumi". Begitu pula Jibran di dalam An-Nabi: "Sendiri tanpa sangkarnya rajawali terbang mengepak langit". Pernah Ibnu Sina menegur seorang Sufi bermaqam fana': "Apakah yang tampak bila tak ada orang yang melihat?" Sufi tersebut menjawabnya dengan pertanyaan pula: "Apa yang tidak tampak ketika ada orang melihat?". Sebenarnya apa yang sedang disaksikan oleh Sang Fana' adalah wajah di balik wajah dan makna di balik makna yang hanya bisa terlihat di dalam bashirah seorang Ahli Sirr. Pengetahuan tersebut sama sekali tidak didukung oleh referensi ilmu atau pun hukum kausalitas alam, bahkan ia lahir dari pengingkaran terhadapnya. Semua sebab telah gugur di depan mata Sang Asyik, yang tampak tinggal Wajah Sang Musabbib, seperti mata Majnun yang tidak bisa melihat selain wajah Laila. "Kemana saja engkau menghadap, di situ wajah Allah." (Al Baqarah:115). Sebagai seorang mutawakkilin tak ada perbuatan yang layak dilakukan selain mentelaah isyarah-isyarah, berita dan amar Tuhan untuk mencapai keniscayaan di dalam setiap langkah pengabdiannya. "Wahai Zat yang mengetahui rahasia hatiku, cukuplah bagiku memandang-Mu, cukuplah bagiku", gumam Al-Haddad di dalam munajadnya. Apabila yang tinggal di dalam hati seseorang hanya Allah dan kehambaan dirinya, maka praktis akan sirna rasa ujub, kikir, loba, tamak, iri, hasud, dengki, riya' dan sum'ah, apalagi kemauan bertindak makar, kadzib, ghibah maupun fitnah dari dalam dirinya. Bahkan akan lenyap pula rasa khawatir terhadap masa depan dan gundah mengenang masa lampau yang menjadi penjara waktu bagi kebanyakan makhluk berakal (Al-Baqarah: 38, 62, 112, 262, 274, 277). "Sesungguhnya orang-orang beriman, dan orang-orang Yahudi dan Nasrani dan Shabiin, siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, dan melakukan amal salih, maka bagi mereka pahala di sisi Tuhannya, dan tiada mereka khawatir dan berduka cita." (Al-Baqarah: 62). --------------------------------------------------------------------- Keluar Keanggotaan, e-mail: [EMAIL PROTECTED] Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
