KESIMPULAN 

Di dalam dimensi tawakkal di mana setiap individu muslim telah
menemukan titik beda dengan semua individu lain, agama Islam bahkan
menemukan titik temu dengan semua agama yang ada. Sebaliknya di
dalam dimensi taqwa ketika individu seorang muslim telah menemukan
titik temu dengan semua individu manusia, Islam berada di dalam
titik beda dengan agama lain, karena keluasan syariatnya yang
mencakup urusan duniawi. Hal itu membuat Islam sering diberi
predikat sebagai agama materialis oleh pihak lain. 

Namun betapa pun akhirnya harus diakui bahwa Islam merupakan
satu-satunya agama yang berhasil memadukan dua dimensi yang biasa
dipertentangkan dengan konsep wujud berpasangan (zaujaini). Yaitu
dunia-diri yang dapat diatasi oleh Sayidina Isa AS dengan sifat
Quddusnya dan dunia-milik yang berhasil diatasi oleh Sayidina Musa
AS dengan teknologi-nya (tongkat). 

Dunia diri dan dunia milik merupakan masalah paling dasar di dalam
kehidupan manusia, karena keduanya sulit untuk dipadukan di dalam
proses aktual tanpa yang satu membantai yang lain. Dampaknya di
dalam sejarah beragama pernah memecah ummat Islam menjadi paham
Jabariyah dan Qadariyah, golongan Hakekat dan Syariat serta Kaum
Sufi dan Fuqaha'. 

Hal itu tidak akan bisa terjadi bila kita sadar bahwa di dalam Islam
tidak ada konsep kepemilikan. Semua fasilitas yang disebut dunia
milik telah kita terima sebagai amanah atau titipan Tuhan yang harus
kita sampaikan kepada yang berhak, yaitu kehidupan. (Al-Ahzab: 72); 

"Sesungguhnya Allah memerintahkan kepada kamu untuk menyampaikan
amanat kepada yang berhak." (An-Nisa': 58)

Selanjutnya untuk memotifasi diri dengan taqwa dan tawakkal di dalam
setiap proses aktual, Al-Qur'an mengajarkan teknis dasar yang
tersirat di dalam kalimat doa: 

"Tuhan, masukkanlah aku (ke dalam dunia diri) dengan benar
(tawakkal) dan keluarkanlah aku (ke medan amanat) dengan benar
(taqwa) dan jadikan bagiku kekuatan penolong dari hadiratMu."  (Al
Isra: 30).

Bila target tersebut terwujud, kita akan menemukan kenyataan seorang
insan kamil (mukmin yang sempurna) yaitu seorang yang bermartabat
wahdah (unity) sekaligus bermartabat jam'iah (universality). 

Kini kita berada di dalam kurun zaman di mana ketaqwaan di-slogankan
dan ketawakkalan dicurigai akan menghambat perkembangan ummat
manusia. 

Setiap orang berusaha merebut fungsi yang tinggi tanpa peduli apakah
dirinya sanggup berperan dengan benar atau tidak. Padahal kita semua
tahu bahwa fungsi yang tinggi tanpa kesanggupan memerankan diri yang
kwalifaid akan menimbulkan huru-hara dan bencana besar bagi ummat
manusia. Sedang pemeran yang baik tanpa fungsi yang dipercayakan
kepadanya oleh lingkungan tetap akan dapat memproduk nilai buat
sesamanya. 

Mungkin karena kesadaran akan hal ini tasawuf mulai dilirik oleh
manusia modern yang telah cemas menyaksikan 'peran aneh' yang
dilakukan oleh ummat manusia di panggung sandiwara dunia. 

Kalau hal itu benar, janji tentang turunnya missi Sayidina Isa AS
(tasawwuf) untuk membenahi dan menyempurnakan kualitas pribadi kaum
Muslimin di akhir zaman telah tiba. 

Untuk itu saya ucapkan: "Selamat datang abad spiritual! Selamat
datang Para Penempuh Jalan Kebenaran! Rahmat Tuhan di matamu! 

Wallahu A'lam bishshawab.


---------------------------------------------------------------------
Keluar Keanggotaan, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]


Kirim email ke