TAQWA, FUNGSI, DUNIA MILIK, TITIK TEMU 

Titik temu adalah kesamaan anggapan tentang nilai-nilai yang
terbentang di dalam cakrawala kehidupan yang menjadi sasaran
operasional setiap individu manusia (dunia milik).

Penguasaan terhadapnya berwujud orientasi keluar lewat pengabdian
sosial, menawarkan hasil kreatifitas atau bereksplorasi keruangan
dengan mengadakan penelitian dan eksperimen dengan alam benda dan
lingkungan manusia yang menghasilkan berbagai ilmu pengetahuan dan
teknologi serta pandangan hidup yang bersifat obyektif. 

Berkiprah di dalam dimensi tersebut membutuhkan aset yag berupa
intelektual, bakat, keahlian dan pengetahuan tentang kausalitas alam
dan sosial, serta ambisi yang kuat sebagai dinamis-motifnya. 

Tujuannya untuk mendapat pengakuan dan kepercayaan dari masyarakat
manusia agar dapat berperan serta di dalam menangani kepentingan
bersama di dalam berbagai bidang kehidupan. 

Golongan yang berekspansi ke luar lewat dimensi nilai ini disebut
golongan muttaqin oleh Al-Qur'an. 

"Dan siapa taqwa kepada Allah, Allah akan menjadikan baginya jalan
keluar, dan akan memberinya rizki dan arah yang tak dapat diduga"
(Ath-Thalaq:3).

Bedanya dengan anak sang waktu (mutawakkilin) yang mendapatkan
'peran' yang tak tergantikan dari Tuhan, putera ruang (mutaqin) ini
akan memperoleh 'fungsi' dari masyarakat yang dapat digantikan oleh
pihak lain. Bila anak sang waktu dianugerahi ilmu Allah yang tak
bisa dicerna akal, putera ruang akan dikaruniai ilmu pengetahuan
obyektif dari masyakat dan alamnya. Ketika anak sang waktu menemukan
titik-beda dirinya dengan yang lain sebagai hasil dari menggarap
diri, putera ruang menemukan titik temu dirinya dengan semua
individu lewat menggarap alam dan lingkungannya. Dan ketika seorang
mutawakkilin berada dalam martabat wahdah (unity), seorang mutaqin
berada dalam martabat jam'iyah (universality). 

Begitulah tawakkal dan taqwa merupakan dua konsep orang beriman di
dalam menemukan dunia-diri dan dunia-milik sebagai medan mencari
ridha Allah. 

Kegagalan seseorang di dalam menangani dunia-milik disebabkan kurang
akuratnya di dalam menggarap dunia-diri. Maka untuk mengatasi semua
masalah yang berupa bencana, stagnasi, ataupun dilematika kehidupan
bukan dengan aktivitas keluar, melainkan dengan kembali membenahi
dunia diri atau sisi dalam dari realita kehidupan kita. 

"Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan yang ada dalam suatu kaum
sehingga mereka merubah apa yang ada di dalam dirinya." (Ar-Ra'du:
30).

Dan lahirlah sufi-sufi Muhammadis yang berorientasi di dalam dua
semesta sekaligus dengan konsep Taqwa dan Tawakkal demi mencari
ridlaNya di dunia dan di akhirat, dan tutuplah layar kerahiban yang
lari dari tanggung jawab sosial untuk mencari kepuasan spiritual
semata. 

Kerahiban merupakan penyimpangan dari perolehan ketawakalan demi
mencapai kesucian pribadi, sehingga tertutup baginya untuk menyentuh
semesta ketakwaan. 

"Dan mereka mengada-adakan kerahiban yang tidak Kami perintahkan
kepada mereka." (Al-Hadid: 27)



---------------------------------------------------------------------
Keluar Keanggotaan, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]


Kirim email ke