Assalamu'alaykum wr. wb.

Saya kurang sependapat dengan Pak Sunarman.

Tarekat itu, Islam ataupun non-Islam, memang berkembang di atas platform
yang sama. Yaitu, seperti kata Mas Ali, di seputar masalah Aku, Aku, Aku.
Tapi saya lihat kadar pertumbuhannya berbeda.
Dalam pengamatan saya, tarekat Islam itu dalam sejarah pertumbuhannya,
tidak pernah berhenti menyelam.

Dulu sufi Hasan Al-Bashri, murid sahabat Huzaifah ra, mengajarkan metode
mendekatkan diri kepada Allah melalu al-khauf ila Allah (takut pada Allah).
Jadi pada saat itu, tampaknya banyak ditekankan pada ayat-ayat neraka. 

Kemudian kaum sufi menjelajah lebih jauh lagi melalui mahabbah (kecintaan
kepada Allah). Melalui tokoh-tokohnya seperti Rabiah Al-adawiyyah,
Jalaludin Rumi, dsb. 

Kemudian kaum sufi mulai melewati jenjang keterpaduan antara dunia &
akhirat. Atara syari'at dan hakikat. Melalui Imam Al-Ghazali, Syaikh Ahmad
Sirhindi, dsb.

Kemudian kaum sufi menapak lagi ke jenjang berikutnya, yaitu Wihdat
al-wujud, melalui Ibnu Arabi, dsb.

Kemudian kaum sufi mulai hadir di pentas politik, melalui Ibnu Taymiyyah,
Ibnul Qoyyim, dan terakhir Imam Hasan Al-Banna, serta Imam Khomeini.

Dan saya pikir, tarekat Islam tidak akan berhenti sampai kiamat.
Selanjutnya entah isu apa lagi yang akan dihadirkan melalui Islam. Mungkin
konsep bertemu diri yang sering ditulis Mas Imam bisa jadi kandidat. :)
Karena saya belum pernah bertemu tarekat yang mengajarkan hal-hal seperti
bertemu diri, Ruh Al-Quds, dsb.

Sedang tarekat non-Islam, saya lihat tidak berkembang sejauh itu. Ajarannya
masih berputar di sekitar masalah kesejatian diri. Saya tidak tahu, apakah
tarekat non-islam punya 'kemampuan' untuk memadukan dunia & akhirat, dzahir
& batin, syari'at & hakikat? Bisakah tarekat non-islam menyentuh lapangan
politik, misalnya? Saya sungguh sangsi. Karena sebagaimana karakter
agamanya, hanya Islam yang bersifat syumul (menyeluruh).

Saya tidak punya cukup pengalaman berinteraksi dengan tarekat non-islam.
Karena itu, bisa jadi pemahaman saya salah, karena terlalu subyektif. Tapi
tentang kesyumulan Islam, tak perlu diragukan lagi.

Wassalamu'alaykum wr. wb.

----------
> From: R. Sunarman <[EMAIL PROTECTED]>
> To: [EMAIL PROTECTED]
> Subject: Re: [Tasawuf] tarekat = mazhab baru? <1>
> Date: Friday, February 12, 1999 7:24 AM
> 
> Ali Abidin wrote:
>  
> > Saya jadi bertanya-tanya apakah yang membedakan tarekat islam dari
> > tarekat yang non-islam? Kok pada akhirnya sama saja nasehatnya seperti
> > di buku Kho-Ping-Hoo isinya adalah "Aku" "Aku" "Aku". Tadinya saya
> > berpikir bahwa tarekat dalam islam itu unik karena pengamalannya tidak
> > terpisah dari syariat, sehingga yang saya harapkan adalah pemaknaan
akan
> > syariat (ibadah dan amaliah) sehari-hari seperti sholat, dhikr, puasa,
> > haji dst. Bukan dengan meditasi ala Hong-Wilaheng.
> 
> Assalaamu 'alaikum wr. wb.
> 
> Kalau saya boleh jujur, dalam pengamatan saya, sebenarnya semua
> aliran tarekat dalam agama apapun, pada intinya sama, tetapi
> pakaiannya lain-lain. Tarekat Islam berbeda dari yang lain hanya
> pada pakaian [luar]-nya.
> 
> Semuanya menempatkan kesucian jiwa pada pintu utama gerbang tarekat.
> Sebelum jiwa seseorang bersih dari cengkeraman hawa nafsu, ia belum
> diperkenankan memasuki ruang utama.
> 
> Meditasi juga merupakan menu umum dalam semua tarekat, tetapi dalam
> Islam bentuknya berupa shalat [terutama shalat malam] dan dzikir.
> Puasa merupakan alat bantu untuk mempermudah keberhasilan dalam
> meditasi.
> 
> Bukan lagi merupakan rahasia, tarekat Islam juga mengadopsi
> cara-cara meditasi yang dilakukan oleh pihak lain, seperti
> pengaturan napas dan visualisasi; namun ini hanya dipakai sebagai
> alat bantu tanpa meninggalkan alat utama yang diwariskan Nabi, yaitu
> shalat dan dzikir.
> 
> Kelak anda akan menyadari bahwa hakikat dari shalat dan dzikir
> adalah meditasi, pemusatan perhatian kepada Allah semata-mata.
> 
> Wassalaamu 'alaikum wr. wb.
> RS
> 
> 
> 
> ---------------------------------------------------------------------
> Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
> Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
> Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
> Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)
> 
> 
> 
> 

---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)




Kirim email ke