Assalamu'alaykum wr. wb.
Saya melihat sisi positif pada sudut pandang Mas Sigit. Sudut
pandang yang rada-rada berbau fanatisme ini sesungguhnya mempunyai
manfaat yang besar kalau kita mampu menggunakannya dengan baik.
Kalau kita sudah yakin bahwa jalan kita sudah baik, apalagi terbaik
di antara jalan-jalan yang ada, maka kita akan lebih mantap berjalan
di atasnya. Kita tidak lagi ragu-ragu. Lebih-lebih lagi, kita tidak
perlu berpikir bahwa ADA jalan lain yang sama baiknya atau bahkan
lebih baik, sehingga kita tergoda untuk berpindah jalur.
Berpindah-pindah jalur, menurut mereka yang 'sudah sampai', hanyalah
membuang-buang waktu.
Namun, di samping segi positif, ada pula segi negatifnya. Kita
cenderung untuk meremehkan jalan-jalan yang lain. Kita menjadi
arogan seolah-olah DIRI kita lebih baik dari orang-orang yang
menempuh jalur lain. Hal ini dalam taraf tertentu sangat merugikan
secara internal maupun eksternal.
Kerugian internal terwujud dalam terhambatnya perkembangan jiwa.
Orang menjadi terobsesi dengan slogan 'Bapakku lebih tinggi
pangkatnya, rumahku lebih besar, mobilku lebih bagus, rupaku lebih
tampan, guruku lebih cerdas' sementara ia lalai dengan kualitas
dirinya sendiri.
Kerugian eksternal terjadi terutama bila arogansi ini
dimanifestasikan dalam bentuk pelecehan atau penghinaan terbuka
terhadap pihak lain. Kerukunan antar umat menjadi terusik.
Efek negatif ini, dulu sangat mudah dieliminir, yaitu ketika orang
masih dapat 'dikurung di kampungnya masing-masing' dan tidak banyak
berhubungan dengan pihak luar. Namun, dengan tingkat keterbukaan
informasi seperti sekarang ini, kita masing-masing perlu bersikap
lebih objektif dan lebih arif dalam menafsirkan 'Lakum dinukum
waliyadiin."
Mengenai ketinggian maqam yang dapat dicapai apabila seseorang
mendekatkan diri kepada Allah, hendaklah kita mengacu kepada maqam
ruhaniah meskipun maqam ini tidak dapat diukur oleh orang yang
maqamnya lebih rendah. Kita tidak dapat mengukur ketinggian maqam
seseorang dari penampilan luarnya, kedudukan sosialnya dalam
masyarakat, bidang kegiatannya, dll karena hal-hal terakhir ini
berkaitan dengan MISI HIDUP masing-masing individu. Jangan lupa
bahwa banyak orang yang maqamnya sangat tinggi, tetapi ia diam
membisu dan tersembunyi.
Assalamu'alaykum wr. wb.
RS
Muhammad Sigit wrote:
> Saya kurang sependapat dengan Pak Sunarman.
>
> Tarekat itu, Islam ataupun non-Islam, memang berkembang di atas platform
> yang sama. Yaitu, seperti kata Mas Ali, di seputar masalah Aku, Aku, Aku.
> Tapi saya lihat kadar pertumbuhannya berbeda.
> Dalam pengamatan saya, tarekat Islam itu dalam sejarah pertumbuhannya,
> tidak pernah berhenti menyelam.
>
> Dulu sufi Hasan Al-Bashri, murid sahabat Huzaifah ra, mengajarkan metode
> mendekatkan diri kepada Allah melalu al-khauf ila Allah (takut pada Allah).
> Jadi pada saat itu, tampaknya banyak ditekankan pada ayat-ayat neraka.
>
> Kemudian kaum sufi menjelajah lebih jauh lagi melalui mahabbah (kecintaan
> kepada Allah). Melalui tokoh-tokohnya seperti Rabiah Al-adawiyyah,
> Jalaludin Rumi, dsb.
>
> Kemudian kaum sufi mulai melewati jenjang keterpaduan antara dunia &
> akhirat. Atara syari'at dan hakikat. Melalui Imam Al-Ghazali, Syaikh Ahmad
> Sirhindi, dsb.
>
> Kemudian kaum sufi menapak lagi ke jenjang berikutnya, yaitu Wihdat
> al-wujud, melalui Ibnu Arabi, dsb.
>
> Kemudian kaum sufi mulai hadir di pentas politik, melalui Ibnu Taymiyyah,
> Ibnul Qoyyim, dan terakhir Imam Hasan Al-Banna, serta Imam Khomeini.
>
> Dan saya pikir, tarekat Islam tidak akan berhenti sampai kiamat.
> Selanjutnya entah isu apa lagi yang akan dihadirkan melalui Islam. Mungkin
> konsep bertemu diri yang sering ditulis Mas Imam bisa jadi kandidat. :)
> Karena saya belum pernah bertemu tarekat yang mengajarkan hal-hal seperti
> bertemu diri, Ruh Al-Quds, dsb.
>
> Sedang tarekat non-Islam, saya lihat tidak berkembang sejauh itu. Ajarannya
> masih berputar di sekitar masalah kesejatian diri. Saya tidak tahu, apakah
> tarekat non-islam punya 'kemampuan' untuk memadukan dunia & akhirat, dzahir
> & batin, syari'at & hakikat? Bisakah tarekat non-islam menyentuh lapangan
> politik, misalnya? Saya sungguh sangsi. Karena sebagaimana karakter
> agamanya, hanya Islam yang bersifat syumul (menyeluruh).
>
> Saya tidak punya cukup pengalaman berinteraksi dengan tarekat non-islam.
> Karena itu, bisa jadi pemahaman saya salah, karena terlalu subyektif. Tapi
> tentang kesyumulan Islam, tak perlu diragukan lagi.
---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)