Assalamu'alaikum wr wb,
Menyimak  tulisan  pak  Sunarman  belajar  khusu'  01  sungguh  saya sangat
tertarik dengan topic ini. Kata khusu' sangat mudah diucapkan tapi PR berat
bagi kebanyakan orang. Khusu' itu bertingkat-tingakat sesuai dengan kemauan
dan  kemampuan  individu  dalam  mengendalikan central kontrol pada sasaran
tertentu yang berakhir pada puncak khusus' yakni kondisi fana.

Kalau  pak  Sunarman menyoroti tentang teknis menuju khusu' yang melibatkan
pikiran/otak.  Saya  sedikit  menambah  tentang bagaimana otak kita bekerja
untuk  saving  dan  retrieve  informasi,  mari  kita  coba beberapa latihan
berikut :

Jawablah  pertanyaan  berikut  ini  tanpa suara hanya dijawab dalam pikiran
saja:
1. Apakah anda punya kitab Al-Quran?
2. Apakah anda pernah melihat seekor sapi yang sedang makan rumput?
3. Apakah di rumah anda anda pesawat TV?
4. Siapakah guru SD anda dulu yang paling anda segani?

Sampai  di  sini anda berhenti sebentar dan anda rasakan apa yang ada dalam
pikiran anda saat anda menjawab pertanyaan di atas?

Saya  percaya  disaat  anda menjawab pertanyaan di atas, kurang lebih kerja
otak anda
sebagai berikut :

1.  Disaat  anda  ditanya  apakah  anda  punya  kitab  al-quran? tentu anda
menjawab  "punya".   namun di dalam otak anda tidak hadir tulisan P-U-N-Y-A
tapi  gambar  al-quran  komplit  dengan  warna sampulnya, ukurannya, bahkan
termasuk  almari  tempat  anda  meletakkannya  ikut  di load ke memory otak
sementara (istilah komputer RAM).

2. Demikian pula pertanyaan yang kedua ini.. dalam otak anda akan meretrive
file  gambar  sapi  yang  sedang  memekan  rumput  komplit  dengan  suasana
'restoran sapi" tampat ia memakan rumput.

3.  Pertanyaan  ini  juga  tidak  akan  menampilkan  tulisan  A-D-A sebagai
jawabanya,  tetapi otak anda akan menghadirkan file TV ke memori (RAM) otak
anda  berupa  gambar   ruangan  di  mana  anda meletakkan TV komplit dengan
ukuran  (inch-nya),  warna, merk, bahkan benda-benda diselilingnya pun akan
ditampilkan bersama-sama secara kompak.

4.  Pertanyaan  ke-empat  ini  bukan  hanya menampilkan figur seorang guru,
melainkan wajah, gaya bicara, cara berjalan, pakaian yang sering dikenakan,
kendaraan, bentuk tas-nya, dsb...
Yang  lebih mengerankan lagi pertanyaan ke-empat ini misalnya anda sekarang
sudah  berumur  50th  maka otak anda akan menampilkan data lintas dasawarsa
(40th  yang  lalu) dalam saat yang super cepat. Mungkin anda berfikir pakai
apa  ya..  processornya?  berapa  giga  byte  kemampuan  menyimpan datanya?
Allahuakbar... sungguh ciptaan yang teramat sempurna.

Dari  ilustrasi  di  atas,  jelas bahwa informasi yang di shoot oleh kamera
jasadi  (mata)  ditambah  lagi  dengan  system audionya (telinga) dan indra
lainya kemudian disimpan ke system memory otak.

PENYIMPANAN DATA DI OTAK
Otak  mempunyai  dua  kondisi memory, yaitu short term memory dan long term
memory (penyimpanan jangka pendek dan panjang).

Pada  dasarnya  semua  informasi  yang diterima otak itu bisa berupa suara,
gambar,  bau,  atau  bentuk tertentu melalui rabaan kulit. Kemudian terjadi
system visualisasi di otak dan berada dalam short term memory (RAM).

Informasi  yang berada dalam short term memory ini akan masuk ke dalam long
term memory dalam dua kondisi:
(1).  Apabila  kita  mampu  mempertahankan informasi tersebut minimal 3hari
dengan  cara  pengulangan (mengulang bacaan misalnya), maka secara otomatis
akan masuk dalam long term memory.
(2).  Kondisi  kedua,  informasi  akan  otomatis  masuk ke long term memory
apabila  informasi  dalam  kondisi extreme. Misalnya kita mengalami musibah
kecelakaan  saat  mengendarai sepeda motor sampai babak belur. Konsisi yang
tidak  biasa  semacam  ini  akan  di-recognise  oleh  otak  sebagai kondisi
ekstrim, yang akan secara otomatis tersimpan kedalam long term memory.

Informasi  yang  sudah  masuk dalam long term memory TIDAK akan pernah bisa
hilang sampi kita meninggal dunia.

LUPA...
Nikmat  Allah  yang  satu  ini  sebenarnya hanya berlaku pada periode awal.
Ketika  informasi  masih  berada  pada  sort  term memory(RAM). Kalau tidak
terjadi  pengulangan  atau  peng-ekstriman  kondisi,  maka akan hilang dari
memory yang disebut "lupa".

Lain  halnya  bagi  informasi yang sudah masuk dalam long term memory tidak
akan pernah hilang. Hanya yang sering menjadi masalah adalah bagaimana cara
meretrive-nya.

SEBUAH BUKTI
Tiga puluh tahun yang lalu anda pernah brkawan akrab dengan seseorang, lalu
berpisah  dan  tidak  pernah  bertemu  lagi.  Dalam  keseharian  anda  otak
sepertinya  sudah  tidak  mempunyai  data tentang kawan lama anda tersebut.
Tetapi  secara  tidak  disengaja anda tercium AROMA PARFUM tertentu di saat
anda di supermarket misalnya, dan aroma parfum itu yang dulu sering dipakai
kawan lama anda itu.... apa yang terjadi di memory otak anda?
Tentu  semua data tentang seseorang tersebut yang sudah 30th tersimpan akan
keluar   ke   memory  otak  anda.  Bahkan  gelak  ketawanyapun  masih  bisa
'terdengar'.

Contoh  lain  ada  seorang gadis yang lincah ceria cerdas... pokoknya serba
menyenangkan.   Tapi  secara  tiba-tiba  menjadi  pucat  pasi,...  badannya
menggigil...  tatkala  melihat  DARAH.  Setelah diteliti, ternyata ayah dan
ibu  anak tersebut sudah meninggal dunia yang dianiaya secara sadis didepan
mata  anak  tersebut.  Anda bisa membayangkan isi memory otak anak tersebut
saat melihat darah.

Jadi  informasi  yang  sudah  berada  di long term memory tidak akan pernah
hilang  hanya  cara  mengingat  yang susah. Hal ini disebabkan karena tidak
tahu/lupa  kunci  panggilnya.  Dua  contoh  di atas kunci panggilnya adalah
AROMA PARFUM dan DARAH.


Lalu  bagaimana  cara  menyimpan  informasi  ke  otak  agar  bisa dipanggil
kembali?

Kalau  informasi  yang disimpan otak berupa gambar (visual), Bagaiman kalau
kita  ingin  menyimpan  informasi  tentang  Allah  sedang kita tidak pernah
melihatnya ?

Bisakah otak memvisualisasikan tentang Allah?

Sebatas manakah kemampuan otak untuk berimaginasi dalam dimensi spiritual?

Bagaimanakah sikap otak di saat kita benar-benar khusu' ?

Insya Allah bersambung........................

Wassalamu'alaikum wr wb,
Wargino








Assal�mu'alaikum warahmatull�hi wabarak�tuh.

Abdul Rachman (NA&P) wrote:

> > Sebelumnya terimalah perkenalan saya.
> > Saya sangat tertarik dengan article anda " Belajar Khusuk'01 ",dan
> > berniat untuk mengamalkannya, tetapi mohon maaf saya membutuhkan
> > beberapa penjelasan dari anda mengenai hal tsb.

Terima kasih atas perhatian anda.

> > Dengan methoda "visualisasi gambar" pada article anda berarti
> > memfungsikan "otak"  untuk mengingat & berkonsentrasi artinya memenuhi
> > otak untuk Imajinasi ( bukan mengosongkan pikiran/otak ).
> >
> > Saya pernah mendapatkan saran dari seseorang, bahwa agar mendapatkan
> > khusyuk dalam menjalankan sholat harus mengosongkan pikiran / otak (
> > mem-fana'kan ) dari segala sesuatu selain yang berhubungan dengan
> > sholat, lalu melafatkan bacaan sholat dengan "lidah batin" dan
> > merasakan Takbir serta bacaan sholat tertentu pada bagian-bagian tubuh
> > tertentu pula.

Perkenankan saya bertanya dulu: apakah saran teman anda itu sudah
anda laksakanan dan anda sudah merasakan hasilnya? Jika sudah, anda
tidak perlu mengikuti program latihan dari saya. Namun, jika belum,
bolehlah anda ikut cara saya.

Memang benar bahwa dalam shalat kita hanya memikirkan urusan shalat,
tidak memikirkan gambar seperti dalam latihan. Tetapi bagaimana
untuk mencapai kondisi itu? Kita perlu proses secara bertahap,
bukan?

Logika dari metode saya begini: Kita melatih otak untuk melakukan
konsentrasi pada hal-hal yang mudah dulu, kemudian meningkat ke
hal-hal yang lebih rumit. Jika pikiran kita sudah terbiasa
dikendalikan terfokus, maka kelak pikiran itu akan mau pula
diarahkan untuk hal-hal yang sangat penting dalam hidup ini. Khusyu'
dalam shalat bukanlah tujuan akhir; tujuan akhirnya ialah
menggunakan otak untuk mendengarkan suara hati. Anda tahu bahwa ada
satu hadits qudsi yang menyebut bahwa hati seroang mukmin adalah
singgasana Allah. Dengan kata lain, suara hati adalah suara Allah
yang memberi petunjuk kepada masing-masing pribadi untuk mencapai
keselamatan dunia-akhirat. Dengan khusyuk dalam shalat, otak kita
akan lebih banyak dan lebih jelas menerima isyarat dari hati.

> > Dari kedua methoda tsb diatas, apakah tidak ada kontradiksi ? saya
> > mohon penjelasan bila anda punya keterangan tentang hal itu.

Saya tidak melihat kontradiksi. Anda boleh melakukan kedua cara itu
bersama-sama, artinya ketika shalat anda memperhatikan lafadz bacaan
shalat, gerakan, jumlah rakaat dll; tetapi ketika melakukan latihan
visualisasi, anda [hanya] memperhatikan gambar.
Kelak, dalam proses latihan ini, kalau sekiranya para peserta sudah
mampu menjinakkan pikirannya, materi latihan akan diarahkan ke
urusan shalat. Tetapi, sebelum itu, latihan akan berkisar pada
visualisasi benda-benda.

Wassal�mu'alaikum warahmatull�hi wabarak�tuh.
RS


---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)



Kirim email ke