Assal�mu'alaikum warahmatull�hi wabarak�tuh.
Abdul Rachman (NA&P) wrote:
> > Sebelumnya terimalah perkenalan saya.
> > Saya sangat tertarik dengan article anda " Belajar Khusuk'01 ",dan
> > berniat untuk mengamalkannya, tetapi mohon maaf saya membutuhkan
> > beberapa penjelasan dari anda mengenai hal tsb.
Terima kasih atas perhatian anda.
> > Dengan methoda "visualisasi gambar" pada article anda berarti
> > memfungsikan "otak" untuk mengingat & berkonsentrasi artinya memenuhi
> > otak untuk Imajinasi ( bukan mengosongkan pikiran/otak ).
> >
> > Saya pernah mendapatkan saran dari seseorang, bahwa agar mendapatkan
> > khusyuk dalam menjalankan sholat harus mengosongkan pikiran / otak (
> > mem-fana'kan ) dari segala sesuatu selain yang berhubungan dengan
> > sholat, lalu melafatkan bacaan sholat dengan "lidah batin" dan
> > merasakan Takbir serta bacaan sholat tertentu pada bagian-bagian tubuh
> > tertentu pula.
Perkenankan saya bertanya dulu: apakah saran teman anda itu sudah
anda laksakanan dan anda sudah merasakan hasilnya? Jika sudah, anda
tidak perlu mengikuti program latihan dari saya. Namun, jika belum,
bolehlah anda ikut cara saya.
Memang benar bahwa dalam shalat kita hanya memikirkan urusan shalat,
tidak memikirkan gambar seperti dalam latihan. Tetapi bagaimana
untuk mencapai kondisi itu? Kita perlu proses secara bertahap,
bukan?
Logika dari metode saya begini: Kita melatih otak untuk melakukan
konsentrasi pada hal-hal yang mudah dulu, kemudian meningkat ke
hal-hal yang lebih rumit. Jika pikiran kita sudah terbiasa
dikendalikan terfokus, maka kelak pikiran itu akan mau pula
diarahkan untuk hal-hal yang sangat penting dalam hidup ini. Khusyu'
dalam shalat bukanlah tujuan akhir; tujuan akhirnya ialah
menggunakan otak untuk mendengarkan suara hati. Anda tahu bahwa ada
satu hadits qudsi yang menyebut bahwa hati seroang mukmin adalah
singgasana Allah. Dengan kata lain, suara hati adalah suara Allah
yang memberi petunjuk kepada masing-masing pribadi untuk mencapai
keselamatan dunia-akhirat. Dengan khusyuk dalam shalat, otak kita
akan lebih banyak dan lebih jelas menerima isyarat dari hati.
> > Dari kedua methoda tsb diatas, apakah tidak ada kontradiksi ? saya
> > mohon penjelasan bila anda punya keterangan tentang hal itu.
Saya tidak melihat kontradiksi. Anda boleh melakukan kedua cara itu
bersama-sama, artinya ketika shalat anda memperhatikan lafadz bacaan
shalat, gerakan, jumlah rakaat dll; tetapi ketika melakukan latihan
visualisasi, anda [hanya] memperhatikan gambar.
Kelak, dalam proses latihan ini, kalau sekiranya para peserta sudah
mampu menjinakkan pikirannya, materi latihan akan diarahkan ke
urusan shalat. Tetapi, sebelum itu, latihan akan berkisar pada
visualisasi benda-benda.
Wassal�mu'alaikum warahmatull�hi wabarak�tuh.
RS
---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaa, e-mail (kosong) : [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)