Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamu'alaikum wr.wb.
MENCOBA MEMAHAMI MASALAH TAQDIR........2/5)
Pemahaman tentang "taqdir" dengan mengatakan bahwa Allah telah
menentukan nasib seseorang sebelum menciptakan orang tersebut adalah
suatu tuduhan yang akan menempatkan Allah sebagai Tuhan yang sama sekali
tidak adil. Kita harus berpikir dua kali sebelum melontarkan gagasan
demikian terhadap Allah yang sifat-Nya melebihi dari Mahaadil yaitu
Mahakasihani. Seorang penjahat yang mengatakan bahwa Allahlah yang
menjadikan dirinya penjahat, Allahlah yang mentaqdirkan dia sebagai
penjahat bahkan sebelum dia menjadi penjahat sekarang, ketentuan
demikian telah diputuskanNya lebih dahulu.... hanyalah sebuah khayalan dan
angan-angan yang sangat menyesatkan. Dengan kita meletakkan
kejadian-kejadian yang menimpa diri kita itu disebabkan oleh
kesalahan-kesalahan Tuhan berarti kita telah melucuti Tuhan dari sesuatu
yang baik dan mulia. Apakah Islam memang mengajarkan sifat-sifat Tuhan
yang demikian? Dan apakah junjungan kita Rasulullah SAW menerangkan
pengertian "taqdir" seperti itu?
Allah yang diajarkan oleh Al-Qur'an dan Rasulullah SAW sesungguhnya
tidaklah mungkin telah bertindak seperti itu dan janganlah kita
berprasangka yang demikian terhadapNya. Allah kita adalah Mahapengasih
dan Mahapenyayang, Pemberi Kebaikan, dan menyempurnakan apa yang telah
diciptakanNya. Adalah tidak mungkin sama sekali kejahatan akan keluar
dariNya. Allah adalah Sumber dari segala Kebaikan. Akan tetapi kalau
konsepsi kita tentang taqdir seperti diatas dengan sendirinya kita
telah menjadikan Allahlah yang harus bertanggung jawab atas segala kejahatan
dan kecurangan yang terjadi didunia ini.
Masih ada hal lain yang harus kita pertimbangkan lebih dahulu sebelum kita
melanjutkan pembicaraan mengenai taqdir ini. Jika seandainya kemauan bebas
kita tidak campur tangan dalam urusan kejahatan kita, maka pemberian
hukuman kepada kita atas kejahatan itu adalah tidak adil. Pada pengadilan
duniawipun kita melihat bahwa hakim tidak saja menghukum orang yang
langsung mengerjakan tindak pidana, melainkan menghukum lebih berat
terhadap orang yang mendalangi kejahatan itu. Orang yang langsung
mengerjakan tindak pidana itu dihukum sampai dimana ia terbukti
mengambil bagian dalam kejahatan itu. Apabila ia hanya sebagai instrument
belaka ditangan orang lain, ia tidak selayaknya menerima hukuman. Misalnya
seorang anak kecil yang dijadikan alat untuk meracun dan membunuh orang
lain, tidak ada pengadilan manapun yang memutuskan bahwa anak kecil itu
layak menerima hukuman . Orang yang dikirim ke tiang gantungan adalah
orang yang mendalangi pembunuhan itu yaitu orang yang memperalat anak
kecil itu .....
Apakah pengadilan Ilahi yang Hakimnya Allah Ta'ala tidak bijaksana
melebihi pengadilan duniawi kita ? Jika kita hanya sebagai wayang
ditangan dalang.... yang dalam hal ini Tuhan yang telah lama
sebelumnya telah menggariskan sekecil-kecilnya perincian hidup kita ,
mengapa pula kita harus dibebankan olehNya untuk mempertanggung jawabkan
perbuatan-perbuatan kita? Allahlah yang menguasai tiap-tiap jengkal
dari perjalanan hidup kita semenjak kita diciptakanNya, dalam rahim
kandungan ibu kita, mengiringi kita kedunia ini dan selanjutnya
menyampaikan kita kepada kematian yang menghakhiri hidup kita. Dia telah
menentukan hukuman kita, namun Dia menantikan saat untuk melemparkan
kita kedalam api neraka. Adakah kezaliman yang lebih besar lagi dari ini
? Na'udzubillahi minzalik....!
Al-Qur'an sama sekali tidak membenarkan pendapat umum tentang taqdir
itu dengan kata-kata yang jelas sekali:
"Baginya (bagi jiwanya) adalah ganjaran dari kebaikan yang dia kerjakan,
dan untuknya (untuk jiwanya) adalah hukuman dari kejahatan yang ia
lakukan"......QS. 2:286).
Selanjutnya mengenai Hari Pembalasan kelak Qur'an Suci menjelaskan
lagi:
"Hari ini, tidak ada jiwa akan diperlakukan dengan tidak adil, demikian
pula engkau tidak akan mendapatkan ganjaran , terkecuali apa yang telah
engkau perbuat"....(QS. 36:54).
Allah menjadikan Sorga dan Neraka adalah dimaksudkan hanya sebagai
motivasi dan dorongan bagi manusia berbuat kebajikan dan menjauhi
kejahatan. Lebih lanjut Al-Qur'an menjelaskan hal ini:
"Barang siapa berbuat kebajikan seberat atom, ia akan memperoleh buahnya
dan barangsiapa berbuat kejahatan seberat atom, ia akan menerima
hukumannya".....(QS. 99:7-8).
Adakah Qur'an Suci mengajarkan "taqdir" seperti gambaran umum yang
melemparkan semua pertanggung jawaban untuk menghilangkan tuntutan
hukuman dan juga ganjaran dari perbuatan kita? Ayat- ayat Al-Qur'an yang
kami kutip diatas sedikitpun tidak bisa diarahkan pengertiannya kepada
taqdir yang sebagaimana umumnya dipahamkan oleh orang-orang Islam
dewasa ini, yang menempatkan Allah sebagai pemikul tanggung jawab
dari perbuatan yang dilakukan manusia.
Pertanggung jawaban itu mengharuskan adanya pengetahuan, kemauan bebas
dan tindakan yang mengiringi pengetahuan dan kemauan bebas itu. Orang
yang tidak tahu atau orang yang dipaksa itu tidaklah dapat dibebani
pertanggung jawaban. Melanggar suatu Undang-Undangitu baru bisa dikenakan
hukuman apabila undang-undang itu sudah diumumkan sebelumnya, dan orang
yang melanggar itu berbuat atas kemauan sendiri. Allah sendiri telah
membekali kita dengan daya bathin dan kita juga telah diberi tahu bahwa
daya batin yang kita miliki itu dapat bertumbuh dan berkembang.
Bagaikan pohon yang tumbuh dalam diri kita bibit-bibit "kejahatan dan
kebaikan" yang ada dalam batin kita itu berkembang. Tiap-tiap daya
batin manusia adalah kebun yang rindang dalam keadaan
terpendam.Apabila dikembangkan dengan sempurna , kebun itu akan berbuah
yang enak-enak yang penghuninya akan makan sepuas-puasnya didunia dan
akhirat nanti. Akan tetapi jika daya batin itu disia-siakan atau disalah
gunakan maka yang tumbuh adalah pohon-pohon kejahatan, yang
mendatangkan siksa didunia dan diakhirat.
Sudah barang tentu "pemberi undang-undang" tidak mungkin akan
menetapkan dan memberlakukan undang-undang tersebut kecuali sesudah ia
mengumumkan berlakunya undang-undang tersebut. Demikian juga Allah
Ta'ala yang telah menciptakan semua undang-undang dan peraturanNya bagi kita
dan tentu saja Dia tidak akan membebankan kita suatu tanggung jawab diluar
kemampuan kitauntuk memikulnya. Maka dari itu Pemberi Undang-undang
Ilahi telah meyakinkan manusia tentang hal ini.
"Allah tidak membebankan kewajiban atas seseorang, kecuali menurut
kekuatannya"......(QS. 2:286).
Setelah memberikan jaminan ini Allah memberlakukan Undang- undangNya
kepada kita.
"Baginya (bagi jiwanya) adalah ganjaran dari kebaikan yang ia kerjakan
dan untuknya (untuk jiwanya) adalah hukuman dari kejahatan yang ia
lakukan".....(QS. 2:286).
Jadi kalau demikian apa sesungguhnya yang dinamakan dengan "taqdir"
itu dan kenapa pula taqdir ini dimasukkan dalam salah satu kerangka
Rukun Iman dalam keyakinan agama Islam? Tidak bisa disangsikan lagi bahwa
tujuan agama ialah memperkenalkan kita dengan hukum-hukum "taqdir" .
Dalam lingkungan "alam fisik" apa yang dapat kita ketahui dari
hukum-hukum taqdir itulah yang disebut dengan ilmu pengetahuan.
Sedangkan hukum-hukum taqdir yang bertalian dengan moral dan alam rohani
kita disebut Agama. Hukum-hukum ini adalah tidak berubah-rubah juga
tidak mengalami perubahan dan diatur oleh Tuhan sendiri. "Ukuran tentang
baik dan buruk itu ditetapkan oleh Tuhan sendiri". Taqdir itu tidak
lain kecuali "ukuran-ukuran" yang secara tidak berubah-rubah diatur
oleh Tangan Tuhan.
Tiap tiap ciptaan Tuhan apabila dimasukkan dalam suatu ukuran menjadi
baik, sedangkan dalam ukuran yang lain barang tersebut dapat berubah
menjadi jelek. Batas-batas ini tidak berubah-rubah. Bilamana suatu
barang, apakah itu benda alam ataukah daya-daya batin manusia digunakan
dalam kadar atau ukuran tertentu , buahnya pasti sesuai dengan apa
yang ditentukan oleh Kehendak Ilahi. Inilah pengertian taqdir yang
sebenarnya dan dimana taqdir tersebut tidak melarang kita untuk
menggunakan "bebas pilih". Kita bebas sama sekali menggunakan "taqdir"
atau "ukuran" apa saja yang kita kehendaki, akan tetapi sekali kita
menentukan pilihan dan berbuat menurut pilihan tersebut akibat-akibat
yang sudah ditetapkan dan tak berubah-rubah itu pasti mengikuti
perbuatan kita. Tuhan tidak hanya menetapkan batas-batas bagi
barang-barang yang akan dikerjakan saja, akan tetapi disamping itu Tuhan
juga memberi penjelasan mengenai barang-barang tersebut sehingga kita
menjadi mampu untuk melakukan observasi terhadap barang-barang tersebut
sebelum kita mempergunakannya.
bersambung
Wassalamu'alaikum wr.wb.
Nadri Saaduddin
Jalan Rambutan B-32,
Telp. (+62-0765) 93072 Duri 28884
Riau Daratan INDONESIA
------------------------------------------------------
[EMAIL PROTECTED]
------------------------------------------------
THERE IS NO GOD BESIDE ALLAH AND MUHAMMAD SAW IS HIS MESSENGER.
LOVE FOR ALL, HATRED FOR NONE.....!
Hearken! The Messiah Has Come, The Messiah Has Come.....
For further detail contact Ahmadiyya Mission over the world.
------------------------------------------------
TAQDIR.txt
---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)