Assalaamu 'alaikum wr. wb.

Benar apa yang diungkapkan pak Nadri lewat tulisan ini tentang takdir.
Saya 100% setuju. Dengan mengingkari adanya kehendak bebas manusia dan
kemudian melempar seluruh tanggungjawab perbuatan manusia kepada Allah
SWT maka akibatnya akan sangat fatal.

Ada suatu percakapan dalam keping sejarah (yang sayang sekali saya tak
mampu mengingat detailnya, tetapi saya mampu mengingat inti
kejadiannya). Kisah ini terjadi setelah peristiwa Karbala dimana Husain
AS cucu Rasulullah beserta 70 sahabat dan keluarganya dibantai tentara
bani Umayyah. Setelah pembantaian karbala maka anak-anak & wanita yang
tersisa dijadikan tawanan perang dan diarak menuju Kufah dalam keadaan
dihinakan -- dengan didahului arak-arakan kepala 70 syuhada yang
ditancapkan di atas lembing. Kepala tsb adalah kepala orang -orang mulia
yang merupakan ayah/ paman/ kakak mereka. Diantara tawanan tsb terdapat
Ali Zainal Abidin, putera Husain AS berusia 12 tahun yang terkapar sakit
panas ketika perang Karbala berlangsung. 

Selanjutnya Ali Zainal Abidin, anak 12 tahun tersebut dihadapkan pada
penguasa bani Umayya (saya lupa apakah penguasa tsb Ibnu Ziyad gubernur
kufah waktu itu atau Yazid yang raja bani Umayya) dimana dialog ini
terjadi. 

Penguasa tsb berkata yang intinya bahwa "Allah telah berkehendak untuk
membunuh ayahmu".

Anak tsb menjawab (saya tidak ingat persis kalimatnya) dengan mengutip
beberapa ayat AlQuran yang bermakna bahwa  "Allah maha mengetahui apa
yang terjadi, tapi kamulah yang membunuh ayahku dan kamu akan
bertanggungjawab atas apa yang kamu lakukan hari ini".

Jadi memang kesalahpahaman tentang takdir dengan berlindung dibalik
kata-kata "semua adalah kehendak Allah SWT" dan kemudian melempar semua
tanggung-jawab perbuatan manusia kepada Allah sudah timbul di awal-awal
sejarah islam itu sendiri.

Wassalaamu 'alaikum wr. wb.
>----------
>From:  Nadri Saadudin[SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
>Sent:  Sunday, 21 February 1999 20:47
>To:    'Tasawuf'
>Subject:       [Tasawuf] [2/5] Mencoba Memahami Taqdir...
>
>
>Bismillahirrahmanirrahim,
>Assalamu'alaikum wr.wb.
>
>MENCOBA MEMAHAMI MASALAH  TAQDIR........2/5)
>
>Pemahaman  tentang  "taqdir" dengan mengatakan bahwa  Allah  telah
>menentukan  nasib  seseorang  sebelum menciptakan  orang  tersebut  adalah
>suatu  tuduhan yang akan menempatkan Allah  sebagai  Tuhan yang  sama sekali
>tidak adil. Kita harus berpikir dua kali sebelum  melontarkan  gagasan
>demikian terhadap Allah yang  sifat-Nya  melebihi dari Mahaadil  yaitu
>Mahakasihani. Seorang  penjahat  yang  mengatakan  bahwa  Allahlah  yang
>menjadikan  dirinya   penjahat,  Allahlah  yang  mentaqdirkan dia sebagai
>penjahat  bahkan  sebelum dia   menjadi penjahat sekarang, ketentuan
>demikian telah diputuskanNya lebih dahulu.... hanyalah sebuah khayalan dan
>angan-angan  yang  sangat menyesatkan. Dengan kita meletakkan
>kejadian-kejadian yang  menimpa diri kita itu disebabkan oleh
>kesalahan-kesalahan  Tuhan  berarti kita telah melucuti Tuhan dari  sesuatu
>yang  baik  dan mulia. Apakah Islam memang mengajarkan sifat-sifat  Tuhan
>yang  demikian? Dan apakah junjungan  kita  Rasulullah  SAW     menerangkan
>pengertian "taqdir" seperti itu?
>
>Allah yang diajarkan oleh Al-Qur'an  dan  Rasulullah  SAW sesungguhnya
>tidaklah mungkin  telah bertindak seperti itu dan janganlah kita
>berprasangka yang demikian terhadapNya. Allah  kita adalah  Mahapengasih
>dan  Mahapenyayang,  Pemberi  Kebaikan,  dan  menyempurnakan apa yang telah
>diciptakanNya. Adalah tidak  mungkin  sama  sekali  kejahatan akan keluar
>dariNya. Allah  adalah  Sumber  dari  segala  Kebaikan.  Akan tetapi kalau
>konsepsi  kita  tentang  taqdir seperti  diatas  dengan sendirinya kita
>telah menjadikan Allahlah yang harus bertanggung jawab atas segala kejahatan
>dan  kecurangan yang terjadi didunia ini.
>
>Masih ada hal lain yang harus kita pertimbangkan lebih dahulu sebelum kita
>melanjutkan pembicaraan mengenai taqdir ini. Jika seandainya kemauan bebas
>kita tidak campur tangan  dalam  urusan kejahatan  kita, maka pemberian
>hukuman kepada kita atas kejahatan  itu  adalah  tidak adil. Pada pengadilan
>duniawipun kita melihat bahwa  hakim  tidak saja menghukum orang yang
>langsung mengerjakan tindak  pidana,  melainkan menghukum lebih  berat
>terhadap  orang  yang  mendalangi  kejahatan itu. Orang yang  langsung
>mengerjakan tindak  pidana  itu  dihukum sampai dimana ia  terbukti
>mengambil bagian  dalam  kejahatan itu. Apabila ia hanya sebagai  instrument
>belaka ditangan orang lain, ia tidak selayaknya menerima hukuman. Misalnya
>seorang anak kecil yang dijadikan alat untuk meracun dan membunuh orang
>lain, tidak ada pengadilan manapun yang  memutuskan bahwa  anak kecil itu
>layak menerima hukuman . Orang yang  dikirim ke  tiang  gantungan adalah
>orang yang mendalangi  pembunuhan  itu yaitu orang yang memperalat anak
>kecil itu .....
>
>Apakah   pengadilan  Ilahi  yang  Hakimnya  Allah  Ta'ala  tidak bijaksana
>melebihi  pengadilan duniawi kita  ?  Jika  kita  hanya  sebagai  wayang
>ditangan dalang.... yang dalam hal ini Tuhan  yang  telah   lama
>sebelumnya  telah menggariskan sekecil-kecilnya  perincian hidup kita ,
>mengapa pula kita harus dibebankan  olehNya  untuk  mempertanggung jawabkan
>perbuatan-perbuatan kita?  Allahlah  yang   menguasai  tiap-tiap  jengkal
>dari  perjalanan  hidup  kita semenjak  kita  diciptakanNya, dalam  rahim
>kandungan  ibu  kita,  mengiringi  kita  kedunia  ini dan selanjutnya
>menyampaikan  kita kepada  kematian yang menghakhiri hidup kita. Dia telah
>menentukan hukuman  kita,  namun Dia menantikan saat untuk  melemparkan
>kita kedalam  api neraka. Adakah kezaliman yang lebih besar lagi   dari  ini
>? Na'udzubillahi minzalik....!
>
>Al-Qur'an  sama  sekali  tidak membenarkan pendapat  umum  tentang taqdir
>itu dengan kata-kata yang jelas sekali:
>
>"Baginya  (bagi  jiwanya) adalah ganjaran dari kebaikan  yang  dia kerjakan,
>dan  untuknya  (untuk  jiwanya)  adalah  hukuman   dari kejahatan yang ia
>lakukan"......QS. 2:286).
>
>Selanjutnya  mengenai  Hari  Pembalasan  kelak  Qur'an Suci menjelaskan
>lagi:
>
>"Hari  ini,  tidak ada jiwa akan diperlakukan dengan  tidak  adil,  demikian
>pula engkau tidak akan mendapatkan ganjaran , terkecuali  apa yang telah
>engkau perbuat"....(QS. 36:54).
>
>Allah  menjadikan  Sorga  dan  Neraka  adalah  dimaksudkan  hanya sebagai
>motivasi dan dorongan bagi manusia berbuat kebajikan  dan  menjauhi
>kejahatan. Lebih lanjut Al-Qur'an menjelaskan hal ini:
>
>"Barang  siapa berbuat kebajikan seberat atom, ia akan  memperoleh buahnya
>dan barangsiapa berbuat kejahatan seberat atom, ia akan  menerima
>hukumannya".....(QS. 99:7-8).
>
>Adakah Qur'an Suci  mengajarkan "taqdir" seperti  gambaran  umum yang
>melemparkan  semua pertanggung jawaban  untuk  menghilangkan tuntutan
>hukuman  dan juga ganjaran dari perbuatan  kita?  Ayat- ayat Al-Qur'an  yang
>kami  kutip diatas sedikitpun  tidak  bisa diarahkan pengertiannya kepada
>taqdir yang  sebagaimana  umumnya  dipahamkan  oleh  orang-orang Islam
>dewasa ini,  yang  menempatkan Allah   sebagai   pemikul  tanggung  jawab
>dari  perbuatan   yang dilakukan manusia.
>
>Pertanggung  jawaban itu mengharuskan adanya pengetahuan,  kemauan bebas
>dan tindakan yang mengiringi pengetahuan dan kemauan  bebas  itu.  Orang
>yang tidak tahu atau orang yang dipaksa itu  tidaklah dapat dibebani
>pertanggung jawaban.  Melanggar  suatu  Undang-Undangitu baru bisa dikenakan
>hukuman apabila undang-undang  itu  sudah  diumumkan sebelumnya, dan orang
>yang melanggar itu  berbuat atas  kemauan sendiri. Allah sendiri telah
>membekali  kita  dengan  daya  bathin dan kita juga telah diberi tahu bahwa
>daya batin yang  kita miliki itu dapat bertumbuh dan berkembang.
>
>Bagaikan pohon yang  tumbuh  dalam  diri kita bibit-bibit "kejahatan   dan
>kebaikan"  yang  ada  dalam batin kita itu berkembang.  Tiap-tiap  daya
>batin  manusia  adalah  kebun yang rindang  dalam  keadaan
>terpendam.Apabila dikembangkan dengan     sempurna  , kebun itu akan berbuah
>yang enak-enak yang penghuninya akan makan sepuas-puasnya didunia dan
>akhirat nanti. Akan  tetapi jika  daya  batin itu disia-siakan atau disalah
>gunakan maka  yang tumbuh  adalah  pohon-pohon  kejahatan,  yang
>mendatangkan  siksa  didunia dan diakhirat.
>
> Sudah  barang  tentu  "pemberi undang-undang" tidak  mungkin  akan
>menetapkan   dan  memberlakukan  undang-undang  tersebut  kecuali sesudah ia
>mengumumkan   berlakunya undang-undang tersebut. Demikian  juga  Allah
>Ta'ala yang telah menciptakan semua undang-undang dan peraturanNya bagi kita
>dan tentu saja Dia tidak  akan membebankan kita suatu tanggung jawab diluar
>kemampuan kitauntuk    memikulnya.  Maka  dari  itu  Pemberi  Undang-undang
>Ilahi  telah  meyakinkan manusia tentang hal ini.
>
>"Allah tidak membebankan kewajiban atas seseorang, kecuali menurut
>kekuatannya"......(QS. 2:286).
>
>Setelah  memberikan  jaminan  ini  Allah  memberlakukan   Undang- undangNya
>kepada kita.
>
>"Baginya  (bagi  jiwanya) adalah ganjaran dari  kebaikan yang ia kerjakan
>dan  untuknya  (untuk  jiwanya)  adalah  hukuman   dari  kejahatan yang ia
>lakukan".....(QS. 2:286).
>
>Jadi   kalau  demikian  apa  sesungguhnya  yang  dinamakan  dengan  "taqdir"
>itu  dan kenapa pula taqdir ini dimasukkan  dalam  salah satu  kerangka
>Rukun Iman dalam keyakinan agama Islam? Tidak  bisa disangsikan  lagi  bahwa
>tujuan agama ialah  memperkenalkan  kita  dengan  hukum-hukum "taqdir" .
>Dalam lingkungan "alam  fisik"  apa  yang  dapat  kita  ketahui  dari
>hukum-hukum  taqdir  itulah  yang  disebut  dengan  ilmu  pengetahuan.
>Sedangkan  hukum-hukum  taqdir yang  bertalian  dengan moral dan alam rohani
>kita disebut  Agama.  Hukum-hukum  ini  adalah tidak berubah-rubah juga
>tidak  mengalami  perubahan dan diatur oleh Tuhan sendiri. "Ukuran tentang
>baik  dan   buruk  itu  ditetapkan oleh Tuhan sendiri". Taqdir itu tidak
>lain  kecuali  "ukuran-ukuran"  yang secara tidak  berubah-rubah  diatur
>oleh Tangan Tuhan.
>
>Tiap  tiap  ciptaan  Tuhan apabila dimasukkan dalam  suatu  ukuran  menjadi
>baik,  sedangkan dalam ukuran yang lain  barang  tersebut dapat  berubah
>menjadi jelek. Batas-batas ini tidak berubah-rubah.  Bilamana  suatu
>barang, apakah itu benda alam  ataukah  daya-daya  batin  manusia  digunakan
>dalam  kadar  atau  ukuran  tertentu  , buahnya  pasti  sesuai  dengan apa
>yang ditentukan  oleh  Kehendak  Ilahi.  Inilah pengertian taqdir yang
>sebenarnya dan dimana taqdir   tersebut   tidak  melarang kita untuk
>menggunakan  "bebas  pilih".  Kita  bebas  sama  sekali menggunakan "taqdir"
>atau  "ukuran"  apa  saja  yang  kita  kehendaki, akan tetapi  sekali  kita
>menentukan     pilihan dan  berbuat menurut pilihan tersebut akibat-akibat
>yang sudah ditetapkan  dan  tak berubah-rubah  itu  pasti mengikuti
>perbuatan  kita. Tuhan tidak hanya menetapkan  batas-batas  bagi
>barang-barang  yang  akan dikerjakan saja, akan  tetapi  disamping itu Tuhan
>juga memberi penjelasan mengenai barang-barang tersebut sehingga  kita
>menjadi mampu untuk melakukan  observasi  terhadap  barang-barang tersebut
>sebelum kita mempergunakannya.
>
>
>bersambung
>
>Wassalamu'alaikum wr.wb.
>Nadri Saaduddin
>Jalan Rambutan B-32,
>Telp. (+62-0765) 93072 Duri 28884
>Riau Daratan INDONESIA
>------------------------------------------------------
>[EMAIL PROTECTED]
>------------------------------------------------
>THERE IS NO GOD BESIDE ALLAH AND MUHAMMAD SAW IS HIS MESSENGER.
>LOVE FOR ALL, HATRED FOR NONE.....!
>Hearken! The Messiah Has Come, The Messiah Has Come.....
>For further detail contact Ahmadiyya Mission  over the world.
>------------------------------------------------
>TAQDIR.txt
>
>
>
>
>---------------------------------------------------------------------
>Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
>Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
>Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
>Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)
>
>
>
>
>
>

---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)




Kirim email ke