hihihi....pak Sunarman ini ternyata (bekas) penikmat serial kho-ping-hoo
-- Chin Yung -- Gan KL dll juga ya...
Saya sangat menikmati tulisan ini sebab terminologi yang dipergunakan
cukup familiar di kepala saya, sambil rada senyum-senyum juga sebab jadi
ingat masa-masa kecanduan kho ping hoo.
Benar-benar amat sangat menarik. Kalau ada tulisan gaya begini (seperti
juga tulisan mas Supriyono dg subject "Tujuh Lembah Menuju Tuhan") jadi
rasa segar nih milis kita.
>----------
>From: R. Sunarman[SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
>Sent: Monday, 22 February 1999 18:06
>To: Tasawuf
>Subject: [Tasawuf] Titik-titik
>
>Pengantar:
>
> Mohon agar teks berikut dipahami dengan penuh kearifan.
> Substitusi yang tepat dengan perkataan kita sendiri akan membantu
> kita untuk memahami perkembangan spiritual dalam tasawuf.
>
>
>LAPISAN GWAKANG
>
>Garis merupakan kumpulan titik-titik.
>Tanpa titik tak 'kan ada garis.
>Titik awal dan titik akhir yang terletak
>di koordinat tak terhingga,
>bila bertemu akan membentuk lingkaran.
>Lingkaran selalu mempunyai titik pusat
>dengan jari-jari tak berhingga pula.
>Apabila lingkaran tersebut diputar,
>berlawanan jarum jam maka
>terbentuklah kulit bola luar, yang berputar.
>
>Di dalam dunia kangow (dunia persilatan)
>lapis luar kulit bola adalah lapisan Gwakang
>lapis yang merupakan dasar-dasar sembari
>memperkuat dan mengandalkan otot
>Lapis ini bisa juga disebut lapis tata cara
>atau lapisan syariat
>
>Seorang murid diibaratkan sebuah titik.
>Skenario Chin Yung dan Gan KL selalu sama
>murid harus melalui lapis ini puluhan tahun
>tanpa mengerti apa hubungan kuda-kuda,
>dengan memasak, cuci piring,
>bebenah halaman dan duduk diam
>yang pasti mereka dilarang turun gunung.
>
>Para Suheng seringkali melatih
>dengan kaku tanpa kompromi
>karena mereka hanya meneruskan
>ajaran yang diterima turun-temurun
>
>Siaw Lim Pay, Kun Lun Pay, Bu Thong Pay dan pay-pay lain
>merupakan ajaran-ajaran kelompok titik-titik
>Di lapis ini para titik hanya mampu
>melihat titik-titik sekelilingnya, karena
>saat itu belum ada pesawat ulang alik
>yang tembus ke jagat tanpa batas.
>
>Setelah puluhan tahun berlatih
>para titik semakin percaya diri
>berbekal buku-buku tangan, otot kapalan
>seringkali mencuri turun gunung
>untuk piebu (bertanding) sesama titik lain
>karena sering menang pula
>maka banyak titik menganggap ilmu
>sudah rampung.
>
>Terkadang dengan hanya menyebut nama Pay
>lawan seringkali sudah mengalah......
>Yang pasti mereka hanya tahu bahwa
>pay merekalah satu satunya perguruan
>yang paling hebat di seantero kangow.
>
>LAPISAN LWEEKANG
>
>Beberapa murid yang kebetulan tekun
>seringkali merasa hawa panas
>bergerak gerak di tien tan, konon
>terletak tiga jari di bawah pusar.
>
>Sayangnya pengarang cerita seringkali
>kikir dalam jumlah murid seperti ini.
>Titik ini pada umumnya masuk
>Ke lapisan kulit kedua ke arah pusat
>yakni lapisan lweekang, di mana
>penemuan atas hubungan cuci piring
>dan duduk diam agak terbuka maksudnya.
>Walaupun masih terbatas pada bukti,
>bahwa tenaga tidaklah tergantung otot.
>Lapisan ini juga bisa disebut lapisan tarekat.
>
>Ada kebanggaan pada lapis ini.
>Titik boleh belajar langsung dari Suhu
>dan sekali kali dapat tugas turun gunung.
>Selain itu murid yang sampai di lapis ini
>bukanlah diangkat, tetapi lebih karena
>kemampuan sendiri merasakan tenaga dalam
>
>Seperti lapis gwakang, suhu meminta
>murid berlatih puluhan tahun pula.
>Walaupun sudah tidak mencuci piring,
>banyak murid bosan karena disuruh
>membaca kitab-kitab bersyair indah,
>ratusan bahkan ribuan kali, yang
>sekilas tanpa hubungan dengan
>ilmu persilatan.
>
>Seperti biasa pengarang membuat
>beberapa murid yang tidak bosanan.
>Dari membaca syair ribuan kali,
>ada murid bisa melihat lapisan gwakang
>mulai tampak seperti segmen lingkaran.
>Dari segmen mulai tergambar, bahwa antar Pay
>ternyata ada kesamaan tujuan di lapisan gwakang
>Selain itu, tien tan tidak lagi sekedar hawa panas
>mulai terasa seperti bola kecil yang bisa bergerak
>
>Ajaran di balik gunung selalu ada gunung
>mulai dapat dipahami secara makna
>bukan karena ajaran Suhu
>
>Murid yang bosan, merasa ilmu sudah cukup
>Banyak mereka turun gunung dan menjajal ilmu
>bahkan ada yang mendirikan Pay sendiri
>menjadi Suhu menyebarkan ilmu gwakang
>atau menjadi tabib, peramal di kota raja
>menjadi terkemuka dan terkenal di dunia kangow
>Dan menganggap lapis ini adalah lapis terdalam..
>
>LAPISAN SINKANG
>
>Murid yang tidak bosanan, sering melamun.
>Sesuai skenario pengarang, murid ini
>masuk kelapis ketiga, lapisan sinkang
>Karena banyak melamun lapisan ini
>seringkali disebut lapisan Hakikat.
>Lagi-lagi pengarang kikir dalam jumlah
>dari puluhan lapisan lweekang
>di sini jumlahnya hanya satu dua
>dan sering disebut Supek atau Paman guru
>
>Di lapis ini mereka berbincang duduk
>dengan Su Chow (kakek guru) yang berusia lanjut
>Su Chow mengeluarkan kitab di balik jubah
>sebagai bahan lamunan untuk diterawang
>Kitab malah lebih berisi mengenai kisah-kisah
>titik dalam diri yang harus dicari,
>isinya malah tidak mencantumkan Pay.
>Pencarian tanpa disuruh, tapi disadari pula
>oleh murid dapat puluhan tahun.
>
>Sayangnya karena sering melamun
>lapis ini banyak bahaya pula
>Ada saja murid dilapis ini yang tetap bosanan
>dengan titik-titik yang harus dicari
>Ada yang mencuri Kitab untuk belajar sendiri
>karena yang diinginkan ilmu silat yang sakti
>atau yang terganggu jiwanya seperti
>Awyang Hong, Oey Yok Soe atau Ciu Pek Thong
>dengan Sin Kang yang tinggi, tetapi
>tingkah lakunya tampak aneh bagi dunia Kangow
>Dan seringkali menganggap lapisnya
>adalah lapis terdalam
>
>Bagi murid yang beruntung,
>dari titik ini bisa menghayati segmen-segmen luar,
>mulai membentuk gambaran segmen makin nyata
>yang ternyata berlapis.
>Menemukan bahwa ternyata pusat tenaga,
>bukanlah tientan, melainkan pikiran
>Ada gambaran ternyata setiap titik juga
>memiliki titik pusat masing-masing.
>Ternyata ilmu silat bukanlah tujuan,
>tenaga dalam ternyata punya tenaga inti,
>bukan dibuat dan tenaga itu memang sudah ada,
>terpusat di akal.
>
>Menurut para pengarang, murid di lapis ini
>terhempas di lembah kebingungan, antara
>gambaran segmen yang sepertinya memiliki pusat
>dengan diri yang ternyata memiliki pusat pula
>
>Dalam kebingungan, murid lapis ini
>sering memilih diam, menyendiri
>atau sekali berkata sering berbeda-beda
>antara kata satu dengan yang lain
>terkadang berkata titik-titik pusat bersatu
>terkadang berkata titik pusat berbeda
>masih bertanya pula apakah
>ada lapis terdalam setelah ini..
>Kata katanya sering membuat kaget
>kalangan dunia kangow, bahkan
>ada pula yang menganggap mereka
>sudah jauh tersesat dari lapisan gwakang
>
>LAPISAN SIU LIAN
>
>Setelah terombang-ambing dalam kebingungan
>pada usia relatif mendekati 100 tahunan,
>dengan janggut dan alis yang memutih
>satu dua murid lapisan Sinkang, memutuskan
>tidak berhubungan dengan dunia kangow
>diam di puncak gunung untuk ber Siu Lian (bertapa).
>
>Lapisan ini bisa dikatakan lapisan kekapokan
>kapok mengira lapisannya adalah yang terdalam
>setelah melewati tiga lapis terdahulu
>kapok salah terhadap pemahaman kitab
>karena selalu bertemu dengan makna baru
>kapok membaca kitab lebih banyak
>karena isinya semakin tidak dimengerti
>kapok mengangankan lapis-lapis
>karena segmen2 lingkaran terlihat semakin lebar
>kapok berbicara kitab banyak-banyak
>karena lapisan gwakang tak akan pernah mengerti
>
>Dengan masuk ke dalam kamar dan duduk diam
>murid dilapis ini menemukan Kitab yang tidak
>tertulis secara aksara, berlembar-lembar
>terpusat di dalam dirinya.
>Saat ini murid dapat bertemu langsung dengan
>suhu sejati yang sekaligus titik pusat dirinya.
>Pertemuan bukan lagi secara kiasan,
>titik pusat itu ternyata wujud dalam kepastian.
>Dilapis ini tidak ada lagi guru wujud
>seperti Su Chow, atau Kitab Pay, kini mereka sama
>sebagai pejalan kaki menapak puncak gunung Thay San.
>
>Di tengah tangis keharuan dahsyat menemukan suhu sejati
>ada murid dilapis ini yang sontak ingin bercerita
>pada murid lain, berkata inilah titik pusat bola....
>yang sering terkisah di lapisan gwakang.
>Larut dalam kegembiraan tak terhingga
>memang murid ini seakan terlupa, bahwa
>titik yang ditemukan adalah titik dalam diri
>yang bukan titik pusat bola.
>
>Bagi murid yang tidak tergesa,
>mereka menemukan titik-titik yang dapat
>ditarik dari setiap lapis dan segmen
>dan menjadi garis-garis yang menuju kepada titik pusat.
>Titik yang ditemukan ternyata merupakan
>titik awal yang tersambung lurus ke titik
>pusat yang berada di sana tanpa jarak terhitung
>
>Dari sini pula murid sampai kepada
>pemahaman sejati kenapa Pay-Pay
>memang merupakan garis-garis
>sama-sama mengarah ke satu titik.
>
>Yang menakjubkan ternyata garis-garis,
>terpancar dan bersumber dari titik pusat terus menerus,
>bergerak, tanpa awal dan tanpa akhir.
>Murid di titik ini hanya menemukan awal
>dan arah garis tanpa tahu lapis-lapis selanjutnya.
>Di sini murid terhempas ke dataran rendah
>tanpa pengetahuan, tanpa kepandaian
>bukan apa-apa, apalagi siapa ...
>Dia hanya menjadi suatu titik yang sangat
>maha kecil dari bola yang maha besar
>berjari-jari tak terhingga, berpusat tak berhingga
>itu adalah titik maha kecil yang sekaligus
>maha besar pula.
>Lapisan ini bisa disebut sebagai lapisan ma'rifat.
>
>Di sini sering timbul kata-kata aneh
>membuat linglung lapisan gwakang
>kosong itu isi
>aku tidak ada
>dia itu ada
>aku adalah Dia
>Dia hanya Titik
>sedang aku adalah kamu
>
>TOKOH-TOKOH PAY
>
>Agar suatu cerita laris dibaca
>perlu adanya satu tokoh
>yang kadang tidak harus sesuai urutan lapis
>atau cerita orang banyak
>agar cerita berakhir dengan happy end.
>
>Thio Bu Kie salah satu tokoh
>dengan alasan tulang berbakat baik
>maka tokoh ini bisa menemukan
>kitab secara keberuntungan
>membuat kagum para Su Chow.
>
>Dalam satu kisah
>tokoh tidak boleh ada dua
>ini kesepakatan pengarang dan pembaca
>karena tokoh bisa jadi teladan atau panutan
>jadi tokoh boleh tidak ikut alur umum dan itu sah-sah saja.
>Tokoh umumnya selain sakti juga tanpa cela
>
>Masing-masing pay punya satu tokoh
>yang sudah bisa masuk lebih dalam dari lapisan Siu Lian
>Karena lapisan Siu Lian adalah batas akhir
>yang bisa dimengerti para murid,
>maka tidak ada yang pernah tahu pula
>lapisan tempat kunjungan para tokoh.
>Ini disebut makam perjalanan sang tokoh.
>
>Seringkali murid pay di lapisan gwakang
>berkelahi mempertahankan tokoh pay mereka
>mereka menganggap hanya tokohnya
>yang tersakti di kalangan kangow.
>Padahal bila mereka tahu, bahwa
>para tokoh tokoh pay bila bertemu
>seringkali berangkulan terharu.
>
>Adapula bahaya di murid lapisan Siu Lian
>bila menganggap dirinya sama dengan tokoh
>walaupun memang bisa masuk ke lapis lebih dalam
>sama dengan tokoh berarti sudah hilang
>dari percaturan dunia kangow.
>
>KITAB RAHASIA
>
>Para tokoh dari makam-makam mereka
>sadar tentang bola berputar dengan pusatnya
>Titik-titik di setiap lapisan ternyata
>bola yang berputar dengan titik pusatnya pula.
>Ada yang berputar berlawanan arah jarum jam
>Ada pula yang searah jarum jam.
>Karena itu semua titik saling tarik-menarik atau tolak-menolak.
>Ada yang tertarik ke arah lapis lebih dalam
>tetapi seringkali hanya berpindah di lapis yang sama.
>Bahkan ada banyak yang sama sekali tidak berputar,
>dan hanya pasrah ikut putaran bola utama.
>
>Karena sadar tidak semua murid pay
>punya nilai bagus di dalam geometrie
>apalagi lapisan yang berbeda-beda, maka
>tokoh memutar akal dalam penyampaian ilmu pay
>Setiap kata dibedakan disesuaikan lapisan tempat murid
>malahan walaupun dalam lapis yang sama
>ilmu disampaikan sering berbeda penyampaiannya
>Sehingga ditemukan kata-kata yang tampaknya beda
>pada saat disatukan dalam Kitab rahasia.
>Yang akan menjadi sumber sengketa
>Di kalangan kangow di lapisan gwakang.
>
>Tadinya kitab kitab pay ini tersusun rapi di kamar kitab,
>setiap lapis diberikan kitab yang sesuai.
>Tetapi karena waktu berjalan pesat,
>banyak kitab yang hilang dicuri ataupun rusak
>Ada masanya para murid berupaya mengumpulkan
>menjadi satu kembali segala kitab tercecer
>yang hilang diusahakan ditulis kembali seingatnya
>Akibatnya tidak jelas lagi mana kitab
>yang sesuai lapisan murid berada.
>
>Ini memang terkadang membingungkan
>bagi sebagian murid pay membaca kitab
>kecuali pada saat pindah ke lapisan,
>lebih dalam itupun bila tekun dan sabar.
>
>Ada hari pada saat tokoh tokoh pay moksa
>Di saat pay menjadi perguruan besar,
>Kitab tokoh-tokoh dipersengketakan
>Sebagai ajaran palsu atau bukan.
>
>KAUM KAY PANG
>
>Tokoh pay sering menemukan murid dari luar
>Karena bakat bertulang bagus
>murid ini diangkat tanpa melalui pay.
>Di kemudian hari murid-murid ini
>membentuk kelompok baru, kita sebut saja Kay Pang
>
>Para pay di lapisan gwakang sering tidak
>menganggap kelompok ini.
>Karena tidak memiliki pay, juga lakunya
>yang sering kali tidak umum
>memakai baju tambalan seperti pengemis
>
>Murid kaypang umumnya langsung
>berawal di lapisan lweekang
>bagi yang memang berbakat bagus
>terkadang lebih cepat masuk ke lapis lebih dalam
>bagi yang tidak memang sering kali
>berputar putar di lapis sama
>serta membuka kaypang baru
>tetapi baju tambalannya lebih bersih
>
>Murid kaypang yang bagus
>di lapisan sinkang atau siulian
>ada yang menulis kitab sebagai ajaran
>Kitab-kitab ini di kemudian hari
>juga menjadi panutan bagi murid-murid
>di segala lapisan, kecuali sebagian lapisan
>gwakang yang menganggap kitab itu
>tidak layak untuk dibaca.
>
>Murid kaypang yang mandek
>kembali pindah ke kota raja
>membuka kaypang baru, atau
>menjadi tabib atau peramal terkenal.
>
>PENUTUP
>
>Para suchow dari pertapaannya
>seringkali menghela nafas panjang
>mendengar kisah di lapisan gwakang
>yang beragam rupa.
>
>Walaupun bertapa, ada beberapa suchow
>lapisan siulian yang bisa berada serentak
>di lapisan lain tanpa beranjak.
>Karena itu mereka bisa tahu kisah-kisah
>yang seharusnya rahasia, seringkali
>dibincangkan terbuka.
>Kisah yang sama, yang baru mereka
>peroleh dari perjalanan puluhan tahun.
>
>Mereka sebenarnya prihatin, karena kisah
>yang tidak sesuai lapisannya, akan lebih
>banyak kerugiannya daripada
>manfaat yang diperoleh.
>
>Tetapi tatkala kembali merenung,
>ternyata hal itu tidaklah bisa dihindarkan
>karena itu memang unsur perputaran
>yang memang silih berganti.
>Dan akan selalu ada.
>
>Akhirnya para suchow sepakat
>kembali duduk diam, menanti
>pintu terbuka ke makam berikutnya
>yang tetap berupa misteri.
>
>---------------------------------------------------------------------
>Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
>Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
>Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
>Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)
>
>
>
>
>
>
---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)