Bismillahirrahmanirrahim, Assalamu'alaikum wr.wb. MENCOBA MEMAHAMI MASALAH TAQDIR......4/5 Umumnya dikalangan kita, pembicaraan tentang taqdir ini dikaitkan artinya dengan penetuan nasib baik dan buruk seseorang sebelum ia diciptakan oleh Allah. Pengertian taqdir beginilah yang lazim dianut oleh khalayak ramai dan juga oleh Ulama-ulama Islam kenamaan dan pengertian yang beginilah yang sering kita terima dari mereka-mereka itu. Kendatipun pengertian demikian tidak dikenal oleh Al-Qur'an, juga hadits-hadits Rasulullah SAW ,bahkan kamus-kamus Bahasa Arab sekalipun, banyak juga diantara kita menganut keyakinan tersebut sehingga bila kita gagal meraih sesuatu kitapun sering menghibur diri kita dengan kepasrahan bahwa memang demikianlah keadaannya nasib kita dan yang demikian itu telah ditentukan buat kita oleh Yang Mahakuasa sejak dahulunya. Demikianlah suratan nasib....dan kewajiban kita hanya menjalani..... Timbulnya pemahaman bahwa nasib baik dan buruk manusia itu telah dicptakan semenjak dahulu adalah karena kelirunya pemahaman kita tentang hal baik dan buruk. Sebenarnya bukan Allah yang menjadikan nasib manusia itu buruk atau menimpakan keburukan kepada manusia itu tetapi "baik dan buruknya keadaan itu" mengacu kepada undang-undang atau taqdir yang telah ditetapkan Allah dan tiada perubahan tentang taqdir Allah itu. Untuk penjelasan ini kita bisa memahami bahwa Allah menciptakan manusia itu telah diperlengkapinya dengan kekuatan dan daya yang dapat digunakannya dalam batas-batas tertentu dan penggunaan kekuatan itulah disatu pihak dapat menimbulkan kebaikan dan dilain pihak lagi dapat menimbulkan keburukan. Misalnya begini, Allah memberikan kemampuan berbicara kepada manusia yang dapat digunakan oleh manusia dengan "kebebasan memilih baginya" untuk pembicaraan yang baik dan benar atau untuk keburukan berupa pembicaraan yang palsu dan kotor. Untuk melakukan ini Allah telah memberikannya kekuatan dan daya yang penggunaannya diserahkan kepada manusia dengan "kebebasan memilih baginya" kearah keadaan mana kekuatan itu digunakannya. Dan sesungguhnya banyak sekali kekuatan dan kemampuan yang diberikan Allah kepada kita yang dapat kita gunakan bagi kebaikan atau keburukan. Oleh karena itu persoalan apakah Allah itu yang menciptakan yang baik dan yang buruk , ini hanya timbul karena karena salah paham kita tentang hal yang baik dan buruk itu. Perbuatan yang sama dapat menjadi perbuatan utama dan baik pada suatu peristiwa tetapi dapat pula menjadi perbuatan yang buruk pada peristiwa yang lain. Memukul orang adalah baik jika tujuannya membela diri atau membela kaum yang lemah, tetapi memukul orang dengan tujuan menyerang adalah suatu kejahatan yang jelas adalah tidak baik. Jadi baik dan buruknya suatu perbuatan adalah tergantung dari tujuan yang terkandung dalam perbuatan itu. Oleh karena itulah maka kejahatan itu dikatakan juga kezaliman yang para ahli kamus telah mendefinisikannya sebagai: "Penempatan suatu barang yang tidak pada tempatnya , tidak menurut ukurannya "qadarnya" baik kurang atau melebihi batas yang ditentukan untuk itu dengan menyimpang dari tempat dan waktu yang ditentukan untuk itu"......(Imam Raghib). Jadi dengan penggunaan kekuatan dan daya yang telah diberikan Allah kepada kita dengan cara yang baik, pada waktu yang tepat, ditempat yang betul adalah perbuatan utama dan kebaikan. Akan tetapi penggunaan daya dan kekuatan yang sama dengan cara yang salah, pada waktu yang tidak tepat, ditempat yang tidak ditentukan untuk itu adalah perbuatan tercela atau suatu kejahatan. Qur'an sama sekali tak membahas soal terciptanya nasib baik dan buruk dari manusia sebelumnya . Qur'an hanya menguraikan tentang terjadinya langit dan bumi serta isi diantara keduanya. Qur'an menguraikan tentang pemberian kemampuan dan penganugerahan kekuatan kepada manusia. Qur'an juga menerangkan bahwa manusia dapat menggunakan kemampuan itu kekuatan itu dalam batas-batas tertentu , sebagaimana sekalian makhluk ditempatkan dalam batas- batas dan ukuran-ukuran tertentu, dan itulah yang disebut dengan "taqdir". Tetapi Qur'an tak menerangkan sama sekali pengertian "penentuan nasib baik dan buruk manusia" oleh Allah sebelum Dia menciptakan manusia itu....... Ada memang dikalangan Ulama-Ulama Islam mengutip ayat berikut ini sebagai dalil yang menerangkan bahwa Allah adalah Pencipta perbuatan manusia sehingga kendatipun manusia yang melakukan perbuatan tertentu sesungguhnya Allahlah yang berbuat demikian. Mereka mengetengahkan ayat berikut ini. "Dan Allah itu Yang menciptakan kamu, dan apa yang kamu buat"......(QS. 37:96). Menurut bahasa Arab "apa yang kamu buat" ialah "ta'malun" berasal dari kata 'amal yang artinya "perbuatan atau buatan". Maka dari itu kata "ta'malun" kadang-kadang diterjemahkan dengan "apa yang kamu kerjakan" , bukan "apa yang kamu buat", dan dari situ mereka simpulkan bahwa Allah adalah Yang menciptakan perbuatan manusia, dan oleh karena perbuatan itu ada yang baik dan ada yang buruk, maka mereka katakan Allahlah Yang membuat perbuatan baik dan buruk manusia itu. Akan tetapi bila kita membaca ayat itu dan melihat hubungannya dengan ayat-ayat itu sebelum dan sesudahnya, terang sekali bahwa perkataan "ma ta'malun" berarti "apa yang kamu buat" bukan "apa yang kamu kerjakan". Demikian juga pada ayat itu sama sekali tidak membicarakan perbuatn baik dan perbuatan buruk manusia, melainkan membicarakan berhala dan batu yang disembah oleh manusia pada zaman Nabi Ibrahim a.s. QS. 37:91-93 menerangkan perbuatan Nabi Ibrahim menghancurkan berhala dan batu yang disembah oleh kaumnya. QS. 37:94 menerangkan bahwa tatkala orang-orang yang menyembah berhala dan batu itu melihat bahwa berhala mereka dihancurkan, maka mereka mendatangi Nabi Ibrahim. QS. 37: 95-96 menerangkan alasan Nabi Ibrahim menentang penyembahan berhala yang berbunyi sbb: "Apakah kamu menyembah barang yang kamu pahat itu? Dan Allah itu Yang menciptakan kamu dan apa yang kamu buat". Nah, kalimat yang terakhir yang berbunyi "apa yang kamu buat", terang sekali bahwa yang dimaksud adalah "berhala yang mereka buat", dan alasan Nabi Ibrahim menyalahkan perbuatan mereka juga cukup jelas, bahwa apa yang dipahat oleh kaumnya itu yakni batu yang dijadikan berhala itu pasti bukan Allah, karena sesungguhnya Allah itulah Yang menciptakan manusia dan batu yang dibuat oleh manusia jadi berhala itu.....Keterangan ini umumnya disetujui juga oleh beberapa mufassirin kenamaan. Bahwasanya menurut Al-Qur'an Allah itu adalah "Sebab Pertama dan Sebab Terakhir" dari segala sesuatu, tetapi ini tidaklah berarti bahwa Allah itu Yang menciptakan perbuatan manusia. Memang benar bahwa Allah Yang menciptakan manusia, dan juga Allah Yang menciptakan keadaan dimana manusia itu hidup dan bekerja, namun Allah telah memberikan kebebasan kepada manusia untuk memilih perbuatan apa yang ia lakukan, yang dpat ia lakukan dalam batas-batas tertentu, sebagaimana segala kekuatan dan kemampuan manusia yang diberikan Allah itu juga dalam batas-batas tertentu, undang-undang tertentu dan ukuran-ukuran tertentu yang kita sebut dengan "taqdir" itu. Al-Qur'an menjelaskan adanya kebebasan diberikan kepada manusia untuk memilih apa yan akan dilakukannya: "Kebenaran itu datangnya dari Tuhan kamu, maka barang siapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir"......(QS. 18:29). Oleh karenanya manusia mempunyai kebebasan untuk menjalankan atau tidak menjalankan sesuatu, maka manusia bertanggung jawab atas perbuatan yang ia lakukan dan ia menanggung segala akibat dari perbuatan yang ia lakukan itu... Banyak sekali timbul kesalahpahaman dikalangan ulama-ulama Islam berkenaan dengan pembicaraan tentang kehendak Allah dan kehendak manusia. Sebenarnya segala kekuatan dan kemampuan yang dianugerahkan Allah kepada manusia berasal dari sifat-sifat Allah yang Mulia. Sekalipun demikian, semua sifat manusia yang jelas tidak sesempurna sifat-sifat Allah itu hanya dapat digunakan dalam batas-batas tertentu. Allah adalah Yang Mahamelihat dan Mahamendengar sedangkan manusia hanya melihat dan mendengar dalam batas-batas dan ukuran-ukuran yang diberikan oleh Allah. Maksudnya sifat penglihatan dan pendengaran manusia belum lagi apa-apa jika dibandingkan dengan penglihatan dan pendengaran Allah Yang Mahasempurna dan tidak terperikan itu. Demikian juga penggunaan sifat-sifat melihat dan mendengar yang ada manusia bergantung kepada pembatasan-pembatasan dan hukum-hukum tertentu yang telah ditentukan oleh Allah. Pengetahuan manusia akan barang- barang, pendayagunaan kekuatan manusia atas barang-barang dan pelaksanan kehendak manusia atas barang-barang itu semuanya tergantung kepada pembatasan dan hukum-hukum tertentu..... .......bersambung. bersambung Wassalamu'alaikum wr.wb. Nadri Saaduddin Jalan Rambutan B-32, Telp. (+62-0765) 93072 Duri 28884 Riau Daratan INDONESIA ------------------------------------------------------ [EMAIL PROTECTED] ------------------------------------------------ THERE IS NO GOD BESIDE ALLAH AND MUHAMMAD SAW IS HIS MESSENGER. LOVE FOR ALL, HATRED FOR NONE.....! Hearken! The Messiah Has Come, The Messiah Has Come..... For further detail contact Ahmadiyya Mission over the world. ------------------------------------------------ TAQDIR.txt --------------------------------------------------------------------- Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED] Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED] Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected] Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)
