Asslamu'alaikum wr. wb.

Syari'at dalam arti yang luas memiliki tiga dimensi yang sama
pentingnya, yaitu: 1) Islam, 2) Iman, 3) Ihsan. Hal ini didasarkan pada
hadis riwayat Muslim (Muslim Abu Husain ibn Hajaj al-Naisaburi, Sahih
Muslim, juz I (Beirut: Dar al-Fikr, 1992), hal.29) yang artinya: ' Wahai
Muhammad ceritakan kepadaku tentang Islam. Rasul menjawab: "Hendaknya
engkau bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, bahwa Nabi Muhammad
adalah utusan Allah, mendirikan Shalat, mengeluarkan Zakat, berpuasa di
bulan Ramadhan, dan menunaikan ibadah Haji jika mampu." Ceritakan
kepadaku tentang iman. Rasul menjawab: "Hendaknya engkau beriman kepada
Allah, kepada malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab suci-Nya, para
rasul-Nya, hari akhir, dan hendaknya engkau beriman dengan ketentuan
Allah, baik yang baik maupun yang buruk." Ceritakan kepadaku tentang
Ihsan. Rasul menjawab: "Hendaklah engkau beribadah kepada Allah
seolah-olah engkau melihat-Nya. Apabila engkau tidak mampu melihat-Nya,
maka sesungguhnya Allah melihatmu.".'
Dimensi Islam mempunyai lima penyangga (rukun): Syahadat, Shalat, Zakat,
Puasa Ramadhan dan Haji. Sedangkan dimensi Iman memiliki enam penyangga
(rukun) yang harus diyakini, yaitu: Allah, Malikat-malaikat-Nya,
Kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, hari Akhir dan Taqdir.
Dimensi Islam dibahas secara mendalam dalam buku-buku tentang Ilmu Fiqh.
Dimensi Iman dibahas secara mendalam dalam buku-buku (disiplin) ilmu
Tauhid dan ilmu Kalam. Sedangkan dimensi Ihsan diulas secara lebih
mendalam dalam buku-buku yang termasuk dalam disiplin ilmu Akhlaq dan
Tasawuf.
Syari'at Islam yang semula hanya sederhana sekali (sebagaimana yang
"disosiodramakan" oleh malaikat Jibril dengan Nabi Muhammad tersebut),
telah berkembang menjadi khazanah ilmu keislaman yang sangat luas. Dapat
dibayangkan misalnya asala muasal ajaran shalat, (perintah nabi)
"Shalatlah kalian sebagaimana kalian menyaksikan shalatku", pada
perkembangan berikutnya telah muncul kitab-kitab tentang shalat yang
sangat banyak.
Demikian juga halnya dengan pernyataan nabi tentang Ihsan tersebut. Pada
perkembangan berikutnya juga melahirkan banyak pendapat, tentang
bagaimana metode (tariqat) untuk dapat menyembah Allah seakan-akan
melihat-Nya, atau setidaknya memiliki kesadaran, bahwa Allah senantiasa
mengawasi dan melihat kita. Dari sini lahir banyak sufi yang kemudian
mengajarkan (tarikatnya) kepada murid-muridnya, sehingga banyak tarikat
dan banyak kitab tasawuf sebagaimana yang dapat kita saksikan sekarang
ini.
Demikian sekedar mengisi mailist ini.

Wassalam,
Agus Haryono


---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)




Kirim email ke