Assal�mu'alaikum warahmatull�hi wabarak�tuh. Di dalam memahami sistem alam semesta, kita melihat takdir dan kehendak bebas manusia. Keduanya seolah-olah bertentangan. Orang yang melihat bahwa dunia ini diatur oleh takdir, menyangkal adanya kehendak bebas. Sebaliknya, orang yang melihat adanya kehendak bebas manusia, menyangkal eksistensi takdir. Orang yang melihat keduanya, bingung untuk merumuskan bagaimana kedua hal yang bertentangan itu hadir secara bersamaan. Baiklah, untuk sementara kita simpulkan bahwa keduanya ibarat dua sisi dari uang logam seratus perak. Kalau kita melihat sisi yang satu, kita tidak melihat sisi yang lain. Begitulah kemampuan 'manusiawi' kita. Jadi sebenarnya, memandang takdir saja dengan mengabaikan kehendak bebas, atau memandang kehendak bebas saja tanpa menghiraukan takdir, kita hanya memahami sebagian dari realita. Ketika khalifah Umar hendak bergabung dengan pasukannya pada suatu kesempatan, ia menerima khabar bahwa wabah penyakit sedang melanda pasukannya. Setelah berunding dengan para pembantunya, ia memutuskan untuk membatalkan niatnya. Seseorang bertanya, "Apakah ini berarti melarikan diri dari takdir yang telah ditetapkan Allah?" Umar menjawab secara mengejutkan, "Ya. Memang meloloskan diri dari takdir. Namun biarpun kita lolos dari takdir Allah yang satu, kita sekaligus masuk ke takdir yang lain. Meskipun kita menggunakan kehendak bebas kita sendiri-sendiri, Allah-lah yang menentukan Kehendak Universal-Nya. Apakah engkau membawa untamu merumput di padang hijau atau meninggalkannya di atas batu-batuan, semuanya berlangsung menurut kehendak Allah." Bang Nadri dalam rangkaian tulisannya "Memahami taqdir" menguraikan panjang lebar tentang hal itu, tetapi belum memuaskan kehausan saya. Karena itu saya mencoba menggunakan pendekatan lain [menggunakan sudut pandang lain] untuk menerangkan apa yang saya rasakan. Pernahkah anda melihat buku-buku cerita petualangan interaktif? Anak-anak suka membacanya. Di dalam buku itu, ketika petualangan mencapai tahap tertentu, pembaca dipersilakan memilih dua atau tiga alternatif. Kalau memilih alternatif A, pembaca dipersilakan membaca kelanjutannya di halaman 21; kalau memilih B, kelanjutannya ada di halaman 32. Apapun pilihannya, pada akhir lorong cerita itu pembaca masih diberi alternatif-alternatif untuk jalan petualangan berikutnya. Demikian seterusnya, pembaca selalu disodori dengan pilihan-pilihan. Makin tebal bukunya, makin banyak pilihan-pilihan yang tersedia. Pilihan apapun yang diambil, pembaca memperoleh pengalaman yang sama-sama mengasyikkannya. Dengan analogi buku petualangan tersebut, saya MENDUGA bahwa hidup ini merupakan jaringan pilihan-pilhan yang masing-masing membawa konsekuensinya sendiri. Kehendak bebas manusia bukanlah kehendak yang sebebas-bebasnya, melainkan hanya terbatas pada memilih salah satu dari opsi-opsi yang disediakan oleh Allah. Takdir adalah ketetapan berupa pembatasan-pembatasan, menyangkut jumlah dan jenis opsi-opsi yang tersedia, serta akhir cerita dari setiap pilihan. Takdir itu ditetapkan bagi tiap-tiap individu manusia, tiap individu mempunyai takdir yang berbeda dari individu-individu lainnya. Misalnya, biarpun berusaha sekeras apapun, opsi yang mengarahkan saya untuk melewati fase kehidupan sebagai seorang nabi, koq rasanya tidak ada. Berbeda dari buku petualangan tersebut, takdir dan tersedianya opsi-opsi pada manusia umumnya tidak jelas [ghaib], opsi-opsi lebih beragam jumlah dan jenisnya. Selain itu, seorang pembaca buku petualangan, setelah sampai pada akhir cerita yang mungkin tidak enak, ia dapat kembali ke awal buku dan memilih alternatif yang lain. Dalam kehidupan manusia, kita tidak dapat berjalan mundur seperti itu; apapun pilihan kita, konsekuensinya harus kita terima, dan hidup terus berjalan. "Andai saja saya diberi kemampuan untuk membaca semua opsi-opsi yang ada....." Saya dimarahi mursyid karena berkata demikian. "Sekiranya engkau sudah tahu, maka engkau akan berbalik berkata, 'Sebetulnya lebih baik saya tidak usah tahu.'" Jadi, bagaimana menghadapi hidup ini sebaiknya? Jalani saja hidup ini, ikuti petunjuk-petunjuk dari Kitab Suci, dan selalu mohon "Tunjukkanlah aku jalan yang lurus, jalan mereka yang Engkau beri nikmat, bukan jalan mereka yang Engkau murkai, bukan jalan mereka yang sesat." Apabila kita selalu mengasah potensi internal kita sehingga mampu menangkap isyarat-isyarat berupa 'petunjuk' yang dimaksudkan dalam doa tersebut, insya Allah, apapun yang terjadi, pilihan apapun yang ditunjukkan-Nya kepada kita masing-masing atas opsi-opsi yang tersedia, kita tetap berada dalam naungan ridha Allah. Amiin. Wassal�mu'alaikum warahmatull�hi wabarak�tuh. RS --------------------------------------------------------------------- Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED] Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED] Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected] Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)
