Assal�mu 'alaikum warahmatull�hi wabarak�tuh.

Untuk apa belajar tasawuf?

Pertanyaan "Untuk apa belajar tasawuf?" pernah dibahas di milis ini
beberapa waktu berselang. Saya ikut-ikutan nulis, tetapi saya
sendiri tidak puas dengan jawaban itu. Sekarang saya ingin agar
pertanyaan itu dikaitkan dengan tujuan hidup. Apa tujuan hidup kita?
Bermacam-macam jawaban dapat diberikan, tetapi sejauh ini belum juga
ada yang memuaskan. Bahkan untuk sementara saya cenderung untuk
berpendapat bahwa hidup ini tanpa tujuan. 

Untuk menghindari kesimpangsiuran, baiklah saya berikan definisi
perkataan itu dalam pikiran saya yang saya jadikan asumsi dasar
untuk mengambil kesimpulan. "Tujuan" adalah sasaran akhir dari suatu
rangkaian perbuatan yang terencana. Dalam hal 'tujuan hidup', kita
menghadapi kenyataan bahwa hidup ini bukanlah kehendak kita sejak
semula. Semula kita ini tiada, lalu tiba-tiba terlahir dan hidup,
untuk selanjutnya kembali lagi menjadi tiada. Rangkaian proses
tiada-ada-tiada ini sama sekali bukan merupakan kehendak kita; oleh
karena itu maka kita tidak dapat menyebut bahwa hidup ini merupakan
rangkaian perbuatan yang terencana dari pihak kita sebagai manusia.
Hidup ini merupakan rencana Allah. Itulah argumentasi saya mengapa
saya katakan, kita sendiri tidak tahu apa tujuan hidup kita, kita
tidak merencanakannya sendiri sebelum kita memulai kehidupan ini.

Dari argumentasi di atas, kiranya dapat ditarik kesimpulan bahwa
sebenarnya kita ini bukanlah kita sendiri; kita adalah ciptaan
Allah, kita hidup untuk menjalankan misi kita masing-masing sesuai
dengan tujuan penciptaan alam semesta. Setelah selesai menjalankan
misi itu, kita akan dikembalikan ke ketiadaan, alias masuk kubur.
Jabariyah? Jangan buru-buru beranggapan begitu! Ambillah sisi
positif dari faham ini. Bagaimana pun, kita perlu menyadari peran
kita sebagai makhluk agar dapat menempatkan diri dengan
sebaik-baiknya. Salah satu tujuan kita mempelajari tasawuf adalah
untuk mendapat jawaban yang memuaskan.

Dalam mempelajari tasawuf, kita bertolak dari hasrat kita yang
paling mendasar, yaitu keinginan untuk memperoleh kebahagiaan,
ketenteraman, kedamaian atau kata apapun yang mirip dengan itu,
dalam dimensi lahiriah maupun batiniah. Ketika kita beranjak memulai
pencarian ke arah itu, kita menemukan gaya-gaya apa yang bekerja di
sekitar kita yang dapat mendekatkan atau menjauhkan kita dari
kebahagiaan itu. 

Kita menemukan dalam diri kita ada nafsu ammarah (kehendak ego,
nafs-al-ammarah): nafsu yang menuntut pemuasan dalam pemilikan
materi, kekuasaan dan hasrat seksual. Kita sudah belajar dari
pengalaman bahwa pemuasan nafsu ini tidaklah menghasilkan kepuasan
dalam arti yang sebenarnya. Makin dituruti, nafsu ini menuntut
pemuasan yang lebih besar, sedangkan dalam kenyataannya kita tidak
selalu dapat memenuhinya; maka kita jatuh ke dalam kekecewaan,
kemarahan dll. Dan ini sama sekali bukanlah kebahagiaan.

Kita mencari lebih lanjut, sampai kita menemukan bahwa agama
mengajarkan kita untuk berserah diri atau mencari ridha Allah.
Inilah yang kita sebut kehendak ilahi (nafs-al-muthmainnah). Dengan
mengikutinya, kita akan dibawa menempuh jalan untuk mencapai
kebahagian yang sejati; kebahagian yang sekali kita merasakannya,
kita tak rela ditukar dengan apapun; kebahagiaan yang untuk
memperoleh dan mempertahankannya kita rela kehilangan apapun yang
kita miliki: kita rela kehilangan harta, kedudukan sosial,
kekuasaan, kesehatan, bahkan nyawa sekalipun; kita tidak lagi peduli
apakah kita ditempatkan di sorga atau neraka.

Tetapi jangan ngelantur!  Jangan dulu mengira bahwa tasawuf
mengharuskan kita untuk meninggalkan pekerjaan yang kita hadapi
sekarang. Anda duduk di pemerintahan dan memegang kekuasaan? Silakan
jalan terus biarpun anda mempelajari tasawuf. Anda malang-melintang
di bidang perniagaan dan bergelimang harta? Silakan jalan terus.
Anda beristeri atau bersuami dan sering melakukan aktivitas seksual?
It's OK. 

Nafsu ammarah bukan untuk ditinggalkan sama sekali, melainkan untuk
dikendalikan. Kehidupan Nabi Muhammad dan para Sahabat menunjukkan
bahwa mereka tidak meninggalkan atribut keduniawian itu. Tasawuf
membiarkan kita tetap pada posisi kita masing-masing. Yang dituntut
adalah perubahan perilaku kita, perubahan sikap mental kita; jangan
lagi membiarkan diri kita dikuasai oleh nafsu ammarah atau kehendak
ego kita. Kitalah yang harus menguasai nafsu itu. Dengan membebaskan
diri dari cengkeraman nafsu ammarah, maka hal ini menjadikan kita
dengan mudah diperhamba oleh Allah. 

Manusia pada hakikatnya merupakan ajang pertarungan adu kekuatan
antara dua gaya yang saling berlawanan: malaikat dan syaitan.
Malaikat membujuk kita untuk mengikuti 'kehendak ilahi', sedangkan
syaitan menarik kita agar menghamba kepada kehendak ego. Orang yang
melakukan perbuatan atas dasar mengikuti 'kehendak ilahi' yang
dibisikkan malaikat, ia disebut 'berserah diri' kepada Allah dan ia
memperoleh ridha Allah. Kepada orang-orang semacam inilah
kebahagiaan sejati diberikan. 

"Hai jiwa yang tenang (yang mendapat ketenangan dari Tuhan).
Kembalilah kepada Rabbmu (Tuhanmu) dengan hati yang puas lagi
diridhai-Nya." QS 89:27-28

"Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang
mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka
(yang telah ada)." QS48:4

Untuk mengilustrasikan pentingnya tasawuf, saya beri contoh:
bersedekah. Meskipun perbuatan ini tampaknya baik, kita perlu
mempelajari apa motivasinya. Biarpun seseorang hanya menyumbang
seribu rupiah untuk pembangunan sebuah masjid, kalau ia melakukannya
atas dorongan nafs-al-muthmainnah,  maka perbuatan ini akan
mendatangan ketenangan. Sebaliknya, biarpun seseorang membangun
sebuah masjid besar, semua atas bebannya seorang sendiri, tetapi ia
melakukannya atas dorongan nafs-al-ammarah, misalnya agar orang lain
hormat kepadanya, maka kepuasan sejati tidak akan diperoleh.
Sekarang contoh sebaliknya: apakah kehendak membunuh orang lain itu
merupakan kehendak ilahi ataukah bisikan syaitan? Tentu anda dengan
cepat menjawab, "Bisikan syaitan!" karena syariat agama menyebutkan
demikian. Tetapi tunggu dulu� Nabi Ibrahim pernah berniat membunuh
puteranya, Ismail. Khidir juga pernah membunuh seorang anak yang tak
berdosa. Syaitan-kah yang membujuk mereka? Bukan! Itu adalah bisikan
ilahi. 

Khidir melukiskan sosok manusia yang berserah diri, ia mampu
membedakan bisikan ilahi dari bisikan syaitan. Kisah Khidir bersama
Musa yang ditulis di dalam Al Qur'an [Al Kahfi mulai ayat 65]
melukiskan kontras antara seorang ahli makrifat dan ahli syariat.
Ketinggian derajat ruhaniah seperti Khidir itu bukanlah hal yang
mustahil untuk dicapai oleh kita apabila mengikuti rambu-rambu yang
ditunjukkan oleh tasawuf. Kalaupun dalam perjalanan itu kita tidak
sampai mencapai maqam itu, hal ini merupakan hak Allah untuk
menentukannya. Yang penting, kita berusaha sejauh mungkin untuk
berpaling dari bujukan syaitan� melalui tasawuf sebagai salah satu
jalan.

Wassal�mu 'alaikum warahmatull�hi wabarak�tuh.
RS



---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)




Kirim email ke