Assalaamu 'alaikum wr. wb.
Ali Abidin wrote:
> Karena menurut pemahaman pak Sunarman bahwa berserah diri kepada Allah
> adalah mematuhi dorongan "jiwa muthmainnah". saya artikan bahwa untuk
> mengetahui apa kehendak Allah adalah dengan mendengar "Jiwa
> Muthmainnah"nya. Padahal tidak setiap orang mampu mendengar "jiwa
> muthmainnah"-nya, maka bagaimana sebaiknya orang tersebut berserah diri
> (ataupun belajar berserah diri)?
Nafs-al-ammarah dan nafs-al-muthmainnah itu hadir bersama-sama pada
tiap manusia, betapapun buruk atau kafirnya dia. Kedua nafs itu
berusaha untuk saling meniadakan nafs yang lain. Pergolakan batin
selalu terjadi pada tiap manusia akibat perang antara kedua nafs
itu; dan masing-masing nafs mengalami kemenangan dan kekalahan
secara silih berganti. Dengan demikian tidaklah tepat bila seorang
kafir atau orang jahat itu tidak pernah 'berserah diri', biarpun
tentu saja kadarnya sangat kecil bila dibandingkan dengan orang
yang disucikan jiwanya.
Karena itu jangan berkecil hati seolah-olah kita tidak pernah
berserah diri meskipun kita tidak pernah tahu jenis nafs mana yang
mendorong kita untuk berbuat sesuatu. Bagi kita yang belum mampu
membedakan mana nafs-al-ammarah dan mana nafs-al-muthmainnah, saya
mempunyai tip yang relatif mudah untuk dilakukan dan sesuai bagi
anda yang belum (tidak) mengikuti sesuatu aliran tariqah.
1. Berpegang pada Kitab Suci dan Al Hadits untuk hal-hal umum yang
tertulis dengan jelas, sebagai pedoman generik yang berlaku bagi
umat pada umumnya.
2. Manakala kita menemukan keraguan dalam memutuskan sesuatu yang
spesifik dan situasional (sangat sering kita alami dalam
kehidupan ini), kita tempuh alternatif di bawah ini:
a. Lakukan shalat istikharah diiringi dengan doa seperti yang
banyak disebut-sebut dalam buku-buku fiqih. Dengan shalat ini,
insya Allah kita memperoleh pencerahan yang ditandai dengan
ketenangan jiwa ketika memutuskan sesuatu.
Makin sering kita melakukan shalat ini, batin kita menjadi
makin peka terhadap dorongan nafs-al-muthmainnah. Kalau shalat
ini dijadikan kebiasaan, kita akan menjadi hafal (terbiasa)
dengan ciri-ciri nafs-al-muthmainnah yang sebenarnya selalu
hadir bersama kita. Kepekaan timbul melalui pengalaman yang
diolah secara empirik.
b. Teliti diri sendiri dengan cermat: perhatikan hasrat-hasrat
yang bekerja pada diri kita pada saat kita menghadapi suatu
masalah. Kalau kita merasa diri kita diliputi pamrih,
kemarahan, atau keakuan (pementingan diri sendiri, keluarga
sendiri, teman-teman sendiri, kelompok sendiri, golongan
sendiri, bangsa sendiri, dll), maka biasanya [tidak selalu]
keputusan yang kita ambil pada saat itu bukanlah dorongan
nafs-al-muthmainnah.
c. Dalam setiap shalat, setiap kita sampai pada pengucapan
"Ihdinash shirathal mustaqim" hendaklah kita menanamkan
keyakinan dalam diri bahwa Allah mengabulkan doa itu.
Sesungguhnya apa yang kita sebut shirathal mustaqim itu tak
lain dari dorongan nafs-al-muthmainnah itu. Ia selalu ada
bersama kita, tetapi kita hampir tak mengetahuinya. Dengan
penekanan doa pada perkataan itu, diharapkan pikiran kita
akan lebih peka dalam menangkap isyarat-isyarat yang
dipancarkan oleh nafs-al-muthmainnah.
d. Dalam kasus-kasus yang sangat penting dan mendesak, datangi
seorang ulama yang kita ketahui atau kita duga mampu membaca
nafs-al-muthmainnah untuk minta 'dibacakan' atau sekedar
minta dikonfirmasikan.
Wassalaamu 'alaikum wr. wb.
RS
---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)