Bismillahirrahmanirrahim
Assalamu'alaikum wr.wb.


NABI MUHAMMAD SAW TITIK TOLAK PERBINCANGAN KITA...5/10

Topik kelima: 

Mengenal Nabi Muhmamad SAW dan ujian tentang kebenaran beliau.....
Kabar ghaib dan nubuwatan.........

Kita  lanjutkan pembicaraan kita tentang Nubuwatan dan kabar  ghaib
yang  juga  merupakan salah unsur penunjang kebenaran seorang  Nabi
yang  diutus  oleh Tuhan kepada manusia. Kita tentu saja  berbicara
banyak  tentang  Nabi Besar Muhammad SAW yang kita jadikan  sebagai
contoh dan permisalan kebenaran seorang Nabi. Sebelum kita meninjau
kebenaran  Nabi-Nabi yang lain seperti Nabi Isa.a.s.  ,  Nabi  Musa
a.s.  dllnya,  tentulah kita harus meyakini sebenar-benarnya  bahwa
Nabi  Muhammad  SAW itu adalah seorang Nabi juga .  Kebenaran  Nabi
Muhammad  itu  tidak  ada  salahnya kita  tinjau  pula  berdasarkan
Nubuwatan dan kabar ghaib yang dinubuwatkannya. Sekali gus hal  ini
adalah untuk penambah keyakinan kita terhadap beliau dan mewujudkan
cinta kita kepada beliau dan kebenaran yang beliau bawa untuk kita.

Pada  Topik  keempat  yang mendahului tulisan ini telah  disinggung
tentang  Nubuwatan dan kabar ghaib yang diberitakan oleh Rasulullah
SAW  tentang  kebangkitan  dan kemenangan  bangsa  Romawi   sesudah
dihancur luluhkan oleh Maharaja Persia. Kemungkinan terwujudnya apa
yang  dinubuwatkan Rasulullah SAW itu, secara perhitungan  strategi
dan  analisa  politik tidaklah mungkin sama sekali. Betapa  mungkin
dalam  waktu  yang  begitu dekat jaraknya,  disaat-saat  kehancuran
Romawi   yang  sangat  parah  , tiba-tiba  Rasulullah  SAW  memberi
tahukan bahwa kerajaan yang dikalahkan itu akan  bangkit dan keluar
kembali sebagai penakluk musuhnya.

Tidak  ada diantara Analis Politik masa kini dengan melihat keadaan
yang  porak  poranda  yang melanda Romawi itu bisa  memperhitungkan
akan bangkitnya Romawi dari kekalahannya itu. Tapi ini lain, karena
Rasulullah  SAW yang mempunyai hubungan yang baik dan  erat  dengan
Allah  Ta'ala  apa sesungguhnya yang mustahil bagi  manusia  itu  ,
tidaklah  begitu sulit bagi Allah penguasa alam semesta  ini  untuk
mewujudkannya . Kalaulah Allah hendak menjadikan Romawi yang  dalam
keadaan  hancur  lebur itu kembali menguasi Persia  siapa  diantara
penghuni bumi ini yang sanggup melawan Allah? Apakah kaum Majusi  ,
penyembah bintang itu, berani berperang dengan Allah yang nampaknya
akan berpihak kepada Romawi?

Soalnya  bukan  terletak disitu, tetapi adalah pada  "kabar  ghaib"
dari  Allah  yang kebanyakan manusia tidak mengetahui dan  meyakini
kebenarannya. Bagaimana Abu Lahab,dan Abu Jahal serta kaum  Quraisy
penguasa  dan  pemuka-pemuka agama berhala itu  meyakini  kebenaran
kabar  ghaib  itu  kalau mereka sendiri menolak Rasulullah  sebagai
Nabi?  Adalah mustahil bagi para "pemegang kunci" Ka'bah yang penuh
berhala  itu akan menerima kebenaran kabar ghaib itu , kalau  awal-
awalnya  mereka  sendiri telah menolak dan tidak menerima  Muhammad
itu sebagai seorang utusan Tuhan? Disinilah pokok masalahnya.

Kita  lanjutkan dengan kebangkitan bangsa Romawi dari  kekalahannya
itu  sebagai  salah satu bukti dari kebenaran dari Rasulullah  SAW.
Pada  tahun  624  M. , Heraclius bergerak kebahagian  utara  Media,
dimana  dia menghancur-leburkan kan candi perapian Goudzak (Gazaca)
yang  besar  itu  sebagai  pembalasan  atas  kehancuran  Yerusalem.
Peristiwa itu tepat terjadinya sembilan tahun sesudah Surat  Ar-Rum
yang berisi nubuwatan kemenangan Romawi itu diturunkan Allah kepada
Nabi  Besar Muhammad SAW, merupakan suatu jangka waktu yang "tepat"
sebagaimana  dikabarkan ayat itu. Peristiwa bersejarah bagi  bangsa
Romawi  ini  bertepatan pula waktunya dengan kekalahan  pahit  yang
diderita Kafir Quraisy dalam peperangan Badar yang penuh heroik dan
terkenal dalam sejarah Islam
itu.

Pada  tahun 627 M. Heraclius mengalahkan lasykar-lasykar Persia  di
Ninive   dan  pasukan  Romawi  bergerak  terus  memasuki  Ctesiphon
selanjutnya menyerbu Dastgerd (dekat Baghdad) yang membuat Kisra II
tunggang  langgang meninggalkan istananya yang berkesudahan  dengan
nasib sial yang sangat memilukan menimpa dirinya, dimana dibunuhnya
Maharaja  Persia itu oleh puteranya sendiri Sirus pada  tanggal  19
Februari 628 M. Dengan demikian kerajaan Persia, dari kebesaran dan
kemegahan   yang  diperoleh  sebelumnya  tenggelam  kembali   dalam
kekacauan  pemerintah  yang  parah  sama  sekali  .(Gibbons,  Rise,
Decline  &  Fall ofthe Roman Empire jilid 5 hal 74 & Enc. Britanica
pada "Chosrus" dan "Heraclius").

Penggenapan nubuwatan dikala Rasulullah SAW masih hidup ini  adalah
suatu   peristiwa yang tak terduga samasekali dan sangat luar biasa
,  sehingga  beberapa  penulis Kristen  yang  berpurbasangka  buruk
terhadap  Islam   merasa sulit sekali mengelakkan   kenyataan  ini.
Rodwell  misalnya yang mencoba juga membantah peristiwa ini sebagai
pemenuhan  Nubuwatan Rasulullah SAW. Menurut  Tuan Rodwell  seorang
Orientalis  terkemuka mencoba melihat persoalan ini dari  ayat-ayat
Surat  Ar-Rum  itu sendiri. Menurut beliau tanda baca  huruf  hidup
pada  ungkapan  bahasa  Arab  yang  dipergunakan  dalam  ayat   ini
dibiarkan  tidak  pasti,  sehingga bacaan ayat  itu  akan  berbunyi
"sayaghlibun"  artinya  "mereka menang" atau "sayaghlabun"  artinya
"mereka  akan dikalahkan" , bahkan Rodwell menambahkan  lagi  bahwa
adanya dua "mafhum" itu dibuat dengan sengaja dan  disisipkan dalam
Al-Qur'an.  Tuan  yang  terhormat itu berpura-pura  tidak  memahami
kenyataan  yang  sederhana , bahwa "huruf hidup  sesuatu  ungkapan"
yasng  telah  dibaca  ribuan kali dalam sembahyang  semenjak  zaman
Rasulullah  SAW  itu  ,  setiap  hari  hingga  sekarang  ini  sukar
dibiarkan dalam keadaan tidak pasti.

Lain   lagi   pendapat  Wherry  yang  agak  maju  cara  berpikirnya
selangkah. Beliau mengatakan: "Surat kabar-surat kabar dan  harian-
harian  serta  majalah-majalah kita dengan tetap dan teratur  telah
meramalkan  peristiwa politik semacam ini setiap hari dan sepanjang
zaman".    Terhadap  usaha-usaha  Wherry  untuk   mengelakkan   dan
memperkecil   kemungkinan adanya nubuwatan ini , kiranya  perkataan
Gibbons    yang   dinukilkan  diatas  adalah  jawaban   jitu   yang
mematahkannya.

Dan  bagi  kita  sendiri umat Islam ini tidak selamanya  kita  bisa
mengunyah habis-habisan apa yang dikatakan Orientalis Islam  itu  .
Kita  harus  lebih  teliti lagi bahwa meniadakan nubuwatan  seorang
Nabi  dan  mengangap apa yang terjadi itu diluar kabar  ghaib  yang
diberitakan  adalah  sangat berbahaya sekali. Meniadakan  nubuwatan
seorang  Nabi serta mengingkarinya adalah jalan setapak  yang  akan
mengelincirkan  kita  mengingkari  Nabi  itu  sendiri.  Mempercayai
sesuatu   peristiwa   yang  terjadi  dihadapan   kita   sebagaimana
dinubuwatkan sebelumnya adalah selangkah juga bagi kita mempercayai
Nabi  itu. Antara Nabi dan nubuwatan tidaklah dapat dipisahkan sama
sekali.Bagaimana  kita  memisahkan   nubuwatan  yang  berisi  kabar
ghaib,  dengan  pembawa  kabar ghaib itu sendiri  yang  selanjutnya
menerima kabar ghaib itu dari Allah SWT yang Maha Mengetahui segala
yang ghaib ? Sampai jumpa ditulisan berikut ini...

bersambung

Wassalamu'alaikum wr.wb.
Nadri Saaduddin,
Jalan Rambutan B-32
Telp. (+62-0765) 93072
Duri 28884,
Riau Daratan, INDONESIA
----------------------------------------------------------------------------
---------------------------
THERE IS NO GOD BESIDE ALLAH AND MUHAMMAD SAW IS HIS MESSENGER...
LOVE FOR ALL, HATRED FOR NONE....!
Hearken! The Messiah Has Come, The Messiah Has Come....
For further details contact Ahmadiyya Mission anywhere over the world.
----------------------------------------------------------------------------
---------------------------


---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)




Kirim email ke