On Sun, 28 Feb 1999, Yudi Yanto wrote: > > > info wae...... > > >From [EMAIL PROTECTED] Sat Feb 20 > 03:23:59 1999 > >Received: from [127.0.0.1] by mh.findmail.com with NNFMP; 20 Feb 1999 > 11:23:52 -0000 > >Mailing-List: contact [EMAIL PROTECTED] > >Precedence: list > >X-URL: http://www.egroups.com/list/barrac/ > >X-Mailing-List: [EMAIL PROTECTED] > >Reply-To: [EMAIL PROTECTED] > >Delivered-To: [EMAIL PROTECTED] > >Received: (qmail 4738 invoked by uid 7770); 20 Feb 1999 11:22:55 -0000 > >Received: from students.itb.ac.id (167.205.22.114) > > by vault.findmail.com with SMTP; 20 Feb 1999 11:22:55 -0000 > >Received: (qmail 27197 invoked by uid 1077); 20 Feb 1999 04:15:35 -0000 > >Date: Sat, 20 Feb 1999 11:15:35 +0700 (JAVT) > >From: Deny Hamdani <[EMAIL PROTECTED]> > >To: [EMAIL PROTECTED] > >Message-ID: > <[EMAIL PROTECTED]> > >MIME-Version: 1.0 > >Subject: [barrac] Berita Kaum Muslim di TimTim (fwd) > >Content-Type: text/plain; charset=US-ASCII > >Content-Transfer-Encoding: 7bit > > > > > > > >---------- Forwarded message ---------- > >Date: Fri, 19 Feb 1999 05:18:09 PST > >From: Nurcholid Setiawan <[EMAIL PROTECTED]> > >Subject: Berita Kaum Muslim di TimTim > > > >Ass.wr.wb. > >saudara-saudaraku....... > >informasi ini mengenai saudara-saudara muslim di tim-tim. > >sengaja ku kirim untuk menjadi renungan dan pikiran kita semua... > >Insya Allah, Ummat Islam akan kembali melaksanakan islam secara > >menyeluruh dan sungguh-sungguh....... > > > >wass. > >and justice for all > >nurcholid > > > > > > > > UNTUK MUSLIM, TAK ADA HAM DI PULAU TIMOR > > oleh: Eri Sudewo > > > >Sejak dua opsi diumumkan Menlu Ali Alatas, bukan hanya suhu > >politik Timtim saja yang bergolak, saya sendiri kebat-kebit > >membayangkan apa yang bakal terjadi saat turun di airport Comoro Dili. > >Pesawat Merpati MZ 640 full booked. Hampir separo pesawat Boeing > 737, > >diisi wartawan dan orang-orang LSM dalam dan luar negeri. > > > >"Tidak boleh foto di situ. Status Timtim belum jelas", Ujar satpam > >airport Dili, saat saya mencoba sigap mengabadikan papan nama airport > >Comoro. > > > >Di tempat penjemputan, taksi Dili yang mirip angkot di Jawa, > parkir > >seenaknya. Kendaraan plat merah, kebanyakan ditempeli stiker > >AusAid. Beberapa mobil plat hitam, berstiker Care, International > Red > >Cross dan Plant International. > >Pikiran saya langsung menerawang: Apa saja yang mereka lakukan di sini? > >Sedang wartawan luar negeri seperti Reuter dan TVI, langsung > akrab > >dengan Tetun --sebutan orang asli Timtim-- naik mobil dan raib. > > > >Jarum jam sudah menunjuk angka 13.30 saat saya dijemput. Bersama > >koresponden Republika Sudayat Kosasih dan wartawan Panji > >Masyarakat Iqbal Setyarso , saya longoki desa-desa terpencil di Pulau > >Timor. Selama sepekan, empat sampai 10 Februari 1999, kami > >menjelajah sepanjang 700 km dari Los Palos ke Kupang, menyalurkan > >bantuan pangan untuk kalangan fakir miskin dan mualaf. > > > >Di puluhan desa terpencil yang saya kunjungi, tak satupun dari 30-an > >LSM dunia yang berbasis di Dili pernah memberi bantuan. Maklum, yang > >saya kunjungi adalah kalangan muslim. Di tanah yang terus bergolak > ini, > >penderitaan umat Islam dan mualaf seakan tak berakhir: Kemiskinan > >yang terus melilit, teror,intimidasi dan penganiayaan phisik menjadi > >bagian keseharian. Siapa peduli nasib mereka? > > > > *** > > > >" Selama 24 tahun, baru kali ini kami mendapat bantuan ," kata > ustadz > >Zakaria terharu, mewakili 140 KK muslim desa Lakawak 250 Km sebelah > >Timur Dili. Kebanyakan muslim di sini, berladang seperti menanam > >jagung dan beternak kambing. Hanya ternak ini sering diambili GPK. > >Bukan satu atau dua ekor, melainkan 10 atau 15 kambing sekaligus. > "Wah, > >susah mas kehidupan muslim di sini. Kita jadi warga kelas dua. Untuk > >bangun masjid harus seizin pastor," ujar Ahmad Furqon, guru ngaji di > >Liquisa, 36 km sebelah Barat Dili. "Dan itu diatur dalam SK Gubernur > >Timtim. Saya punya cofy SK-nya," kata Dayat, ustadz yang dikirim > >Dewan Dakwah sejak tahun 1987. > > > >Para pedagang muslim, juga mendapat perlakuan serupa. Menurut > >Tajuddin, saudagar asal Ujungpandang, pedagang muslim di pasar setiap > >hari dipalaki prokem-prokem Tetun. Setiap prokem minta 10 atau 20 ribu > >perak. Sehari bisa lima sampai tujuh pemalak. Bukan cuma uang, mereka > >sering mengambili barang tanpa bayar. "Berani protes, mereka bakal > >mengamuk," kata Tajuddin yang sudah menetap di Timtim sejak 1985. > >Tajuddin sendiri sudah memindahkan keluarga dan usahanya ke > >Ujungpandang. Bus dan truk, seluruhnya diangkut. > >Di Dili, tinggal jeep Taft yang sengaja disisakan untuk mengantar kami. > > > > *** > > > >Pembangunan di Timtim luar biasa. Pantas saja provinsi lain iri. > >Bayangkan, jalan yang dibangun, dihotmik tak kalah dengan jalan tol. > >Hitam, licin dan mulus. Dari Los Palos ke Maliana -perbatasan > >Timtim dan NTT-- sepanjang ratusan km, jalan yang rusak bila > ditotal > >tak sampai satu km. Begitu masuk ke Silawan Belu NTT, baru terasa > >jeleknya jalan provinsi di Indonesia. > > > >"Tapi warga Timtim juga keterlaluan, mas. Bayangkan, masak PU harus > >bangun jalan aspal berpuluh-puluh km ke sebuah desa karena di sana ada > >tiga keluarga Tetun," kata Suyoto, staf PKP Kupang. Karena politis, > >aspek ekonomis jadi terabaikan. Jadi kalau mubazir, itulah yang > >harus dibayar. Tempat wisata pantai di Dili sendiri tampak tak terawat. > >Di daerah lebih parah lagi. Pasar dan terminal, juga dibangun hanya > >untuk disinggahi kambing karena tak pernah berfungsi. > > > >Kenapa tak terawat? Timtim itu miskin. Minyak di Celah Timor, > meski > >kabarnya besar, untuk pembangunan toh Timtim hanya menyumbang > 8%. > >Selebihnya dipasok pusat. Kopi dan marmer yang digembar-gemborkan > >banyak media, dimiliki perorangan. Nelayan, 90% pendatang dari luar > >seperti dari Sulawesi, Buton, Selayar dan Solor. Pedagang kalau tak > >Bugis Makasar,pasti dari Padang dan Jawa. Yang besar masih dimiliki > >pedagang Cina. Para Tetun di desa kebanyakan cuma berladang menggembala > >kambing. > > > >Rumah Tetun, kebanyakan dibangun dengan batang dan atap dari daun > >lontar. Tanpa jendela, dengan babi hilir mudik keluar masuk rumah. > >"Di sini yang bagus cuma gereja dan kuburan," kata Tajuddin lagi. > > *** > > > >Bagi muslim, suasana di Pulau Timor memang mencekam. Di Soe, saya > >merasakan itu. Saat terjadi kerusuhan di Kupang, Soe juga > terbakar. > >Masjid, toko dan rumah milik BBMJ (Bugis, Bone, Makasar, dan > >Jawa) diobrak-abrik. Beritanya tak keluar. "Sebab, informasi kan > sudah > >dimonopoli nonmuslim," kata Pham Abdullah Arba, orang asli Kupang > >yang tak pernah bisa dianggap pribumi Kupang karena memeluk Islam. > > > >Memang di belahan Indonesia Timur, telah terjadi disintegrasi sosial. > >Kata Syarifuddin R Gomang, kerusuhan ini dipicu oleh peristiwa > >penggusuran muslim di Dili tahun 1993. Sejak itu, penggusuran terus > >berlangsung. Dimulai dari Ngada dan Ende tahun 1994. Lalu Larantuka > >dan Kefamanu tahun 1995. Tahun 1996 penggusuran merebak di Sumba > >Timur. Kupang rusuh tahun 1998 dan terakhir '99 kemarin di Ambon. > > > >" Saya heran, kok Theo Syafei mengatakan tak pernah ke Kupang. > >Tanggal 15 November 1998, saya dan Theo Syafei sama-sama jadi > >penceramah di seminar yang digelar Universitas Nusa Cendana. Dia > >bilang, kalau di Jawa orang bisa bakar gereja, kenapa kita di sini > >tak bisa bakar masjid, " kata ketua jurusan Sosiologi Universitas > >Nusa Cendana ini. > >Mendengar ucapan Theo Syafei, tepuk tangan langsung bergemuruh. > > > >Tanggal 17 November 1998, Kupang rusuh. Saat itu juga Soe, 70 Km > >sebelah Timur Kupang, juga rusuh. Penghancuran terjadi serentak. > Begitu > >lonceng gereja berbunyi, serentak penduduk keluar rumah mengetuk > tiang > >listrik dengan membawa parang, golok, dan benda tajam lainnya. > >Masjid dikepung, dirusak, dan dibakar. Rumah dan toko milik muslim > >dirusak dan dijarah. > > > >Saya perintahkan, warga muslim menyingkir. Harta benda yang > >dirusak, ikhlaskan saja. tapi, hati dan iman saya terluka karena Quran > >diinjak dan dikencingi. Aparat keamanan diam saja. Sebab, komandannya > >adalah mereka. > > > >"Kami dilarang Camat Sulamo menolong pengungsi yang sudah kelaparan > >tiga hari di sampan-sampan," ujar seorang nelayan Sulamo. "Saya > berani > >jadi saksi di pengadilan. Theo Syafei penyebab kerusuhan Kupang. Dia > >bohong mengatakan tak pernah ke Kupang," kata Syarifuddin bergetar. > > > > *** > > > >Pembantaian muslim memang tak hanya terjadi di Bosnia dan Kosovo. Di > >sekitar kita sendiri, terjadi pembantaian yang tak pernah terungkap. > >HAM hanya berlaku untuk kalangan nonmuslim. Jarum jatuh berdenting di > >Timtim, suaranya terdengar hingga di PBB. Tapi, mengapa pembantaian > >sejak tahun 1993 tak pernah terdengar? "DD (Dompet Dhuafa, red) tak > >usah membantu mengembangkan ekonomi di sini. Saya sedang mencari tempat > >untuk mualaf agar bisa keluar dari sini. Di tempat baru, silakan DD > >menolong ekonomi para fakir dan mualaf nanti," ujar Dayat sendu. Ah, > >negeri yang subur dan damai ini, ternyata menyimpan kebengisan yang > >bisa menghancurkan negara. > > > > > > > > > > > > > > > > > >______________________________________________________ > > > >------------------------------------------------------------------------ > >eGroup home: http://www.eGroups.com/list/barrac > >Free Web-based e-mail groups by eGroups.com > > > > > > > > > ______________________________________________________ > Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com > . > . > . > ------ > berhenti ? unsubscribe ? > enak aje ! ngomong dulu sama pustena-owner > > --------------------------------------------------------------------- Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED] Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED] Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected] Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)
