... lanjutan ...

(e)     
Pada jantung ilmu-ilmu fisika dan biologi terletak "replikasi". Agar
suatu suatu hasil eksperimen diterima oleh masyarakat ilmuwan yang
merupakan juri yang akan mengevaluasi keotentikan karya ilmiah
seseorang, anggota juri itu harus dapat mengulang rangkaian
langkah-langkah metodologi yang disebutkan di dalam eksperimen.
Lebih lanjut, anggota juri yang terdiri dari para ilmuwan, setelah
mengikuti langkah-langkah yang disebutkan, harus sampai pada hasik
empirik, yang dalam kisaran variasi tertentu, menetapkan karakter
hasil yang diperoleh para ilmuwan yang melakukan eksperimen.

Demikian pula, replikasi berperan dalam Ilmu Tasawuf. Namun di sini
terdapat perbedaan dari ilmu fisika dan biologi. Misalnya, pencari
kebenaran yang melakukan eksperimen bukanlah anggota dari masyarakat
ilmuwan. Karena itu, pencari kebenaran spiritual tidak dalam posisi
dapat memahami atau menerima karakter hasil eksperimen para
pendahulunya di jalur tasawuf. 

Sebaliknya, pencari kebenaran melaksanakan serangkaian eksperimen
yang sebelumnya telah diselesaikan dengan sukses oleh para
pendahulunya. Jika seorang pencari kebenaran, atas izin Allah, dapat
menyamai hasil yang dicapai gurunya di sepanjang spektrum eksperimen
spiritual, maka ia menjadi bagian dari masyarakat "berilmu" melalui
keberhasilan dalam latihan-latihan yang diberikan. 

Dengan kata lain, melalui proses replikasi, pencari kebenaran
melakukan verifikasi bagi dirinya sendiri, bahwa kebenaran yang
diucapkan oleh guru mereka dalam pembicaraan dan diskusi, adalah
memang suatu kebenaran. Namun, ini bukanlah perkara menilai dari
luar benar atau salahnya suatu hasil yang diperoleh para sufi
pendahulunya. Ini lebih merupakan proses konfirmasi melalui
pengalaman sendiri mengenai materi yang dipelajari.

(f)     
Obyektivitas merupakan kata kunci dalam ilmu fisika dan ilmu
pengetahuan empirik. Umumnya, obyektivitas dilawankan dengan
subyektivitas. Pekerjaan eksperimental seseorang mengenai suatu
realita harus dibentuk dan diwarnai BUKAN dengan kepentingan,
keharusan, keyakinan, atau kehendak pribadi. Semua ini merupakan
pencemaran subyektivitas dalam eksperimen ilmiah.

Orang harus membuka diri terhadap apa yang akan dikatakan oleh
realita dengan cara yang dipilih oleh realita itu sendiri. Peneliti
harus sebanyak mungkin menyatukan horizon-horizon  dengan karakter
fenomena yang diselidiki.

Dalam Ilmu Tasawuf, kunci obyektivitas terletak pada kondisi fana
dan baqa. Fana melibatkan pengenyahan nafsu diri {ego) yang
mengakibatkan  bias dan distorsi subyectif. Baqa melibatkan
pengejawantahan identitas "aku" yang sejati yang pada hakikatnya
adalah manifestasi Keilahian, dan karena itu mengubah ekspresi
menurut kemampuan spiritual seseorang menjadi obyektivitas total.

(g)     
Akhirnya, seperti disebut pada (e) di atas, masyarakat ilmuwan
memainkan peran fundamental baik dalam ilmu fisik maupun mistik.
Dalam keduanya, agar seseorang dapat menjadi anggota sah dalam
masyarakat masing-masing, ia harus melewati serangkaian transformasi
penyucian diri yang ketat. Insya Allah, transformasi ini
meningkatkan seseorang ke jenjang minimum dalam kompetensi dalam
metodologi, kaidah-kaidah, nilai-nilai, prosedur dan perilaku yang
menandakan kualitas anggota masyarakat ilmuwan yang bersangkutan

---

Dalam ilmu fisika dan biologi, kompetensi seringkali dinilai menurut
keahlian yang ditunjukkan dalam menggunakan analisis logis,
matematis dan konseptual yang berkaitan dengan eksplorasi penelitian
termaksud. Dalam Ilmu Tasawuf, kompetensi mereka fungsi: apakah
seseorang menyadari identitas sejati dari dirinya, dan apakah
seseorang mampu menyampaikan ekspresi aktif kepada perorangan, dan
kemampuan untuk memelihara kesaksian yang tulus dan penuh kasih
mengenai kehadiran Keilahian dalam diri tiap individu. Semua itu
tergantung dari kehendak Allah.

Orang yang mampu menguji kompetensi seorang pencari kebenaran ialah
seseorang yang atas karunia Allah memiliki kompetensi itu.
Kompetensi ini diperoleh bukan atas dasar prestasi kerja, melainkan
atas kemurahan Allah yang datang melalui lorong transmisi spiritual.
 
Berbeda dari komunitas ilmuwan fisika dan biologi, anggota komunitas
dalam Ilmu Tasawuf tidak menetapkan standar, kaidah, aturan, nilai,
metode dll yang memberi karakter ilmu Tasawuf. Di sini, para anggota
merefleksikan hasil dari penyerahan diri kepada standar, prinsip,
aturan, nilai dan metode Ilahi. Akibatnya, mereka melihat,
merasakan, dan berbuat menurut kehendak Ilahi.

Ketika atas kehendak Allah seseorang dimasukkan ke dalam komunitas
Ilmu Tasawuf, seseorang akan merefleksikan kehendak Ilahi dengan
cara yang unik pula. Tiadanya kualitas refleksi kehendak Ilahi
merupakan indikasi bahwa seorang pencari kebenaran belum sampai pada
tujuan dijadikan jalur tasawuf, dan karena itu belum menguasai ilmu
pengetahuan menurut cara para Sufi.

(habis)


---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)




Kirim email ke