Assalamu'alaikum,
Sekedar pemikiran saya saja.
Barusan saya berada dalam kondisi, dimana amat sangat diperlukan
kesabaran menahan diri untuk tidak terjebak ke dalam emosi.
Setelah kejadian itu, saya mulai menyadari, bahwa ternyata
diperlukan satu tingkat lebih tinggi kemampuan memahami, sebelum
kita mengerti yang belum kita pahami.
Ada yang pernah baca buku-nya Covey "Seven Habits"? Ada hal yang
menarik dari sana, yakni tentang eksistensi ruang kosong (space)
antara stimulus dan respon, yang merupakan konsep utama dari
proaktif.
Nah, dari sana, saya menemukan bahwa, semakin mature/matang
seseorang, semakin dia berarti mampu menjauhkan jarak antara
stimulus dan respon dalam diri dan lingkungannya. Di dalam selang
jarak itu terdapat satu potensi, istilahkanlah dengan "keilahian
manusia" - yang nyaris tak terbatas. Anggaplah "Keilahian manusia"
itu merupakan kekuatan internal, kesejukan internal, ketenangan
internal yang datang, merebak di dalam dada kita, ketika kita
didekatkan kepada Allah.
Keilahian itulah yang membedakan kemampuan bertahan/survival
manusia satu dengan manusia lainnya.
keilahian
|
|
v
--> stimulus [space] | <- respon
Dari selang/space inilah, bila kita bisa kendalikan, maka manusia
dapat mencapai, apa yang dikenal sebagai:
- istiqomah,
- komitmen
- konsisten
- tawakkal
- sabar
- tawadlu'
- kegigihan
- mature/kematangan
Semakin besar kekuatan keilahian ini, semakin "tebal" dinding
penyekat stimulus vs reson itu, SEMAKIN BIJAKSANA KITA MENYALURKAN
RESPON THD STIMULUS YANG KITA TERIMA.
Sebelumnya, mohon maaf bagi rekan-rekan yang kurang berkenan dengan
topik ini. Kalau memang off-topic, silakan dihapus saja.
Wassalamu'alaikum,
Istiqfar
---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)