Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamu'alaikum wr.wb.
----------
From: Yogi Ahmad
Erlangga[SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
Reply To: [EMAIL PROTECTED]
Sent: Saturday, March 13, 1999 10:20 AM
To: [EMAIL PROTECTED]
Subject: [Tasawuf] Mirza Ghulam Ahmad, Nabi?
[1/3] TANGGAPAN PERTAMA......
Yogi:
>Alhamdulillah,
>Saya mengamati diskusi tentang Mirza Ghulam Ahmad di mailing list
>ini.Saya melihat ada dua kubu yang saling"bertentangan", yang
>satu mencoba membenarkan bahwa MGA seorang Nabi dan al-Mahdi
>dan yang lain mengatakan ia bukan Nabi, melainkan seorang
>pendusta di kalangan ummat Islam. Mana yang benar?
NS:
Mana yang benar? Tentu saja yang benar adalah yang memenuhi
kriteria yang dijelaskan oleh Al-Qur'an . Kita menerima dan
menolak pendakwaan kenabian seseorang tentulah berdasarkan
Kitab Suci Al-Qur'an dan Hadits Rasulullah SAW. Kalau keadaan ini
masih belum memuaskan kita, bisa saja kita mengajukan permohonan
do'a kepada Allah agar kita diberiNya petunjuk untuk menentukan
mana yang benar diantara keduanya itu. Sewajarnya kita
memohonkan doa untuk memperoleh kekuatan untuk menerima nabi
yang benar dan juga kekuatan untuk menolak nabi yang tidak
benar...
Apakah Mirza Ghulam Ahmad seorang Nabi yang benar atau seorang
pendusta yang mengada-ngadakan kedustaan terhadap Allah
semuanya itu hendaklah kita ukur dan periksa lewat Kitab Suci
Al-Qur'an dan hadist Rasulullah SAW. Dan kalau masih saja kita
bimbang, ajukanlah permohonan do'a kepada Allah lewat istikharah
dan yang demikian adalah jalan terakhir yang paling baik untuk
menerima ataupun menolak Mirza Ghulam Ahmad itu.
Yogi:
>Sulit buat kita, kalau kita berfikir apriori, untuk mengatakan
>yang pertama benar dan yang kedua benar. Bahkan "rasa pedas"
>pun bisa dikatakan asin kalau yang mengatakannya ingin mengajak
>orang lain mencoba rujaknya yang sesungguhnya pedas. Saya pun
>mungkin cenderung apriori. Wallahu A'lam.
NS:
Tidak ada dua buah kebenaran . Kebenaran hanya satu
semenatara yang salah memang banyak. Pantaslah kalau begitu
penilaian anda tentang Mirza Ghulam Ahmad karena anda bertitik
tolak dari sikap apriori dalam menilainya . Sebenarnya dalam
menilai apapun didunia ini kita tak perlu berpikir apriori , juga
dalam menentukan mana yang benar diantara keduanya yang saling
bertentangan itu. Sekali lagi untuk menilai kebenaran ajaran
Ahmadiyah dan pendakwaaan Mirza Ghulam Ahmad tidak ada cara
lain selain dengan menggunakan ayat-ayat Al-Qur'an dan hadist
menilai dalam menentukannya ..
Yogi:
>Memang benar bahwa agama Islam bukan agama spekulatif. Islam
>ditegakkan atas dasar aqidah dan syariat yang bersumber pada
>wahyu Allah. Jika apapun itu namanya, mengaku dirinya bagian dari
>Islam, tetapi bertentangan dengan ketentuan Allah maka yang
>demikian itu bukan Islam.
NS:
Tepat sekali apa yang anda katakan itu , tiinggal lagi bagi kita
untuk menerapkankannya dalam menentukan sikap dan pendapat kita
selanjutnya. Jelas setiap yang bertentangan dengan ketentuan
Allah yang digariskan dalam Kitab Sucinya Al-Qur'an dan hadist
Rasulullah SAW adalah bukan Islam. Sewajarnya apa yang
dikemukakan Mirza Ghulam Ahmad dan keyakinan orang-orang Ahmadi
pun hendaklah diukur dan dinilai dengan ukuran-ukuran itu.
Yogi:
>Seseorang di mailing list ini berkata :
>Bahwa bukti kebenaran MGA adalah bahwa Allah memberikannya
>umur panjang. Sungguh lucu untuk mengatakan MGA berumur
>panjang, panjang itu relatif terhadap siapa. Musailamah al-
>Kadzab, yang mengaku Nabi, umurnya lebih panjang dari Nabi SAW.
>Beranikah Anda mengatakan bahwa al-Kadzab membawa risalah
>yang benar?
NS:
Ukuran umur memang relatif , tetapi adalah suatu hal yang tidak
masuk akal apabila Allah sendiri membiarkan seseorang pendusta
yang mengatasnamakan diriNya leluasa berumur panjang dan
berhasil menyesatkan kebanyakan manusia. Allah membiarkan
Musailamah berumur panjang memang tidak bisa dijadikan sebagai
alasan untuk membenarkan ajaran dan risalahnya, tetapi
sejarahpun menjadi bukti bahwa umur panjang dari Musailamah sama
sekali tidak berhasil menyesatkan manusia ketika itu dan juga
sesudahnya . Sebagai bukti tidak benarnya dia adalah kematian
yang hina malah menimpa dirinya sepeninggal Rasulullah SAW itu.
Sebenarnya tidak layak dan tepat anda membandingkan Mirza
Ghulam Ahmad dengan Musailamah al Kadzab. Disamping zamannya
yang berbeda, Musailamah al Kadzab hidup bersamaan dan sezaman
dengan Nabi Muhammad SAW. Kepalsuan Musailamah bisa dibuktikan
semasa hidup Rasulullah SAW dan semakin jelas sepeninggal beliau,
sementara kepalsuan Mirza Ghulam Ahmad tidak seorangpun bisa
menunjukkannya, baik ketika ketika hidupnya apalagi sesudah
wafatnya. Ajaran Musailamah hilang tanpa bekas begitu Musailamah
mati dengan penuh kehinaan. Sementara ajaran Mirza Ghulam Ahmad
berkembang terus kendatipun lebih seratus tahun setelah
wafatnya beliau. Jumlah pengikutnya senantiasa bertambah
sepanjang waktu dan orang-orang yang mengakui kebenaran
pendakwaan beliau jauh lebih banyak jika dibandingkan ketika
beliau masih hidup lebih seratus tahun yang lampau.
Boleh jadi pengumuman dan pendakwaan seseorang sebagai
seorang "nabi" dianggap oleh sebahagian kita ini adalah suatu
pengakuan yang sangat mudah sekali. Seseorang yang ingin
populer jadi nabi, kemudian membuat pendakwaan jadi nabi , maka
selesailah masalahnya. Tidak semudah itu dan pengakuan jadi
"nabi" itu bukanlah perkara sederhana. Ini menyangkut
kepentingan manusia secara keseluruhan dan pendakwaan ini
melibatkan Tuhan. Sesorang yang mengaku jadi nabi padahal dia
bukanlah nabi, berarti dia dengan sengaja berbuat kedustaan
atas nama Allah, dan apakah Allah akan biarkan saja
sipembohong itu leluasa menipu manusia dan membiarkan manusia
ini tertipu olehnya?
Allah SWT tentu saja tidak akan membiarkan keadaan
demikian berlanjut terus dan sipembohong itu jelas tidak
akan dibiarkan selamat dari ancaman hukuman Tuhan. Dia pasti
dicekal dan keadaan demikian tidak dibiarkanNya berlanjut terus
dan sipelaku dusta itu akan dihukum keras oleh Allah. Anda bisa
bayangkan, kalau seorang anak berani berdusta atas nama ayah
atau gurunya. Begitu banyak kita lihat penipuan yang
dilakukan orang atas nama orang lain , apakah keadaan itu
dibiarkan saja? Malah ada seseorang dinegeri ini
berhasil memalsukan tanda tangan presiden, kemudian
dipergunakannya untuk menipu orang lain. Bagaimana akibat
perbuatannya dan kesudahan dari petualangannya itu? Ia
kemudian ditangkap dan selanjutnya diajukan kemeja hijau
dimintai pertanggungan jawab , yang kemudian dijatuhi hukuman
yang menggiring dia masuk penjara akibat penipuan yang ia
lakukan.
Bagaimana dengan penipuan yang mengatas namakan Allah ?
Sesorang yang mengaku jadi nabi pada hal Allah tidak
mengutusnya? Sebagaimana diisyaratkan dalam Al-Qur'an keadaan
ini juga tidak dibiarkan oleh Allah berketerusan dan bila ada
orang yang berdusta atas namanya , dia pasti hancur dan sama
sekali gagal usahanya itu.
"Dan sekiranya dia telah mengada-ngadakan sendiri dan
menisbahkan satu perkataan kepada Kami , niscaya Kami akan
pegang tangan kanannya, kemudian tentu Kami potong urat tali
jantungnya....... (QS. 69: 44, 45, 46 ).
Inilah sebagai dasar untuk menguji kebenaran Mirza Ghulam Ahmad.
Ujian yang juga dianjurkan Allah diterapkan untuk menguji
kebenaran Nabi Muhammad SAW bagi orang-orang yang meragukan
kebenaran beliau SAW . Kalau seandainya Mirza Ghulam Ahmad itu
seorang Nabi Palsu maka "niscaya Allah tentu akan menghukumnya
sebagaimana yang diancamkanNya kepada Muhammad SAW jika
seandainya memang Nabi Muhammad SAW itu adalah nabi palsu.
bersambung 2/3
Wassalamu'alaikum wr.wb.
Nadri Saaduddin
Jalan Rambutan B-32,
Telp. (+62-0765) 93072 Duri 28884
Riau Daratan INDONESIA
------------------------------------------------------
[EMAIL PROTECTED]
------------------------------------------------
THERE IS NO GOD BESIDE ALLAH AND MUHAMMAD SAW IS HIS MESSENGER.
LOVE FOR ALL, HATRED FOR NONE.....!
Hearken! The Messiah Has Come, The Messiah Has Come.....
For further detail contact Ahmadiyya Mission over the world.
------------------------------------------------
---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)