...
Meskipun demikian, dalam beberapa periode, selalu terdapat seorang filosof
yang ahli baik dalam teosofi maupun filsafat diskursif, yang mempunyai
kepemimpinan (ri'asah) dan filosof semacam itu adalah khalifah Tuhan.
Meskipun demikian ini bukan satu-satunya kasus, seorang filosof yang ahli
dalam teosofi, tetapi mempunyai kemampuan menengah dalam filsafat 
diskursif, [akan mempunyai kepemimpinan]. Begitu juga , seorang filosof yang
ahli dalam teosofi, tetapi tidak mempunyai filsafat diskursif, dapat menjadi
khalifah Tuhan. Bumi tidak pernah hampa dari filosof yang ahli dalam
teosofi. 

Kepemimpinan tidak pernah diberikan kepada ahli dalam filsafat diskursif
yang tidak ahli dalam teosofi. Karena itu dunia 
tidak pernah hampa dari teosof ahli, yang lebih pantas ketimbang filosof
diskursif semata; karena tak terelakkan, kekhalifahan harus dipegang [oleh
seseorang]. Dengan kepemimpinan ini tidak saya maksudkan [hanya] kontrol
sesaat. Sebaliknya, pemimpin teosof bisa jadi secara terbuka dalam komando;
atau, ia yang bisa jadi dalam keghaiban -yang banyak disebut sebagai
"kutub"(quthb)- akan mempunyai kepemimpinan bahkan jika dalam persembunyian
sepenuhnya sekalipun. Ketika penguasaan bumi (al-siyasah) berada di tangan
filosof semacam itu, masa akan menjadi bercahaya; tetapi jika masa tidak
mempunyai manajemen Ilahi (tadbir Ilahi), gelap yang akan menang. Murid yang
snagat baik adalah pencari teosofi dan filsafat diskursif; berikutnya [dalam
peringkat] adalah murid teosofi; kemudian murida filsafat diskursif. 


6. Buku kita ini [ditujukan] untuk murid teosofi dan filsafat diskursif.
Tidak terdapat di dalamnya sesuatu bagi filosof diskursif yang tidak
diberikan, dan tidak mencari teosofi. Kita hanya membahas buku ini,
metafor-metafor dan simbol-simbolnya bagi orang yang telah melakukan usaha
serius dalam teosofi, atau orang lain yang mencarinya. Pembaca buku harus
sekurang-kurangnya orang yang telah mencapai tangga tempat Cahaya Tuhan
(al-bariq al-Ilahi) telah muncul baginya, dan penampakannya telah menjadi
keadaan yang kuat [dalam jiwanya]. 

Orang lain tidak akan mengambil manfaat sama sekali dari buku ini. Karena
itu siapapun yang ingin mempelajari filsafat diskursif semata, hendaklah ia
mengikuti metode Peripatetik, yang karena filsafat diskursif sendiri, baik
dan masuk akal. Kita tidak dapat menyebut orang semacam itu, juga tidak
membahas bagi orang semacam itu "teori-teori illuminasi" (al-qawaid
al-isyraqiyah). 

Sungguh, urusan kaum illuminasi (al-isyraqiyun) tetap tidak rapi tanpa
[petunjuk] cahaya-cahaya apocalyptis (sawani nurriyyah). Karena beberapa
teori [illuminasi] ini didasarkan pada cahaya-cahaya ini, sehingga jika
suatu keraguan harus menimpa kaum illuminasi berkaitan dengan
prinsip-prinsip tersebut, mereka akan menyelesaikannya dengan membahas
premis yang diakui, tak tertutup (al-sullam al-Mukhalla'ah). Persis seperti
kita menyelidiki data indriawi (mahsusat) dan pasti dalam hubungan beberapa
syarat mereka , dan berikutnya membentuk ilmu-ilmu yang benar ('Ulum
shahihah) berdasarkan syarat-syarat tersebut --seperti 
astronomi dan sebagainya-- begitu juga kita menyelidiki [secara literal
melihat] hal-hal spiritual yang pasti, dan berikutnya membangun [filsafat
illuminasi] berdasarkan mereka. Orang yang tidak mengikuti cara ini tidak
akan menganggap hikmah semacam itu dan hanya menjadi suatu permainan di
tangan orang-orang yang ragu. 

Hossein Zini 

> Dikutip dari:
> http://www.iiman.co.id/
> 
> Berlangganan milis filsafat:
> Kirim e-mail kosong ke alamat: [EMAIL PROTECTED]
> 
> 

---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)




Kirim email ke