Begini sdr.rozy Saya berusaha untuk mulai memahami pengertian-pengertian mendasar dalam agama. masalahnya kalau pengertian yang saya pahami selama ini, sepertinya sejak dulu ketika SMA (untk mas Rozy he.. he.. juga)kok begitu begitu saja. Mungkin saya terkurung dalam tempurung terus. Sejak dulu iman itu ya percaya titik rukunnya ada 6 seperti yang ditulis di buku-buku pada umumnya. Tetapi ketika terbaca (baru terbaca belum terpahami: "tidaklah mereka beragama melainkan dengan persangkaan belaka" dan "Kalau tidak engkau beri petunjuk niscaya aku termasuk ke dalam golongan yang sesat" lumayan tersentak sih, mungkin ini masalahnya! oke lah kalau dimulai dengan iman itu percaya. terus percaya apa atau apa yang menyebabkan seseorang itu menjadi percaya itu yang terus menggelitik! atau mungkin belum terpahami, sebenarnya iman itu apa sih? tertulis juga: " .. katakanlah kami telah tunduk, karena iman belum masuk ke dalam dadamu." kira-kira seperti itu. Kalau demikian tentunya iman itu suatu perkara yang real dan terukur. Dan kalau diletakkan dalam kerangka yang lebih besar, yaitu dalam kerangka agama secara utuh, tentunya akan jelas sebenarnya posisi iman itu dimana? mungkin yang satu ini dulu nanti yang lain menyusul. Tks mas Rozy "Rozy Andrianto" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Maaf, mas Panca. Saya tidak memahami maksud anda. Terlalu banyak Apa sih? Apa itu? dan Untuk Apa? Juga terlalu banyak sekali pertanyaannya. Saya kuatir kalau saya jawab semua, nanti dikira anak SMA Buku kunci jawaban Ebtanas..He..he,,. Rozy -----Original Message----- From: Panca Nur Prasetya <[EMAIL PROTECTED]> To: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]> Date: 11 Maret 1999 20:08 Subject: [Tasawuf] Re: [ RE: [Tasawuf] Jangan lupa syariat.......?] Coba kalau di tasawuf Islam, ayat Qur`an dan Hadits dihilangkan, syariat tidak dipakai, Apakah ini baru merupakan hipotesis, atau sudah penilaian final yang tak diubah lagi? Kalau masih hipotesis, kita masih bisa bersama-sama mengujinya, tapi kalau sudah final, ya silakan saja meyakini kesimpulan anda. Saya tidak melihatnya demikian. Jangan masalah pencarian kitab suci donk yang dibandingkan, saya ngerti kok rekan-rekan tasawuf di milis ini tidak sedang cari kitab suci ke barat. Dan saya juga yakin kok disini tidak ada siluman Kerbau dan siluman Babi seperti di film tersebut. Tasawuf itu mencari 'kitab suci', mas! Kitab suci yang tidak bisa dibaca dengan panca-indera. Rasanya kok tokoh-tokoh siluman itu ada di antara kita. Saya sendiri memiliki karakter buruk seperti kera itu: gemar berantem dan mau menang sendiri. Saya berusaha mengingat: "Tidaklah mereka beragama melainkan dengan persangkaan belaka" "Kalau tidak engkau beri petunjuk niscaya aku termasuk ke dalam golongan yang sesat" apa itu petunjuk? untuk apa? Mungkin apa itu kitab suci itu sendiri kita belum memahaminya? kalau ada yang memahaminya tolong dijelaskan. dituliskan juga "beriman kepada kitab yang tewlah diturunkan sebelumnya" mari kita renungkan apa itu kitab yang diturunkan sebelumnya? apa makna beriman? apa hanya bisa dikatakan: kitab X bukan dari tuhan, kitab Y sudah banyak dirubah orang. kalau memang iya bagaimana kita yakin dengan pertanggungjawabanya. atau hanya mengikuti itu kata si anu, itu terdapat dalam kitab anu, atau itu hanya persangkaan kita saja? sesuatu yang sangat tepat untuk kita renungkan sambil berharap petunjuk-Nya! Bagaimana itu yakin bahwa benar petunjuk-Nya? Jangan-jangan cuma persangkaan kita belaka??? Nah, inilah yang saya maksud. Harus ilmiah !! Apakah kita dapat meng-ilmiah-kan / me-logika-kan / me- metodologi-kan semua ajaran Alloh. Bukankah ajaran Alloh itu bila kita tulis dengan seluruh air laut di bumi ini sebagai tintanya masih kurang. Apakah mursyid dalam tasawuf itu sudah terjamin bahwa pengetahuannya sudah melebihi atau sama dengan ajaran Alloh, sehingga dapat meng-ilmiah-kan semua ajaran Alloh?? Sebagai contoh ekstrim ayat Alif lam mim, kan tidak ada yang tahu artinya kecuali Alloh. Dalam tasawuf, Allah diyakini tidak lebih jauh dari urat leher kita sendiri, namun kita sendiri jauh dari-Nya. Kalau kita mendekat kepadanya, sebegitu dekat hingga derajat tertentu, kita akan ditulari ilmunya: setitik di antara lautan itu cukuplah sudah bagi kita. Metodologi yang kita sebut-sebut itu mengacu pada bagaimana cara kita mendekatkan diri hingga memperoleh setetes ilmu itu. Jadi bukan ilmu Allah sendiri yang diilmiahkan, tetapi prosedurnya. Fakta ilmu apapun, termasuk ilmu Allah, selama diperoleh melalui suatu metodologi yang jelas, ia disebut ilmiah. Kita memang berawal dari otak yang terdapat dikepala kita, itu bekal awal semuanya dapat. apa terus berhenti di situ. merasa cukup? kemana sih kitab itu diturunkan? di otak? logika? ilmiah? apakah sudah yakin benar? "tidakkah kamu memikirkannya?" apakah selama ini kita sudah mikir? apakah benar cara kita mikir? atau hanya ikut persangkaan belaka!!! sebenarnya dengan apa sih 'mikir' itu? seyogyanya mari kita buka kitab lagi kalau 'ilmu' itu menetes, kemana akan menetes? apakah ilmu itu? tidakkah selama ini kita mengebiri makan ilmu itu sendiri? supaya p[as dengan akal kita? "tanpa petunjuknya niscaya aku sesat" sudahkah kita siapkan wadahnya, atau kita terlalu tinggi dengan logika kita sehingga tidak ada ceruk untuk menampung tetesan ilmu!! Siapa bilang Alif, laam, miim, tidak ada yang tahu artinya??? Benar, tidak ada yang tahu? atau karena terlalu tinggi ilmiah kita sehingga tak ada tempat untuk menampung tetesan ilmu!!! Bukankah kita sebagai muslim diperintah supaya beriman. Apa beriman itu, iman ialah percaya. Bagaimana kepercayaan itu, kepercayaan itu dalam arti kita harus percaya TITIK, THAT`S ALL, FINISH. Tidak peduli ilmu kita sudah mencapainya atau tidak, kita harus percaya. Memang dengan dapat mengetahui asal-usul, sebab, arti, makna dan sebagainya itu dapat membuat kita lebih khusuk. Nah, apakah keterangan-keterangan itu sudah sesuai dengan apa yang dimaksud Alloh?? Bukankah lebih aman keterangan-keterangan itu dicari dari Nabi Muhammad melalui hadits, dimana Nabi menerima keterangan langsung dari Alloh melalui Malaikat Jibril. Ya, lebih aman begitu bagi orang yang tidak menguasai metodologi tasawuf dan tidak berminat menjalankannya. Tetapi Allah menciptakan manusia selalu berpasangan: lelaki-perempuan, tampan-memble, tinggi-pendek, dermawan-pelit, dll, termasuk yang anti dan pro tasawuf. Bayangkan kalau lelaki dan perempuan itu selalu saling mengenyahkan dan merasa benar sendiri - bukankah runyam dunia ini. Begitu pula yang anti dan pro tasawuf, biarlah berjalan sendiri-sendiri menurut sunnatullah. Saling mengingatkan dengan cara yang haq; itulah mungkin yang terbaik. Dalam pandangan saya, tasawuf tidak akan merusak iman, tetapi justru akan mempertebal iman. Iman itu adalah percaya meskipun tidak melihat. Nah, kalau kita mula-mula meyakini melalui iman bahwa ada api yang panas, lalu kita mendekat ke api itu dan merasakan bagaimana jari kita dijilat api - maka hal ini sama sekali tidak merusak iman itu. Sebaliknya, pemahaman kita tentang api menjadi semakin luas, tidak hanya sebatas apa yang diceritakan orang. Demikianlah gambaran tasawuf. Neraka dan sorga bukan lagi gambaran dalam angan-angan, tetapi benar-benar dirasakan. SIAPA BILANG iman itu percaya!!! dan titik!!!! terus beres!!! SIAPA YANG BILANG??? "katakanlah kamu belum beriman tetapi kami telah tunduk!, karena iman itu belum masuk ke dalam dadamu" apa itu iman?, apa itu dada?, bagaimana iman akan masuk? tidak kah kita mau mencarinya? mungkin kita perlu membersihkan dada kita, MEMBERSIHKAN, bukan ingin membersihkan dada atau tahu tentang kebersihan dada atau membaca tentang kebersihan dada ataungobrol tentang membersihkan dada atau menulis tentang membersihkan dada atau merasa membersihkan dada apa saja sebatas sekali lagi prasangka membersihkan dada tetapi bener-bener MEMBERSIHKAN dada? dengan harapan kalau-kalau dada kita akan dijadikan-Nya seceruk wadah sehingga bisalah kiranya tetesan ilmu itu bersemayam pada tempatnya. Mungkin anda menjawab, Lho silsilah tasawuf langsung berhubungan dengan Nabi. Jadi apa yang diajarkan sesuai dengan Nabi. Namun rekan-rekan disini masih belum jawab tentang silsilah thareqot dimana ditengah-tengahnya sanadnya terputus, dimana antara guru yang satu dengan muridnya, terpisah kehidupannya. Terus dijawab tersambung melalui roh. Apakah ini ilmiah?? Tidak semua aliran tasawuf mengandalkan silsilah itu. Aliran saya sendiri termasuk tidak bertali silsilah dengan Nabi. Kuncinya sebenarnya terletak pada metodologi yang dipakai oleh tiap aliran. Apakah metode yang diterapkan telah terbukti membuahkan hasil dengan baik tanpa efek samping. APA SIH SILSILAH itu? kalau dalam ajaran memang tertulis demikian, apasih makna yang sebenarnya? sekali lagi kawan, tidak cukup dengan logika. "sesungguhnya kitab ini diturunkan ke dalam dada orang yang diberi ilmu" sekali lagi apa sih maksud silsilah? apa nggak ada pengertian lain? Lho saya khan bukan orang tasawuf, jadi saya tidak bisa donk nulis kajian Tasawuf. Saya pernah mengingatkan seorang rekan. Tasawuf itu ibarat jalan raya. Okelah kalau anda berminat untuk ikut arus. Tapi kalau anda hanya berdiri di pinggir jalan, nonton kelakuan orang lewat, nguping apa yang mereka bicarakan, ini bisa berbahaya. Sebaiknya anda pulang ke rumah. Ikuti ajaran guru agama anda. Ini lebih aman. Siapa sih yang membikin organisasi tasawuf, sehingga bisa dikatakan saya bukan tasawuf? atau saya ini orang tasawuf? apasih tasawuf itu? mari kita renungkan kembali apa sih tasawuf, apa sih ayariat itu? Nah, anda sendiri yang jawab. CUKUP. Jadi syariat yang benar sudah segalanya. Yang tidak cukup ialah yang belum mempelajari Qur`an dan Hadits secara benar. Bila pelajari benar, muslim sudah tahu puasa bukan hanya tidak makan minum, zakat harus iklas dan sebagainya Bagaimana iklas itu, nabi menjawab dalam haditsnya, dll. Cara sholat khusyu` di hadits juga ada.. syariat sudah cukup!!, cukup untuk apa? sudah puas? sudah paham betul? nanti nyesal lho? atau bisa kita mulai dengan mencari dalam kitab jawaban dari: agama itu apa? bagaimana beragama? islam itu apa? siapa yang islam? bagaimana ber-islam? iman itu apa? siapa yang beriman? bagaimana beriman? untuk apaiman itu? apa selanjutnya setelah iman? Ya, benar. Masalahnya, kita perlu jujur: kita sudah bisa apa belum dalam khusyu, ikhlas, ridha dll. sesudah sekian lama? setelah itu mungkin kita tanyakan apa itu ikhlas? siapa mereka? bagaimana mereka? apalagi tentang ridha! Ya Allah sesungguhnya Engkaulah yang mengetahui perkara ini, ampunilah hamba dengan segala kebodohan hamba janganlah Kau biarkan hamba mengajari dan mengatur diri hamba sendiri bimbinglah hamba yaa Allah, tetapi hamba pun tidak yakin apakah hamba siap Engkau bimbing. Ampunilah hamba yaa Allah tunjukilah hamba, karena tanpa petunjuk-Mu niscaya hamba masuk ke dalam kaum yang sesat. ampunilah hamba yaa Allah, karena ini mungkin hanya rampokan hamba terhadap munajat kepada-Mu, mungkin hanya ocehan hamba, hanya pikiran hamba, obsesi hamba, atau hanya prasangka hamba semata, tunjukilah hamba jalan kepada-Mu yaa Allah dan berilah hamba kemampuan untuk mengikuti petunjuk-Mu. amin Wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. RS=00=00 > --------------------------------------------- > Attachment: text/plain; charset= > MIME Type: text/plain > --------------------------------------------- ____________________________________________________________________ Get free e-mail and a permanent address at http://www.netaddress.com/?N=1 --------------------------------------------------------------------- Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED] Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED] Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected] Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P) --------------------------------------------------------------------- Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED] Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED] Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected] Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P) ____________________________________________________________________ Get free e-mail and a permanent address at http://www.netaddress.com/?N=1 --------------------------------------------------------------------- Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED] Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED] Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected] Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)
