Assalaamu 'alaikum wr. wb.
Karena sampai saat ini tidak ada cerita lanjutan mengenai Fenomena
Shahabat dan saya memang sebenarnya tidak berminat gebug-gebugan :-),
tetapi saya juga tidak ingin masalah ini dibiarkan menggantung maka
berikut saya kutipkan sebagian dari pemahaman saya mengenai fenomena
shahabat menurut Sunni dan menurut Syiah. Tulisan ini cukup panjang
tetapi barangkali memberikan prespektif lain dalam fenomena sahabat
tersebut. Dan saya harapkan anggota milis memahami mengapa sebagian
ulama sunni menganggap kaum syiah menodai kesucian sahabat Nabi. Dan
juga memahami dasar-dasar argumen masing-masing pihak.
Barangkali sebagian dari pemahaman saya ini salah, maka anggota milis
dapat memberikan masukannya.
.
=============
Definisi Shahabat
=============
Shahabat sesuai definisi yang disepakati adalah semua orang yang hidup
sezaman dengan nabi Muhammad SAAW dan telah memeluk islam pada saat
tersebut, serta pernah bertemu muka dengan Rasulullah SAAW pada masa
hidupnya.
Dengan definisi di atas maka jumlah shahabat adalah ratusan ribu,
menurut riwayat yang dipercaya bahwa pada haji wada' maka peserta haji
wada' tersebut berjumlah sekitar 140000 (seratus empat puluh ribu),
seluruhnya perdefinisi adalah shahabat, tidak terhitung muslim lain yang
pernah bertemu dengan Rasulullah meski tidak ikut Haji Wada' tersebut.
Definisi seperti di atas perlu dipahami dengan baik, karena barangkali
sebagian orang berpikir bahwa shahabat cuman beberapa puluh orang yang
selalu bersama nabi. Sahabat bukan cuman segelintir Muhajirin dan Anshor
yang diceritakan dalam peristiwa Hijrah. Sahabat adalah ratusan ribu
orang yang bahkan sebagian besar namanya tidak tercatat dalam sejarah.
=========================
Kualitas Shahabat menurut Sunni
=========================
Generasi shahabat adalah generasi yang mulia yang langsung dididik oleh
Rasulullah SAAW. Rasulullah SAAW yang mulia menanamkan sendiri dengan
tangannya yang mulia tentang ajaran islam ke dada sahabat-sahabatnya.
Sebegitu mulianya mereka ini sehingga dalam mustalah-hadist
Kutubush-sittah maka tidak perlu dilakukan Jarh-wa Ta'dil terhadap
generasi shahabat. Seluruh sahabat otomatis adalah Udul.
Sikap mereka tersebut berdasarkan pernyataan ayat al Qur'an yang
mendeklarasikan ke'adalahan sahabat. Ayat-ayat itu antara lain terdapat
pada QS. Attaubah:117: "Sesungguhnya Allah telah menerima taubat Nabi,
orang- orang Muhajirin dan orang-orang anshar". Juga QS. Attaubah:100. "
Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di
antara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti
mereka dengan baik, Allah ridla kepada mereka dan merekapun ridla kepada
Allah".
Dan Rasulullah Saw. dalam banyak kesempatan telah berwanti-wanti agar
tidak mengusik harga diri dan kedudukan sahabat, mengingat kedudukan
mereka yang mulia di sisi Allah Swt. Rasulullah Saw. bersabda: "Jangan
kalian kecam sahabat-sahabatku" (Hadist Mutatafaq 'Alaih).
Oleh karena itu maka seluruh shahabat adalah manusia yang adil, manusia
yang telah mendarma-baktikan seluruh hidupnya untuk bahu-membahu
menegakkan islam bersama Rasulullah. Pendek kata shahabat tidak mungkin
melakukan perbuatan yang melawan ajaran agama.
========================
Kualitas Shahabat menurut Syiah
========================
Alquran merekam kualitas keimanan kaum muslimin di sekitar nabi (red :
baca sebagai shahabat), diantaranya dicantumkan dalam surat Attaubah.
Pada beberapa puluh ayat pertama, menerangkan tentang perintah untuk
memutuskan perjanjian dengan kaum musyrikin quraish. Sedang ayat-ayat
berikutnya menceritakan kualitas orang orang yang mengaku islam di
sekitar nabi (= shahabat). Ayat 100 yang dijadikan landasan 'udul' nya
sebagian shahabat oleh sebagian ulama sunni misalnya, langsung disambung
dengan ayat 101 yang menceritakan bahwa sebagian lainnya adalah munafik,
serta sebelumnya ayat 97-98 menjelaskan bahwa sebagian muslim disekitar
nabi itu adalah badui yang 'lebih wajar tidak mengetahui hukum-hukum
yang diturunkan Allah kepada Rasulnya', 'amat sangat kekafirannya',
'merasa rugi menafkahkan zakat' dll. Sebagian lagi diterangkan dalam
ayat 102 adalah "mereka mencampur-baurkan perkerjaan yang baik dengan
pekerjaan lain yang buruk".
Bahkan dalam memahami QS Attaubah:100 (dan 117) di atas dimana Allah
mengatakan Ridho terhadap mereka. Maka ayat tersebut menunjuk pada
SEBAGIAN (bukan SELURUHNYA) diantara Muhajirin dan Anshar yang pada
peristiwa hijrah ("DI ANTARA orang-orang muhajirin dan anshar dan
orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik") + orang-orang muslim
lainnya yang mengikuti mereka dengan baik. Orang yang tersangkut dalam
peristiwa hijrah paling hanya ratusan orang dan bukan 140000 orang,
apalagi Allah mengatakan bahwa hanya SEBAGIAN diantara mereka yang
diridhoi oleh Allah SWT jadi mungkin hanya puluhan saja yang masuk dalam
QS 9:100 tersebut. Untuk orang-orang yang dimaksud dalam ayat ini maka
kaum muslim diperintahkan menghormati mereka. Sebagian besar diantara
mereka ini adalah 70 syuhada dalam perang uhud.
Rasulullah menghadapi tantangan yang keras dari luar dan dalam dalam
menegakkan Diin. Dari luar beliau menghadapai kaum musyrikin Quraish,
Yahudi dll yang tiada hentinya berusaha memadamkan cahaya Allah. Dari
dalam beliau mendapat kesulitan yang pahit dalam menanamkan penghayatan
yang benar tentang Islam ke dalam jiwa orang-orang yang mengaku islam
tersebut. Hal ini direkam dalam hampir keseluruhan surah attaubah
tersebut. "Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu
sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan
(keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang
terhadap orang-orang mu'min. (QS. 9:128)"
Rasulullah SAAW tidak mengajarkan agama islam kepada shahabatnya dengan
cara yang gaib, melainkan sesuai sunnatullah. Prestasi yang mengagumkan
bahwa dalam 23 tahun beliau berhasil menarik 140.000 pengikut. Beberapa
ratus diantara 140.000 shahabat tersebut yang memahami islam dengan
benar. Beberapa gelintir diantara mereka telah mampu mensucikan jiwanya
sampai dengan tahap tertentu, sebagian kecil lagi yaitu yang disebut
ahlulbait telah mencapai puncak kemanusiaan yaitu telah bertemu diri.
Sebagian besar dari 140.000 masyarakat muslim yang hidup pada zaman nabi
adalah muslim yang mentah dalam memahami diin-nya. Beberapa muslim
bahkan mungkin berubah murtad kembali setelah meninggalnya Rasulullah
SAAW seperti disinyalir dalam QS 3:144 dan 5:54.
Kebanyakan dari 140.000 orang tersebut masuk islam karena menyerah dalam
perang Khaibar, ataupun Fatah Mekkah serta perang-perang lain yang
dilakukan dalam beberapa tahun terakhir menjelang wafatnya Rasulullah.
Sebagian diantara orang yang menyerah (dan mengaku sebagai muslim) ini
bahkan memiliki kedengkian yang besar terhadap Rasulullah dan orang
orang terdekatnya karena kekalahan dalam peperangan dengan Rasulullah
SAAW, karena terbunuhnya anggota keluarga mereka oleh Rasulullah dan
orang-orang terdekatnya.
Sebagian lagi bahkan cuman manusia badui yang memiliki kapasitas
terbatas untuk mampu mengembangkan diri (seperti islamnya sebagian besar
kaum 'sangat awam' di indonesia).
Hanya sedikit diantara 140.000 orang tersebut yang benar-benar memiliki
kesempatan untuk selalu berkumpul dengan Rasulullah, sehingga Rasulullah
mampu menanamkan benih keimanan di dalam hati mereka. Hanya sebagian
kecil diantara yang berkumpul dengan Rasulullah ini yang mencintai
Rasulullah SAAW lebih daripada mencintai dirinya sendiri. Hanya sebagian
kecil lagi yang mencintai Rasulullah ini mampu mengembangkan jiwanya
hingga ke tingkatan jiwa yang cukup tinggi apalagi hingga 'bertemu diri'
sehingga menjadi ahlulbait seperti yang dijamin dalam QS 33:33, serta
dalam hadist al-kisa yang menerangkan ayat di atas.
Komposisi 'Shahabat' menurut kacamata syiah barangkali dapat diterangkan
sbb:
1. Segelintir manusia yang mencapai puncak kemanusiaan. Yang telah
bertemu diri yaitu 'ahlulbait nabi' QS 33:33.
2. Orang-orang yang memahami islam dengan cukup baik dan telah
menjalankan pensucian jiwa hingga tingkatan tertentu QS 9:100 dll.
3. Orang-orang islam yang 'berkerumun di pinggir jalan', yang
berkeinginan untuk melakukan pensucian jiwa meski belum tahu caranya.
4. Orang-orang yang biasa-biasa saja dalam keislamannya 'mereka
mencampur-baurkan perkerjaan yang baik dengan pekerjaan lain yang buruk'
QS 9:102.
5. Orang-orang badui yang tidak memiliki penghayatan yang benar dalam
beragama. Masuk islam hanya karena 'trend'. Orang-orang 'sangat awam'
yang memiliki penghayatan agama sangat dangkal.9:97
6. Orang-orang yang masuk islam karena terpaksa, yang membenci nabi dan
orang-orang terdekatnya karena terbunuhnya keluarga mereka. Mereka
inilah yang dicap sebagai Allah sebagai kafir & munafik meski mengaku
sebagai islam. Mereka tidak menginginkan kebaikan apapun bagi kaum
muslimin. "Di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang menyakiti
Nabi" QS 9:61
7. dll...dll seperti yang dijelaskan dalam surat At-taubah.
Pendek kata, dalam kacamata syiah maka dari 140.000 shahabat ini tidak
lantas semuanya sudah 'bertemu diri' sehingga perkataan dan perbuatan
mereka pantas dijadikan sumber dalam beragama. Tidaklah lantas
mengecilkan keberhasilan Rasulullah, bahkan merupakan sukses sangat
besar bahwa Rasulullah berhasil menciptakan misalnya 10 orang yang
bertemu diri dari 140.000 muslim saat itu, serta puluhan orang lainnya
yang berhasil menaikkan tingkatan jiwanya diantara Muhajirin dan Anshar.
Tetapi Rasulullah juga tidak berdaya memadamkan seluruh kebencian di
hati sebagian orang muslim taklukan perang, sebagian diantara mereka
dicap Allah sebagai Munafik dan Kafir.
========================
Kaum Syiah mengecam Sahabat ?
========================
Dengan keyakinan bahwa tidak seluruh sahabat memang berkualitas untuk
dijadikan sumber agama maka hadist-hadist dalam khazanah syiah hanyalah
diriwayatkan dari orang-orang tertentu (dengan kata lain, jarh wa ta'dil
dilakukan juga terhadap shahabat). Dengan keyakinan serupa maka tingkah
laku sebagian sahabat diulas nyata-nyata sangat merugikan islam.
Sebagian Ijtihad yang dilakukan sahabat ditolak oleh kaum syiah,
sedangkan kaum sunni menerima semua ijtihad sahabat.
Karena kaum syiah menceritakan tingkah laku sebagian sahabat yang sangat
merugikan islam, kaum syiah dianggap 'mengkafirkan' dan mengecam
shahabat.
Secara umum, kaum sunni menganggap tingkah laku semua sahabat tidak
layak untuk dikecam, semua tingkah laku mereka dianggap 'bukan mereka
yang menggerakkan tangan mereka melainkan Allah, bukan mereka yang
menggerakkan mulut mereka melainkan Allah dst'. Sedangkan kaum syiah
tidak menerima demikian.
Dengan pandangan seperti itu maka tingkah laku Muawiyah (shahabat yang
masuk islam setelah fatah mekkah ?) yang menyerang kekhalifahan Ali
dianggap 'atas kehendak Allah', tidak secuilpun ulama sunni mengecam
Muawiyah bahkan menceritakan kebaikan Muawiyah dalam banyak hadist,
Mengapa? karena Muawiyah adalah sahabat nabi !. Sedangkan ulama syiah
mengecam tingkah laku Muawiyah habis-habisan. Ulama sunni juga
menceritakan kebaikan Abu Sufyan (sahabat yang masuk islam pada fatah
mekkah) karena dia adalah sahabat, sedangkan ulama syiah menceritakan
busuknya kebencian Abu Sufyan terhadap islam.
Sampai titik kecaman terhadap Muawiyah dan Abu Sufyan barangkali masih
tidak menjadi masalah yang berat bagi sebagian ulama sunni karena dalam
hati sebenarnya mudah mengakui bahwa kedua orang tersebut bukanlah
manusia yang 'mulia'.
Nah berikut ini barangkali menjadi masalah yaitu kerika menyangkut
penolakan terhadap sebagian ijtihad dari orang-orang yang dianggap
tokoh-tokoh utama dalam sejarah islam seperti Abu Bakar, Umar dan
Aisyah.
Kaum syiah menolak ijtihad Umar bin Khattab tentang sholat Tarawih dan
Nikah Mutah maupun dalam beberapa hal lainnya karena dianggap
bertentangan dengan kata-kata Rasulullah SAAW sendiri. Karena kaum syiah
berani menolak ijtihad Umar maka dikatakan menodai kesucian sahabat
Rasul. Kaum syiah juga menolak keras ijtihad Abu Bakar dalam hal 'Tanah
Fadak', yang mengakibatkan memutus urat nadi ekonomi ahlulbait nabi.
Karena penolakan ini maka kaum syiah dianggap mengecam shahabat. Kaum
syiah juga menolak ijtihad Aisyah yang menggerakkan ribuan muslim
menyerang khalifah Ali sehingga mengakibatkan ribuan kaum muslimin
tewas. Karena penolakan ini maka dianggap kaum syiah menodai kehormatan
sahabat nabi.
Karena kaum syiah juga menolak sebagian ijtihad tokoh-tokoh utama islam
maka disinilah kaum syiah dikecam habis-habisan. Ulama sunni menerima
apapun ijtihad ketiga orang di atas dan dianggap tidak mungkin mereka
melakukan kesalahan. Sedangkan ulama syiah menganggap salah sebagian
ijtihad mereka.
Wassalaamu 'alaikum wr. wb.
Saya kutipkan sebagian ayat-ayat dalam surat attaubah tsb:
Di antara orang-orang Arab Badwi yang di sekelilingmu itu, ada
orang-orang munafik; dan (juga) di antara penduduk Madinah. Mereka
keterlaluan dalam kemunafikannya. Kamu (Muhammad) tidak mengetahui
mereka, (tetapi) Kami-lah yang mengetahui mereka. Nanti mereka akan kami
siksa dua kali kemudian mereka akan di kembalikan kepada azab yang
besar. (QS. 9:101)
Dan mereka bersumpah dengan (nama) Allah, bahwa mereka termasuk
golonganmu; padahal mereka bukan dari golonganmu, akan tetapi mereka
adalah orang-orang yang sangat takut (kepadamu). (QS. 9:56)
Di antara mereka ada yang menyakiti Nabi dan mengatakan:"Nabi
mempercayai semua apa yang didengarnya". Katakanlah:"Ia mempercayai
semua apa yang baik bagi kamu, ia beriman kepada Allah, mempercayai
orang-orang mu'min, dan menjadi rahmat bagi orang-orang yang beriman di
antara kamu". Dan orang-oang yang menyakiti Rasulullah itu, bagi mereka
azab yang pedih. (QS. 9:61)
Mereka bersumpah kepada kamu dengan (nama) Allah untuk mencari
keridhaanmu, padahal Allah dan Rasul-Nya yang labih patut mereka cari
keridhaannya jika mereka adalah orang-orang yang mu'min. (QS. 9:62)
Tidakkah mereka mengetahui bahwasannya barangsiapa menentang Allah dan
Rasuil-Nya, maka sesungguhnya neraka Jahannamlah baginya, dia kekal di
dalamnya. Itulah adalah kehinaan yang besar. (QS. 9:63)
Mereka bersumpah dengan (nama) Allah, bahwa mereka tidak mengatakan
(sesuatu yang menyakitimu). Sesungguhnya mereka telah mengucapkan
perkataan kekafiran, DAN TELAH MENJADI KAFIR SESUDAH BERIMAN, dan
menginginkan apa yang mereka tidak dapat mencapainya; dan mereka tidak
mencela (Allah dan Rasul-Nya), kecuali karena Allah dan Rasul-Nya telah
melimpahkan karunia-Nya kepada mereka. Maka jika mereka bertaubat, itu
adalah lebih baik bagi mereka, dan jika mereka berpaling, niscaya Allah
akan mengazab mereka denga azab yang pedih di dunia dan di akhirat; dan
mereka sekali-kali tidak mempunyai pelindung dan tidak (pula) penolong
di muka bumi. (QS. 9:74)
---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)