Assalamu'alaikum w.w.
Sekali lagi saya merasakan suasana "tidak enak" dalam isi e-mail Bung Nadri
ini.
Saya mengerti mungkin Bung Nadri dan Ahmadiyahnya kecewa dengan MUI, akan
tetapi apakah kekecewaan ini mesti diliputi dan dibalas dengan dendam
kesumat sepanjang masa ?.
Apakah dengan membalas dengan tuduhan dan caci maki terhadap MUI yang Bung
Nadri dapat beritanya juga bukan dari sumber pertama, akan tetapi dari
berita koran yang kita tahu pasti sudah mengalami editing, maka otomatis
Ahmadiyah akan menjadi benar dan lebih baik ?.
Apakah mengungkap masalah yang terjadi tahun 1997, dimana mungkin ada dari
kita yang tidak memperhatikannya dan tidak mengetahui masalah tersebut,
lantas persoalan akan menjadi terbalaskan ?
Apakah dengan menuduh dan mencaci maki MU (sombong, angkuh, menipu,
sejahat-jahatnya makhluk), lantas Ahmadiyah menjadi lebih bersih ?. Apakah
tidak sama saja Bung nadri dengan peserta seminar tersebut, yaitu sama-sama
mengadili mereka tanpa yang diadili sempat membela diri ?. Apakah Bung
Nadri merasa puas dengan cara begitu ?.
Apakah menuduh Buya Hamka menipu tanpa beliau bisa membela diri atau ada
yang bisa membela beliau dalam milis ini (karena tidak tahu duduk
masalahnya), lantas Bung nadri dan Ahmadiyahnya lantas otomatis jadi benar
?. Kemudian siapa peserta milis lain yang bisa membenarkan dan menjamin
bahwa apa yang Bung nadri sampaikan tentang Buya Hamka atau Ulama besar A.
Hasan (dalam e-mail sebelumnya) adalah benar atau sebaliknya salah ?.
Apakah fair jika kita akan mengadili mereka sementara tidak ada yang tahu
persoalan ini selain Bung Nadri di milis ini ?. Kalaupun ada yang tahu,
apakah urgent kita membahasnya dalam milis ini ?.
Apakah dengan mengumbar kemarahan dan caci maki terhadap MUI lantas Bung
Nadri merasa puas dan dendam kesumatnya terlampiaskan ?. Inikah yang kita
tuju dalam diskusi miling list tasawuf ini ?.
Kita sendiri tahu dalam sejarah Islam, tidak semuanya indah. Zaman dahulu
banyak kejadian diantara tokoh Islam yang saling mengkafirkan antar
kelompok. Kelompok Muktazilah, kelompok Syi'ah Imamiyah, kelompok
Ahlussunnah, kelompok Syi'ah Zaidiyah, dll sering mengeluarkan fatwa kafir
terhadap lawan mereka. Malah tidak jarang terjadi sampai pertumpahan darah,
malah sejak Rasul wafat, pertentangan antar kelompok ini sudah mulai
merebak.
Lantas apakah perbedaan tersebut akan kita pertajam lagi dan ditambah
bumbui lagi dengan emosi dan segudang dendam kesumat ?. Apakah tidak bisa
kita bahas hal-hal yang akan menyatukan kita ?. Atau minimal apakah tidak
bisa kita bahas dengan cara yang lebih bernuansa ilmiah, sebagaimana kita
sebagai orang yang "terdidik" (mungkin). Apa manfa'at dari segi tasawuf
yang kita dapat dengan membangkitkan lagi emosi perbedaan yang ada
dikalangan ummat Islam (di milis ini belum tentu kita saling berbeda
frontal).
Apakah dengan mengungkap masalah MUI tersebut Bung Nadri menganggap kita
semua disini pro semua dengan keputusan MUI ?. Atau kalau ada yang Pro
dengan MUI lantas Bung Nadri mengajak untuk saling bertukar makian dalam
milis ini ?.
Astaghfirullah al 'azhim.
Saya usul agar ungkapan emosi dan dendam kesumat ini tidak muncul lagi di
milis. Kenapa kita tidak belajar cara mengungkapkan perbedaan seperti Mas
Ali Abidin menerangkan perbedaan Sunny dan Syi'ah dengan cara yang
diusahakan se 'fair (seadil) mungkin ?. Jika ada yang merasa kurang adil
dan tidak tepat, mas Ali mempersilahkan menanggapinya dengan terlebih
dahulu mengatakan bahwa dirinya bisa saja salah.
Mudah-mudahan Bung Nadri di milis tasawuf ini bisa lebih memperbaiki cara
penyajian bahasanya, agar tidak seperti di milis Apakabar atau milis lain.
Atau kalau ini merupaka koleksi tulisan Bung Nadri yang pernah muncul di
milis lain (saya lihat sebagian besar merupakan tulisan yang sama yang
muncul di milis lain), saya sarankan tolong diedit ulang bahasanya dan
dipikir ulang apakah pantas tulisan ini muncul dalam milis Tasawuf ini.
Saya bukan pengurus milis ini, saya hanyalah salah seorang anggota milis
yang berniat memperbaiki diri saya yang kotor penuh lumpur, dan saya belum
sampai mampu membersihkan lumpur di tubuh saya. Saya baru sampai tahap
mampu sangat sedikit sekali membedakan mana yang lumpur dan mana yang air
bersih. Saya melihat di milis tasawuf ini kemungkinan tersedia "sedikit"
air bersih untuk membersihkan lumpur di tubuh saya. Kemudian saya merasa
belakangan ini ada tawaran air yang saya lihat tidak berwarna jernih. Saya
takut air bersih yang akan saya pakai itu tercampur dengan air "berwarna",
padahal air itu akan saya pakai untuk membersihkan diri saya. Mungkin
anggota lain juga ingin memakai air bersih tersebut. Ada anggota yang
sensitif, dengan sedikit terasa atau terlihat tidak bersih, lantas pergi
mencari kemungkinan sumber air bersih (murni) lain. Saya karena belum tahu
sumber lain yang mudah didapat, ingin ikut menjaga sumber air bersih ini
agar tidak dicampur dengan air merah atau kuning atau air garam atau air
gula, atau bahkan air lumpur lagi.
Mohon ma'af jika saya yang masih kotor ini ingin mengajak Bung Nadri untuk
menjaga Kebersihan dan kemurnian sumber "air bersih" ini. Jika yang
tersedia di Bung Nadri hanya air berwarna dan tidak tersedia atau tidak
bersedia mengeluarkan air bersih, bagaimana kalau bergabung atau tuangkan
saja air tersebut dalam milis sejenis, karena saya bermaksud bergabung
disini salah satunya dengan maksud mencari hanya air bersih. Tetapi untuk
mengenli air berwarna atau air rasa lain agar saya juga mengenal dunia
luar, saya (dan mungkin juga teman-teman lain) ikut juga dalam milis lain.
Jadi sebaiknya kita berjumpa tulisan air berwarna di milis lain saja.
Inilah pendapat saya untuk Pak moderator. Atau pak moderator menganggap ini
proses pembelajaran ?.
Sekian dari saya, dan mohon ma'af atas kekurangan dan kekhilafan saya.
Wassalamu'alaikum w.w.
Satria Iman Pribadi
(Yang sedang memulai belajar mengenal cara membersihkan diri)
----------
> From: Nadri Saadudin <[EMAIL PROTECTED]>
> To: 'Tasawuf' <[EMAIL PROTECTED]>
> Subject: [Tasawuf] [1/2] Tanggapan SEMINAR MUI TENTANG SYI'AH.....
> Date: Wednesday, March 17, 1999 11:08 AM
>
>
> Sebuah tanggapan....[1/2]
>
> Syi'ah-Sunni , dari sebuah Seminar yang diprakarsai MUI untuk
> mengeluarkan lagi orang-orang dari Islam..... 1/2
>
> Assalamu'alaikum wr.wb.
>
> Tertarik untuk memberikan semacam komentar tentang sebuah
> Seminar Syi'ah Sunni yang diselenggarakan sepihak oleh MUI di
> Jakarta sebagai mana diberitakan oleh Republika 22 September 1997
> , berikut adalah komentar saya pribadi tentang seminar
> tersebut...Ini adalah bagian pertama dari dua serial komentar
> saya terhadap Seminar tersebut...
>
> Republika Online, Senin, 22 September 1997, menulis sbb:
>
> > Sulit Pertemukan Syi'ah-Sunni
> >JAKARTA ... Para ulama Sunni atau dikenal sebagai Ahlussunnah wal
> >Jama'ah Indonesia sependapat tentang sulitnya mempertemukan faham
> >Syi'ah dengan paham Sunni.
>
> Nadri:
> Ini lagi sebuah statemen yang dikeluarkan oleh Para Ulama Yang
> mengaku sebagai "ahlussunnah wal Jamaah ...." tetapi sayang
> mereka mengeluarkan statemen sepihak saja tanpa mengadakan
> pertemuan dengan Ulama Syi'ah, yang ajarannya mereka bicarakan
> dan perbincangkan dalam Seminar tersebut. Pertemuan merekapun
> hanya sepihak.... kemudian mereka lantas berteriak beramai-ramai
> ...."sulit untuk mempertemukannya." Sebuah kesombongan, dan
> keangkuhan dan merasa orang yang paling tahu tentang Syi'ah ,
> paling benar dalam beragama Islam dan paling berhak untuk menilai
> kebenaran, keimanan dan ke Islaman orang lain....
>
> Republika:
> >Kesimpulan itu terungkap dalam Seminar Nasional tentang Syi'ah,
> >kemarin (21/9). Acara yang diselenggarakan Lembaga Penelitian dan
> >Pengkajian Islam dan buletin Gema al-Irsyad di aula Masjid
> >Istiqlal.
>
> Nadri:
> Panitia Seminar ini nampaknya sengaja hendak mencari "sensasi"
> dengan mengadakan Seminar di Masjid Istiqlal dan berbicara
> tentang suatu aliran yang berpengaruh di Iran dan Iraq tetapi
> sayangnya mereka sama sekali tidak kenal secara langsung dengan
> ajaran ini , kemudian mereka simpulkan saja diakhir Seminar
> dengan kata-kata seakan-akan mereka betul-betul mengenal aliran
> itu, dan seakan-akan mereka yang membikin kesimpulan itu lebih
> mengerti Islam yang sebenarnya katimbang orang Syi'ah yang mereka
> katakan "sesat" itu...
>
> Republika:
> >Seminar yang dibuka Ketua Umum MUI Pusat KH Hasan Basri itu
> >menampilkan pembicara KH Irfan Zidny MA (rais Lajnah Falaqiyah
> >Syuriyah NU), KH Dawam Anwar (Katib Aam Syuriyah NU), KH Latief
> >Muchtar MA (Ketua Umum Persis), KH Thohir al Kaff (Ketua Yayasan
> >al-Bayyinat Surabaya), Drs Nabhan Husein, Dr Hidayat Nur Wahid,
> >KH Ali Mustafa Ya'kub MA, dan KH Khalil Ridwan (Ketua BKSPPI).
>
> Nadri:
> Jelas ini adalah salah satu peran dan prakarsa dari MUI "sebuah
> lembaga yang mengklaim diri sebagai kumpulan para Ulama, pemimpin
> ummat Islam ",untuk berfatwa "mengeluarkan orang dari Islam"
> lagi... sebagaimana dilakukan mereka pada tahun 1980 dan 1984
> terhadap Jemaat Ahmadiyah tanpa mengundang orang-orang Ahmadi
> yang juga mereka fatwakan telah keluar dari Islam.....Pada hal
> Rasulullah SAW bikin Seminar tentang Kristen di Madinah adalah
> dihadiri oleh orang-orang Kristen dari Najran, tetapi MUI dengan
> KH Haji Hassan Basri bikin seminar tentang Syi'ah merasa tidak
> perlu untuk menghadirkan orang-orang Syi'ah untuk didengar
> kesaksian mereka, dan tidak seorangpun dari orang Syi'ah yang
> diundang.... Lihatlah dari list perserta yang hadir tidak
> seorangpun dari mereka yang merupakan orang-orang Syi'ah atau
> setidak-tidak cendekiawan yang netral semisal Nurkholis Madjid,
> Jalaluddin Rahmat ataupun Abdurarrahman Wahid... Seratus persen
> yang hadir dan memberikan komentarnya tentang Syi'ah adalah
> mereka yang sengaja telah memandang Syi'ah sebagai aliran sesat
> tanpa merasa perlu mendengar pertimbangan lain dari orang-orang
> yang mengenal Syi'ah itu....Seakan-akan mereka adalah orang-orang
> pilihan Allah yang lebih mengenal Syi'ah dari orang Syi'ah
> sendiri....
>
> Republika:
> >Para pembicara dalam seminar tersebut banyak mengungkap fakta dan
> >data tentang penyimpangan yang dibuat para penganut Syi'ah. Fakta-
> >fakta yang didasarkan kepada sumber-sumber tulisan ulama dan
> >pemimpin Syi'ah tersebut pada akhirnya menyimpulkan sesatnya
> >akidah para penganut Syi'ah.
>
> Nadri:
> Sebuah lagu lama, dengan melodi baru dari MUI...Pepesan kosong
> yang dahulunya dibalut dengan daun pisang sekarang dibungkus MUI
> dengan plastik. Mereka mengatakan telah mengungkapkan
> fakta...Fakta apa yang diungkapkan para peserta seminar itu
> tentang penyimpangan penganut Syi'ah ? Lagi-lagi , mereka hendak
> "menipu" ummat Islam dan menghasut para penguasa dengan
> mengatakan bahwa mereka mengungkapkan fakta penyimpangan itu
> berdasarkan sumber-sumber tulisan Ulama Syi'ah, sebagaimana fatwa
> MUI ditahun 1980 Buya Hamka juga menyimpulkan sesatnya Ahmadiyah
> berdasarkan "sembilan buah buku" yang sama sekali tidak punya
> judul dan bisa dibaca itu....
>
> Republika:
> >Merujuk kitab karangan Imam Khoemeini Al-Hukumat al-Islamiyah,
> >Katib Aam Syuriah NU KH Dawam Anwar menerangkan bahwa kalangan
> >Syiah menganggap Alquran yang dimiliki Sunni berbeda dengan
> >Alquran yang ada di tangan Imam Syiah (Imam Mahdi).
>
> Nadri:
> Apa nggak hebat! Nama Imam Komeini mereka sebut-sebut pula dalam
> Seminar ini.Saya kira tidak sulit untuk memperoleh Al-Qur'an dari
> orang-orang Syi'ah, dan saya yakin tidak seorangpun dari peserta
> Seminar itu yang pernah melihat Qur'annya orang-orang Syi'ah atau
> kalau pernah melihat telah sengaja berbohong dengan mengatakan
> adanya perlainan itu....Begitu mudahnya mereka menyimpulkan bahwa
> ada perlainanan antara Qur'annya orang Syi'ah itu dengan Qur'an
> yang umum dikalangan Mainstream Islam yang banyak ini. Tuduhan
> Qur'an yang berlainan itu juga pernah dikemukakan oleh Professor
> Ibrahim Hossen dari MUI terhadap Ahmadiyah... tapi sampai
> sekarang apa yang beliau tuduhkan itu hanyalah fitnah yang sampai
> sekarang tidak terbukti...
>
> Lihatlah betapa tidak malunya mereka mengatakan hal ini, seakan-
> akan mereka tidak mempercayai bahwa Al-Qur'an itu sampai hari
> kiamat tidak bisa dipalsukan dan dirobah-robah orang....Allah
> yang memelihara kemurnian Al-Qur'an itu, dan mustahillah orang-
> orang Ahmadi ataupun orang Syi'ah bisa membuat Qur'an tandingan
> untuk menyesatkan banyak orang... Lihatlah betapa mereka Ulama-
> Ulama ini asal bunyi dan berbicara sesuka hati mereka saja....
>
> Ditahun 1987, saya masih ingat tuduhan serupa terhadap Syi'ah
> yang juga dilemparkan dalam sebuah seminar ditahun 1987 di
> Jakarta. Kebetulan ketika itu Nurchlois Majid yang bukan orang
> Syi'ah memperlihatkan Qur'an Syi'ah yang merupakan koleksinya
> dihadapan para Seminar itu.....yang yang membuat para penuduh itu
> melongo...dimana menurut Nurkholis tidak sedikitpun berbeda
> dengan Qur'an orang-orang yang mengaku Islam Sunni itu. Ini
> hanya tidak lain adalah fitnah yang yang dilegalisir dalam suatu
> seminar untuk mengkafirkan dan mengeluarkan orang-orang yang
> mengaku Islam dengan vonis sesat dan menyesatkan...
>
> Republika:
> >Selain itu, Syi'ah sangat mengejek, dan mencaci para sahabat
> >seperti Abu Bakar, Umar bin Khattab, dan Usman bin 'Affan.
> >"Sampai-sampai mereka menyebut para sahabat itu masuk Islam
> >karena menginginkan harta dan kedudukan saja," katanya mengutip
> >buku Aqidah al-Syiah wa al-Shahabah.
>
> Nadri:
> Sekali lagi, ini hanya sekedar tuduhan-tuduhan yang
> berlebihan...Bagaimana mungkin seorang pencinta Rasulullah SAW
> .....akan sanggup pula mengejek dan memfitnah para sahabat-
> sahabat beliau SAW. Sekali lagi saya menyimpulkan bahwa kebencian
> dari kalangan peserta Seminar ini dengan Syi'ah telah membuat
> mereka memfitnah orang-orang Syi'ah dengan menuduhkan demikian...
>
> Betapa tidak takutnya mereka menabur fitnah yang kelak mereka
> sendiri akan menuai bibit yang yang mereka tanam itu... Kita
> lihat saja!
>
>
> Wassalam,
> Nadri Saaduddin,
> Jalan Rambutan 23,
> Telp. 0765 -93072
> Duri 28884, Riau Daratan
> INDONESIA....
> ---------------------------------
>
>
>
> ---------------------------------------------------------------------
> Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
> Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
> Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
> Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)
>
>
>
---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)