----Original Message----
Subject : [Tasawuf] APA GUNANYA ? Re: [Tasawuf] [1/2] Tanggapan
SEMINAR MUI TENTANG SYI'AH.....
>From : Satria Iman Pribadi
> Sekali lagi saya merasakan suasana "tidak enak" dalam isi e-mail Bung Nadri
> ini.
> Saya mengerti mungkin Bung Nadri dan Ahmadiyahnya kecewa dengan MUI, akan
> tetapi apakah kekecewaan ini mesti diliputi dan dibalas dengan dendam
> kesumat sepanjang masa ?.
[...]
> Inilah pendapat saya untuk Pak moderator. Atau pak moderator menganggap ini
> proses pembelajaran ?.
Assalamu'alaikum w.w.
Ya, saya menangkap semua ini sebagai pelajaran bagi kita. Jangan kaget
kalau saya katakan begitu. Baik MUI, peserta seminar, Republika, Bang
Nadri, anda sendiri, reka-rekan lain, saya sendiri -- semuanya
menunjukkan suatu realita yang tak terbantahkan, suatu fakta atau
kebenaran yang hadir di depan mata kita, bahwa "tiap orang menjalankan
perannya masing-masing" dan karena itu tiap-tiap orang harus berpihak
pada sesuatu. Sebagai akibat dari keberpihakan itu, kadang-kadang
terjadi benturan antara satu pihak dengan yang lain. Itulah pelajaran
yang dapat kita peroleh. Jika kita ingin agar orang tidak berpihak,
mungkin kita harus tinggal di planet lain.
1. MUI dan peserta seminar itu punya peran tertentu; mereka merasa
berkewajiban melindungi umat Islam Indonesia [terutama orang-orang
awam] agar akidahnya tidak luntur, hingga buru-buru menerakan stempel
"sesat" pada aliran apapun yang dianggap dapat membahayakan umatnya.
Mereka berpihak kepada 'keselamatan' mayoritas umat Islam.
2. Bang Nadri pun punya peran. Melihat dengan seyakin-yakinnya bahwa
tindakan MUI tidak fair, rasa keadilannya bangkit untuk membela pihak
yang menjadi korban, dengan caranya sendiri, seobyektif mungkin, dan
semampunya. Ia berpihak kepada korban "perlakuan semana-mena" MUI
dengan sedikit mengabaikan tugas mulia yang dipikul MUI.
3. Anda sendiri, dengan sejujurnya menilai perkataan Bang Nadri
kelewatan dan mengandung dendam. Anda berpihak kepada 'kita' agar
tidak terbawa ke dalam 'luapan emosional' Bang Nadri. Untuk itu anda
harus terpaksa mengabaikan adanya sedikit obyektivitas yang
terkandung di dalam pembelaan Bang Nadri.
[Dengan menyatakan demikian, saya sendiri berpihak kepada siapa, dan
mengorbankan siapa? Silakan dinilai sendiri.]
Lihatlah, siapa yang paling benar dari ketiganya! Menurut saya, tidak
ada; semuanya benar karena membela suatu yang baik, dan semua salah
karena mengorbankan sesuatu yang baik pula. Hidup memang demikian;
tidak ada kesempurnaan. Biarpun beri'tikad baik, dalam melakukan
sesuatu selalu saja kebaikan itu bercampur dengan keburukan. Meskipun
demikian, dalam tasawuf kita diajak agar selalu berupaya
menyempurnakan diri.
Setelah sekian lama belajar agama, kita masing-masing sudah mempunyai
filter sehingga mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk,
sekurang-kurangnya dalam menilai perbuatan orang lain. Sangatlah
efektif bila dalam upaya pembersihan diri itu kita menggunakan orang
lain sebagai cermin diri, karena sungguh sangat sulit bagi kita untuk
melihat perbuatan buruk kita sendiri. Kalau kita merasa bahwa MUI
telah semena-mena menilai pihak lain, maka hendaklah kita tidak
gegabah dalam menilai orang lain. Kalau kita melihat bahwa bang Nadri
emosional dan pendendam, hendaklah kita tidak meniru. Apa yang
dipertontonkan oleh Bang Nadri sebenarnya merupakan cerminan kelemahan
kita semua; ada yang kadarnya lebih kecil, tetapi ada pula yang lebih
besar.
Salah seorang mursyid saya bertingkah aneh; seringkali beliau secara
demonstratif (agak berlebihan) melakukan perbuatan buruk di depan saya
dan menjadikan saya sasaran keburukannya itu. Mula-mula saya jengkel
atas perbuatan beliau itu, tetapi lama-lama saya berhasil menyadari
bahwa beliau hanya sekedar merefleksikan keburukan saya sendiri;
ketajaman batin beliau melihat keburukan saya, lalu mempertontonkannya
kepada saya. Rupanya memang dengan cara itulah beliau 'membersihkan'
saya karena saya tidak mampu mengenali keburukan saya selama saya
sendiri tidak merasakan akibatnya. Sejak itu, setiap saya melihat
keburukan orang lain, pertama-tama saya berkaca ciri dulu...
dan karena itu, keburukan orang lain adalah CERMIN yang baik untuk
membersihkan jiwa kita masing-masing.
Dalam pengamatan saya, MUI memang 'keliru' kalau kita ingin
mengatakannya begitu, terutama kalau pihak kita menjadi korban; tetapi
sekaligus juga 'benar'. Namun saya yakin bahwa dilihat dari tugasnya,
MUI sudah menjalankan tugasnya dengan sebaik-baiknya meskipun dengan
mengorbankan pihak yang belum tentu sesat. Tidak adil? Perhatikan
cuplikan teks yang saya peroleh dari milis lain :
Dalam sejarah Islam seorang sahabat besar, Abu Dzar,
pernah mengatakan:
"Sesungguhnya Rasulullah datang membawa dua gendongan,
bila gendongan yang pertama (syari'at) diberikan,
semua orang akan senang menerimanya.
Tapi bila gendongan kedua (haqiqat) kuberikan,
leherku dipenggal orang"
Barangkali kalimat itu menjadi peringatan bagi kita semua: sekalipun
haqiqat itupun berasal dari Rasulullah, janganlah ia dibawa ke
kerumunan orang-orang awam. Bahkan, di milis inipun terlalu riskan
untuk membeberkan haqiqat itu. Kita perlu berhati-hati.
Dengan memperhatikan kalimat di atas, tentu kita dapat menilai:
masih mending kalau cuma dicap "sesat",
karena sesungguhnya MUI hanya sekedar menjalankan tugasnya,
dan karena tiap orang harus berpihak.
Wassalamu'alaikum w.w.
RS
---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)