Salam,
Mohon maaf, sepengetahuan saya yang awam ini yang namanya Hawa
Nafsu
itu bukannya untuk dimusnahkan ato dibunuh, tetapi untuk
dikendalikan.
Hawa Nafsu kan juga perangkat yang diberikan Allah bagi kita
untuk
mengabdi pada-Nya sebagaimana halnya syahwat. Hanya saja bila
syahwat
lebih menuju pada hal yang bersifat material sedang hawa nafsu
lebih bersifat
immaterial. Bukankah nafsu amarah yang dikendalikan oleh nafs
muthmainnahlah yang berfungsi tatkala berperang di Jalan Allah?
Bukankah
hawa nafsu kita pula yang membuat kita tetap bertahan untuk giat
bekerja
mengaktualisasikan diri kita. Dan dorongan hawa nafsu pula yang
membuat
kita saling berbagi disini. Tentu saja semua menjadi bentuk
pengabdian pada
Allah bila berada dalam kendali nafs muthmainnah.
Jadi yang salah bukan hawa nafsu sehingga harus dibunuh bila
kita kemudian
Mempertuhankanya, tapi kitalah yang salah. Seperti juga bukan
syaitan yang
salah bila kita tergoda, tetapi kitalah yang salah. Bilamana
kita gagal dalam
ujian yang diberikan Allah (termasuk godaan syaitan) tentulah
kita yang perlu
mengaca diri dan bukan menyalahkan dan mengutuk pihak lain.
Wallahu'alam. Mohon maaf segala kesalahan. Semoga Allah
mengampuni
saya.
Salam,
Gus Lim
Pak Ali Abidin :
Assalaamu 'alaikum wr. wb.
Lho kok pak Budi Utomo berhenti lagi? Barangkali argumen pak
Wargino dan
pak Sunarman terlalu kuat atau mungkin memang sudah puas dengan
jawaban
beliau ini? .... saya akan ikutan meneruskan argumen pak Budi
Utomo :-).
Lha wong saya setuju kok dengan pak Budi Utomo bahwa Setan itu
tidak ada
manfaatnya. Kecuali tentunya jika ada penjelasan lain.
Definisi yang saya pahami tentang Setan adalah segolongan Jin
dan
Manusia yang pekerjaannya menyesatkan manusia / jin lainnya agar
menjauhi shirathol mustaqim. Definisi ini dari Surat Annas.
Kecuali jika
pak Wargino dan pak Sunarman memiliki definisi yang berbeda
dengan saya.
Pak Wargino dan pak Sunarman berargumen bahwa Setan itu berguna
dengan
beberapa alasan:
1. Allah tidak menciptakan sesuatu dengan sia-sia. Jadi Allah
menciptakan setan tentunya tidak sia-sia. Menurut pak Sunarman,
setan
diciptakan yaitu agar menjadi cobaan bagi manusia.
2. Dengan menganalogikan setan sebagai hambatan. Dan terbukti
bahwa
hambatan itu berguna dalam alam fisik (dengan contoh bermain
layang-layang, resistansi listrik, gesekan, ombak badai dll).
Wah, memang pak Wargino dan pak Sunarman ini jago argumen. :-),
tapi
saya coba mengikuti jalur pemikiran tersebut satu persatu.
=================
*****Allah tidak menciptakan sesuatu dengan sia-sia. Termasuk
menciptakan setan yaitu agar menjadi cobaan bagi manusia
Allah memang tidak menciptakan sesuatu dengan sia-sia. Tetapi
Benarkah
Allah menciptakan Setan? Atau dengan kata lain, Benarkah Allah
menciptakan sebagian Jin dan Manusia agar menjadi "Setan"?
Saya kira jawabannya "TIDAK !" dalam huruf besar. Allah
menciptakan jin
dan manusia dan bukan menciptakan Setan. Manusia dan Jin dengan
kehendaknya sendiri menjadi Setan.
Allah menciptakan manusia dan jin untuk beribadat kepada-Nya.
Serta
tambahan lagi Allah menciptakan manusia untuk menjadi
khalifah-Nya di
Bumi. Setan hanyalah membawa manusia menjauh dari jalan Allah.
Dalam kaitannya dengan Cobaan maka dari segala kekejian di dunia
memang
manusia dapat mengambil pelajaran, tapi tidak berarti pelaku
kekejian
itu bermanfaat lho. Sebagai contoh misalnya Yazid melakukan
kekejian
dengan membantai Husain cucu Rasulullah di Karbala. Itu cobaan
yang
berat bagi umat islam. Muslim yang bisa mengambil pelajaran dari
cobaan
barangkali menjadikan peristiwa Karbala sebagai simbol
martir/syuhada
melawan tiran. Muslim yang tak bisa mengambil pelajaran dari
cobaan
barangkali akan berputus-asa dengan kejadian tersebut. Tetapi
Ngawur
berat ketika manusia mengatakan Yazid berguna karena melakukan
pembantaian tersebut kan? Yazid tetap harus kita kutuk
habis-habisan dan
tidak 'benci tapi rindu' kepada Yazid. Demikian pula Setan harus
kita
kutuk habis-habisan dan mestinya manusia tidak pernah 'benci
tapi rindu'
melainkan 'benci tapi BENCI' kepada setan sebagai pendorong
kekejian
tersebut.
Jadi ada perbedaan antara "mengambil manfaat dari suatu Cobaan"
dengan
mengatakan "Setan itu bermanfaat". Ada perbedaan yang besar
sekali
antara keduanya. Jika lantas menyamakannya maka logika
'kesrimpet'
jadinya.
Jadi saya masih mendukung pak Budi Utomo bahwa Setan itu tak ada
manfaatnya. Tetapi saya setuju bahwa cobaan itu bisa bermanfaat.
============================
****** Menganalogikan Setan sebagai Hambatan dalam alam fisik.
Benarkah setan dapat dianalogikan sebagai hal-hal di atas? Kalau
menurut
saya (dengan gambaran Hati diantara 3 persimpangan yaitu
Syahwat, Hawa
Nafsu dan Nafsu Musthmainnah ) maka yang paling cocok
digambarkan
berfungsi sebagai hambatan dalam analogi-analogi di atas adalah
Syahwat.
Setan adalah berpengaruh pada Hawa Nafsu. Ruhul Quddus
berpengaruh pada
Nafsu Muthmainnah. Sedangkan Dunia berpengaruh pada Syahwat.
Yang berguna bagi manusia adalah Nafsu Muthmainnah dan Syahwat
bukannya
Hawa Nafsu. Hawa nafsu hanyalah membawa manusai menjauh dari
jalan Tuhan
dan itu tak ada gunanya, harus diperangi terus sampai mati. Yang
boleh
hidup pada akhirnya adalah Nafsu Muthmainnah dan Shahwat. Kita
tidak
bisa meninggalkan sama sekali Syahwat yang memang cocok dengan
analogi
pak Wargino sebagai Angin, Ombak, Resistansi Listrik (lampu +
perkakas
listrik lain), Gesekan dll.
Jadi sekali lagi bukan Hawa Nafsu (bisikan setan) yang pas
dianalogikan
sebagai "Hambatan" dalam contoh pak Wargino melainkan Syahwat
(duniawi)
yang sebenarnya netral, dan menjadi berguna ketika hati condong
kepada
Nafsu Muthmainnah.
'Benci tapi Rindu' kepada Syahwat itu barangkali bener untuk
seorang
ahli tasawuf (meski buat saya sih masih 'Rindu tapi Rindu').....
tetapi
aneh sekali denger ahli tasawuf 'benci tapi rindu' kepada hawa
nafsu
(alias kekuatan setan).
Jadi tetap saja, Setan tidak ada manfaatnya sama sekali.
Saya bahkan juga tidak setuju dengan pak Rizki ketika mengatakan
bahwa
Setan ada manfaat dan mudharatnya (lebih besar mudharatnya).
Hawa nafsu
(Setan) itu justru kekuatan Mudharat, tidak ada kekuatan Manfaat
dari
setan itu. Kekuatan manfaat itu ada pada Nafsu Muthmainnah.
Jangan
dicampur aduk. Lha nanti kita juga bilang bahwa Nafsu
Muthmainnah ini
juga ada manfaat dan mudharatnya juga?
hehehe... Walhasil saya masih mendukung pak Budi Utomo bahwa
Setan itu
tak ada manfaatnya sama sekali. Bahwa kita harus Benci
sebenci-bencinya
kepada Setan.
Wassalaamu 'alaikum wr. wb.
>----------
>From: Rizki Herucakra[SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
>Sent: Friday, 19 March 1999 14:17
>To: '[EMAIL PROTECTED]'
>Subject: RE: [Tasawuf] Manfaat Syaithan
>
>
>Assalamu'alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.
>
>Saya tidak mengikuti dari awal pembahasan mengenai manfaat
Syaithan ini.
>Tapi kalau boleh saya ingin ikut mengeluarkan pendapat saya.
Sekali
>lagi, ini hanya pendapat saya. Jika salah, saya hanya manusia
biasa.
>
>Pertama-tama saya berkeyakinan bahwa segala sesuatu yang
diciptakan
>Allah, pasti ada manfaatnya. Syaithan juga ciptaan Allah,
karenanya
>pasti juga memiliki manfaat.
>
>Hanya saja kadar dari manfaat tersebut yang kemudian menjadi
pertanyaan.
>
>
>Mungkin kadar manfaat Syaithan sama dengan judi dan khamar:
antara
>manfaat dan mudharatnya, masih lebih besar mudharatnya. Firman
Allah
>mengenai judi dan khamar:
>
>Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah:
"Pada
>keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi
manusia,
>tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya"... (QS.
2:219)
>
>Jadi, walaupun Allah melarang kita berjudi dan minum khamar,
Allah tetap
>mengakui bahwa keduanya memiliki manfaat. Karena Allah tidak
pernah
>menciptakan sesuatu dengan sia-sia (lihat QS. 3:191).
>
>Sekarang, apa manfaatnya Syaithan?
>
>Sekurang-kurangnya, dengan keterbatasan pikiran saya, saya
melihat
>Syaithan sebagai ujian bagi umat manusia. Bukankah Allah
menghendaki
>bumi ini sebagai ajang ujian dan cobaan bagi kita, manusia,
untuk masuk
>ke Surga? Syaithan merupakan salah satu 'alat' Tuhan dalam
memberikan
>ujian itu kepada kita.
>
>Saya yakin, pada diri manusia, pada dasarnya adalah baik. Jika
tidak ada
>godaan Syaithan, maka akan sulit untuk menilai kelayakan
seseorang untuk
>masuk Syurga, karena belum dicoba (lihat QS. 2:214). Tapi
dengan adanya
>Syaithan, perjalanan ke Syurga itu menjadi suatu perjalanan
yang
>mengharukan, karena menundukkan Syaithan yang mengalir di tiap
urat
>darah kita merupakan suatu perjuangan yang luar biasa.
>
>Contoh:
>Karena ada Syaithan, maka ada godaan untuk batal puasa
Ramadhan. Dengan
>adanya Syaithan, maka ada godaan untuk tidak khusyu' saat
shalat. Dengan
>adanya Syaithan, maka ada godaan untuk korupsi, misalnya.
>
>Nah, semakin kita bisa mengendalikan diri dari godaan-godaan
seperti
>itu, semakin tinggi kedudukan kita di sisi Allah. Tanpa ada
peran
>Syaithan, sulit bagi saya untuk memahami kualifikasi manusia
yang bisa
>masuk Surga.
>
>Sebagai penutup, mungkin dua ayat di bawah ini dapat membantu
>menyimpulkan manfaat Syaithan bagi manusia:
>
>Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang Rasulpun dan tidak
(pula)
>seorang Nabi, melainkan apabila ia mempunyai sesuatu keinginan,
>Syaitanpun memasukkan godaan-godaan terhadap keinginannya itu.
Allah
>menghilangkan apa yang dimaksudkan oleh Syaitan itu, dan Allah
>menguatkan ayat-ayat-Nya. Allah Maha Mengetahui lagi Maha
Bijaksana. Dia
>menjadikan apa yang dimaksudkan oleh syaitan itu, sebagai
cobaan bagi
>orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan yang kasar
hatinya.
>Dan sesungguhnya orang-orang yang zalim itu, benar-benar dalam
>permusuhan yang sangat. (QS. 22:52-53)
>
>
>Mudah-mudahan dapat membantu...
>
>Assalamu'alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.
>
>Rizki Herucakra
>
>> -----Original Message-----
>> From: Budi Utomo [SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
>> Sent: Wednesday, March 17, 1999 9:14 PM
>> To: [EMAIL PROTECTED]
>> Subject: [Tasawuf] SETAN Bermanfaat ?????
>>
>> Assalamu'alaikum wr wb,
>> Pak Wargino sebelumnya saya minta maaf, saya sebenarnya sudah
malas
>> mau
>> tanya lagi tentang masalah ini. Tapi selalu menggangu pikiran
saya.
>> Dulu
>> saya pernah tanya, tapi tidak puas dengan jawaban anda.
Sekarang anda
>> sebut-sebut lagi SETAN itu bermanfaat dengan alasan sebagai
>> keseimbangan
>> system alam. Sungguh saya tidak bisa memahami cara berfikir
anda.
>> Bukankah sudah jelas baik dalam Al-Qur'an maupun hadist
banyak
>> dinyatakan bahwa setan itu musuh kita, penghalang manusia
dari berbuat
>>
>> baik, penipu, penghasut, penggoda dsb... pokoknya yang
>> jelek-jelek......
>>
>> Dimanakah manfaat itu?????
>> Dimanakah keseimbangan itu??????
>>
>> Maaf saya sedikit ragu anda ini apakah beriman atau tidak
dengan
>> al-qur'an. Apakah anda beragama Islam ?
>>
>> Maaf mungkin tulisan saya ini agak kurang sopan, karena sudah
pusing
>> dengan pernyataan anda yang berulang-ulang tentang manfaat
setan.
>>
>> Wassalamu'alaikum wr wb,
>> BU
>>
>>
>> Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com
>>
>>
---------------------------------------------------------------------
>> Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong):
[EMAIL PROTECTED]
>> Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong):
>> [EMAIL PROTECTED]
>> Dokumentasi Milis :
http://www.mail-archive.com/[email protected]
>> Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit
P)
>>
>>
>>
>>
>
>---------------------------------------------------------------------
>Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong):
[EMAIL PROTECTED]
>Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong):
[EMAIL PROTECTED]
>Dokumentasi Milis :
http://www.mail-archive.com/[email protected]
>Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)
>
>
>
>
>
>
---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong):
[EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong):
[EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis :
http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)
---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)