Bismillahirrahmanirrahim, Assalamu'alaikum wr.wb. DOSA YANG MENEMPEL KEMUDIAN...3/4 Hazrat Mirza Ghulam Ahmad , Pendiri Jemaat Ahmadiyah yang juga diyakini oleh pengikutnya sebagai Imam Mahdi dan Masih Mau'ud (Al-Masih Yang dijanjikan) mengetengahkan bantahannya terhadap teori-teori yang dikemukakan oleh berbagai agama yang mengatakan bahwa manusia itu dilahirkan telah membawa dosa dan tidak bisa membebaskan dirinya dari dosa dengan kemauannya sendiri. Menurut beliau yang dikatakan dosa itu ialah pekerjaan jahat yang diperbuat dengan kesengajaan. Adapun pekerjaan yang dikerjakan dengan tidak sengaja dan terjadi dikarenakan paksaan, maka sampai dimana itu dengan paksaan , maka yang demikian bukanlah dosa. Umpamanya , kalau dipegang tangan seorang anak kecil dan dipukulkan pada muka ibunya, apakah ibunya akan memukul kembali sebagai balasan terhadap si anak? Bahwa kalau manusia tidak tidak dapat terhindar dari dosa yang turun sebagai warisan , maka yang demikian tentu saja bukanlah dosa. Kalau ajaran dan pendidikan mendatangkan bekas semacam itu atasnya, sehingga menurut sewajarnya ia tidak mungkin terhindar dari dosa, maka itu bukanlah dosa. Kalau kelemahan-kelemahan yang ia dapat dari alam adalah demikian halnya sehingga bagaimana juga iapun tidak akan dapat lepas dari itu, maka yang demikian juga tidak bisa dikatakan dosa. Maka kalau ada suatu halangan yang yang sebegitu jauh tidak tidak dapat dihindarkan oleh manusia , maka itu juga bukanlah dosa. Dan kalau keadaannya tidak begitu berarti manusia bisa terhindar dari pada dosa. Dan kalau ia dapat terhindar dari dosa maka ia tidaklah perlu meninggalkan perantaraan-perantaraan yang diberikan oleh natuur (alam) dan menggantinya dengan membikin peraturan-peraturan baru seperti penebusan, penitisan dan lain-lain sebagainya. Sampai dimana manusia berbuat karena keterpaksaan , maka sampai disitulah ia memang tidak kuasa dan tidak berdaya dan oleh karena itu ia akan dianggap tidak berdosa. Dan sampai batas itu ia harus dianggap bebas dari siksaan dan karenanya tidak ddiperlukan suatu penebusan ataupun penitisan. Masih Mau'ud a.s. (Hazrat Mirza Ghulam Ahmad) merobah teori tentang dosa dengan menerangkan bahwa dosa ialah perbuatan kejahatan yang dikerjakan dengan sengaja dan ikhtiar manusia itu sendiri. Oleh karena itulah Al-Qur'an sangat memperhatikan dasar-dasar pembalasan dan ganjaran dari amal dan perbuatan manusia. Allah senantiasa akan memperhatikan sampai dimana ada paksaan atau ikhtiar yang dilakukan seseorang dalam melakukan suatu pekerjaannya. Al-Qur'an secara tegas mengatakan bahwa Dia adalah "Malikiyaumiddin" (Zat yang mempunyai pembalasan) yang sebenarnya tidak Dia serahkan kepada orang lain untuk memberikan ganjaran atau balasan perbuatan manusia itu.Hal ini adalah karena pada hakikatnya tidak ada yang mengetahui yang ghaib kecuali Allah SWT. Seandainya ganjaran dan pembalasan diserahkan kepada orang-orang lain , maka mereka tidak akan mengetahui bagian mana yang merupakan "paksaan" dibelakang pekerjaan manusia. Mereka mungkin akan menentukan bahwa seseorang itu berdosa lantaran suatu pekerjaan yang dilakukannya, sedangkan hakikat sebenarnya ia tidak demikian atau kendatipun dia berdosa berkemungkinan tidaklah sebesar perhitungan bila Allah yang melakukan penilaian itu. Begitu juga mungkin mereka akan menganggap bahwa seseorang itu baik lantaran pekerjaan yang dilakukannya , sedangkan hakikat sebenarnya dibalik perbuatan itu tersembunyi kejahatan yang sama sekali luput dari pengamatan mereka. Hendaklah senantiasa diingat bahwa "Malikiyaumiddin" adalah sifat dari Allah , yang menunjukkan bahwa hambatan-hambatan atau kendala-kendala untuk melakukan perbuatan baik itu sangat banyak. Kalaulah tidak diketahui semuanya itu , maka ganjaran dan pembalasan mungkin saja tidak sepadan dengan perbuatan yang dilakukan oleh manusia itu dan bisa saja mengarah kepada kezaliman atau aniaya. Hanya Allah lah yang mengetahui secara pasti dan menyeluruh hakikat yang terkandung dalam perbuatan manusia sehingga hanya Dialah yang bisa membalasnya secara tepat tanpa aniaya sedikitpun. Allah telah menuntut dan menjadikan perkataan "malik" untuk diriNya pada "yaumiddin" ( hari kemudian). Karenanya "malik" tak dapat terjadi kalau tidak ada kekuasaan yang sebenar-benarnya . Barang yang dikuasai dapat diadakan, rajapun dapat dipilih akan tetapi yang sebenar-benarnya "malik" (kuasa) tidaklah dapat diberikan kepada manusia atau selain dari Allah. Hanya Allahlah yang sebenar-benarnya "malik" . Allah tidak bersabda bahwa Dia adalah "malikum yaumiddin" , melainkan Dia menyebutkan diriNya "Maliki yaumiddin". Allah tidak menunjukkan diriNya dengan mengatakan "Allah kuasa atas kamu", akan tetapi Dia menerangkan diriNya bahwa Dia berkuasa atas hari kemudian. Dia berkuasa di hari kemudian dan dengan kuasaNya pada waktu itu tidak sesuatu barangpun yang tersembunyi dari padaNya. Bersambung ke 4/4 Wassalamu'alaikum wr.wb. Nadri Saaduddin Jalan Rambutan B-32, Telp. (+62-0765) 93072 Duri 28884 Riau Daratan INDONESIA ---------------------------------------------------------------------------- -------------------------- THERE IS NO GOD BESIDE ALLAH AND MUHAMMAD SAW IS HIS MESSENGER. LOVE FOR ALL, HATRED FOR NONE.....! ---------------------------------------------------------------------------- -------------------------- --------------------------------------------------------------------- Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED] Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED] Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected] Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)
