Bismillahirrahmanirrahim
Assalamu'alaikum wr.wb.

ALAMI, AKHLAKI DAN ROHANI......IV)
 
HUBUNGAN ANTARA JASMANI DAN ROHANI......lanjutan 

Dari pemahaman ayat-ayat suci Al-Qur'an kita melihat bahwa Allah Ta'ala
menganugerahkan kepada manusia kemampuan untuk mengadakan
perbaikan-perbaikan keadaan-keadaan thabi'inya, dan secara gradually
mengangkatnya ketingkat akhlaki dan selanjutnya mengantarnya ketingkat
yang lebih tinggi lagi yaitu tingkat rohani.

Untuk melepaskan manusia dari cara-cara hewani yang merupakan sifat
thabi'inya Allah lewat Al-Qur'an dan Rasulullah SAW mengajarkan kita
cara-cara duduk, bangun, makan-minum bercakap-cakap dan segala macam
tatacara hidup bermasyarakat. Selanjutnya dengan penerapan tatacara
hidup bermasyarakat akan terlihat jelas perbedaan manusia itu dengan
hewan. Dengan demikian keadaan manusia itu telah naik satu derjat dari
keadaan sebelumnya dan sekarang manusia itu telah berada di tingkat
keadaan akhlaki yang dinamakan manusia yang beradab dan bertata krama.

Pada keadaan ini kebiasaan-kebiasaan alami manusia telah mengambil corak
keadaan akhlak dan budi pekerti. Keadaan inilah yang disebut dengan
akhlaq razilah (akhlak rendah) yang kemudian akan mengantar kita masuk
kedalam warna akhlaq fadhilah (akhlak tinggi). Dua langkah yang bertitik
tolak dari perbaikan keadaan thabi'i ini adalah merupakan satu phase
saja dari tingkat perbaikan itu. Disebutnya dua keadan akhlak
dikarenakan perbedaan kwalitas tinggi rendahnya saja. Allah mengemukakan
tatanan akhlak cara demikian sehingga manusia itu bisa maju dari akhlak
rendah mencapai akhlak tinggi.

Selanjutnya Allah menetapkan tingkat kemajuan ketiga, dimana manusia
berada dalam keadaan rohani yang tenggelam dalam kecintaan dan keridhaan
Sang Maha Pencipta Yang Hakiki dan merasakan  dirinya serta wujudnya
menjadi milik Allah. Untuk senantiasa mengingat keadaan ini, maka agama
orang-orang Muslim disebut dengan "Islam". Adapun arti Islam adalah
penyerahan diri secara sempurna kepada kepada Tuhan dan tidak
menyisihkan sesuatu bagi dirinya sendiri , sebagaimana Allah Ta'ala
berfirman:

"(Tidaklah demikian) bahkan barangsiapa yang menyerahkan diri kepada
Allah, sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi
Tuhannya dan tidak kekuatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka
bersedih hati."......(QS. 2:112).

Ayat ini membincangkan masalah "keselamatan" dimana Allah Ta'ala
menjelaskan bahwa orang yang mendapat keselamatan adalah orang-orang
yang menyerahkan dirinya kepada Allah bagaikan hewan korban dijalan-Nya
. Keikhlasan dalam penyerahan diri kepada Allah bukan hanya sekedar niat
saja melainkan diwujudkan dengan perbuatan-perbuatan baik. Barang siapa
yang berbuat demikian , Allah menjanjikan kepada mereka bahwa pada diri
mereka tidak akan ada kekuatiran dan perasaan duka cita...(wal khaufun
'alaihim walahum ya zanuun).

Lebih lanjut Al-Qur'an menjelaskan:

"Katakanlah : "Sesungguhnya shalatku, ibadatku , hidupku dan matiku ,
hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya dan
demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang
pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)"....(QS. 6:162, 163).

Sembahyangku....pengorbananku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah
Rabbul 'Alamiin  yang sifat "rabbubiyat-Nya" melingkupi segala sesuatu.
Tiada sesuatupun dan tiada seorangpun yang merupakan sekutu bagi-Nya ,
dan tidak ada makhluk yang yang menyekutui-Nya. Kepadaku diperintahkan
agar aku berbuat demikian dan aku adalah orang yang pertama berdiri
tegak di atas makna "Islam", yakni yang mengorbankan diri di jalan
Allah.......

"dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka
ikutilah dia dan jangan kamu mengikuti jalan-jalan yang lain, karena
jalan-jalan itu akan mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang
demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa."....(QS.
6:153).

"Katakanlah:" Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku,
niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu". Allah Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang....(QS. 3:31).

Kembali kepada masalah "keadaan  thabi'i" , "keadaan akhlaki" dan
"keadaan rohani" sebagaimana kita bicarakan pada tulisan-tulisan
terdahulu, Allah Ta'ala lewat isyarah Kitab Suci Al-Qur'an mengingatkan
bahwa sesungguhnya keadaan thabi'i (alami) manusia yang bersumber pada
"nafsu ammarah" itu, bukanlah sesuatu yang terpisah dari keadaan-keadaan
akhlaki. Sebab Allah Ta'ala telah menempatkan semua kekuatan-kekuatan
alami, keinginan-keinginan serta dorongan-dorongan jasmani sebagai
keadaan thabi'i. Dan keadaan-keadaan thabi'i yang secara sadar dilakukan
dengan teratur , dengan mempertimbangkan keadaan dan tempat dengan
sendirinya akan memberi corak warna ahklak.

Begitu pula keadaan-keadaan akhlaki bukanlah sesuatu yang terpisah dari
keadaan-keadaan rohani. Justeru keadaan-keadaan akhlaki itu jugalah yang
akan mengambil warna kerohanian secara denagn cara meleburkan diri
sepenuhnya kepada Allah, mensucikan diri, memutuskan segala hubungan
hanya untuk melekatkan diri kepada Allah, serta dengan penuh kecintaan,
penuh ketenangan, penuh ketentraman, dan menyerahkan diri sepenuhnya
kepada Allah.

Selama keadaan-keadan  thabi'i tidak beralih kedalam warna akhlak ,
selama itu manusia tidak layak mendapat pujian. Sebab keadaan demikian
itu juga tedapat pada kalangan hewan lain bahkan pada tumbuh-tumbuhan.
Begitu pula dengan hanya memiliki akhlak saja , tidaklah dapat mengantar
manusia kepada kehidupan rohani. Bahkan tidak sedikit kita lihat didunia
ini seorang yang mengingkari Wujud Allah Ta'ala sekalipuin bisa dapat
memperlihatkan akhlak yang yang baik. Kerendahan hati atau kehalusan
budi atau suka damai , meninggalkan kejahatan dan tidak mempedulikan
orang-orang bejad, semua itu adalah keadaan-keadan thabi'i. Dan semua
sifat itu dapat juga dimiliki seorang yang rendah, yang tidak mengenal
sumber "najat"  (keselamatan) yang sebenarnya. Banhyak juga binatang
yang berkaki empat yang rendah hati, jika diganggu dan disakiti mereka
cendrung menampakkan sikap damai. Bila seekor kucing atau anjing
misalnya dipukuli dengan tongkat mereka tidak akan melawan. Namun
demikian mereka itu tidaklah dapat disebut manusia. Dengan sifat-sifat
itu mereka tidak mungkin ditingkatkan  menjadi manusia yang bermartabat
lebih tinggi.

........bersambung.


Reading source:
The  Philosophy of the teachings of Islam by  Hazrat  Mirza  Ghulam Ahmad , 
The London Mosque 1979...
          

Wassalamu'alaikum wr.wb.
Nadri Saaduddin, Jalan Rambutan B-32, Telp. (+62-0765) 93072
Duri 28884,
Riau Daratan, INDONESIA
----------------------------------------------------------------------------
---------------------------
THERE IS NO GOD BESIDE ALLAH AND MUHAMMAD SAW IS HIS MESSENGER...
LOVE FOR ALL, HATRED FOR NONE....!
---------------------------------------------------------------------


---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)




Kirim email ke