Bismillaahirahmaanirahiim,

Assalaamu'alaikum w.w.

Topik agama memang menarik. Thanks untuk pak Moderator!

Cukup sulit buat saya untuk menyampaikan definisi agama. Beberapa literatur yang saya 
baca malah membuat otak saya puyeng. Ada beberapa istilah yang dikaitkan dengan agama, 
misal, agama samawi, agama budaya, agama Islam, bahkan yang cukup ekstrim "football is 
my religion".

Jika kata "agama" diberdirikan sendiri, saya bisa membayangkan secara sederhana, ada 
beberapa komponen dalam agama. Yaitu, 1) manusia (hamba), 2) penguasa manusia (Tuhan), 
dan 3) sistem interaksi antara manusia dan penguasa manusia (keyakinan, syariat). 
Sedangkan jika pengertian agama diletakkan dalam literatur Islam, maka komponen itu 
diperlebar menjadi 4) manusia-manusia lain, 5) sistem interaksi antar manusia 
(muamalah), 6) alam atau makhluk ciptaan Tuhan lain, dan 7) sistem interaksi antara 
manusia dengan alam.

Bagaimana memformulasikannya secara definitif....? maaf mas-mas sekalian, itu 
kapasitas para cendikia.

Yang jelas, buat saya, bahwa agama merupakan sistem nilai yang bekerja di dalam 
sel-sel hati nurani. Karena itu, melihat agama hanya dari lembaga / institusi yang 
muncul dari agama dapat mengaburkan nilai agama itu sendiri.Misalnya, orang shalat 
belum tentu memiliki nilai shalat. Contoh lain, partai Islam belum tentu Islam itu 
sendiri. Contoh lain, adalah pendapat mas Bimo Pradono "Orang bukan menyembah Tuhan, 
tetapi menyembah agama itu sendiri. Sebagian penganut agama bahkan terang-terangan 
mendoakan semoga anaknya "berguna bagi bangsa, negara dan AGAMA". Alih-alih 
menciptakan perdamaian dunia, agama malah menjadi bahan perselisihan dan peperangan. 
Perang Lebanon, Bosnia, dan akhir-akhir ini di Indonesia sendiri marak perselisihan 
antar agama meskipun belum menjurus ke perang." Pendapat seperti ini muncul karena 
agama dilihat hanya dari lembaga atau kulit luar sistem nilai agama.

Nah...tujuan diskusi ini lebih menarik untuk dikaji, yaitu bagaimana agama dalam hal 
ini "Dienul Islam" sebagai sistem nilai kebenaran hakiki dapat berperan dalam 
memecahkan berbagai persoalan umat manusia. Dan.....alangkah lebih cantiknya, jika 
diskusi ini dapat dikaitkan dengan topik di sesi lain mengenai "manfaat (kelemahan?) 
tasawuf"

******

Ajaran agama, atau dalam milis ini kita bicara masalah tasawuf, selalu menemukan 
relevansi perannya dalam setiap konteks kehidupan manusia. Terlebih dalam situasi 
bangsa Indonesia sekarang ini. Ketika umat manusia mengalami kejayaan, tasawuf 
mengingatkan akan datangnya masa penghitungan. Ketika umat manusia mengalami 
kepedihan, tasawuf mengingatkan akan datangnya masa kegemilangan.

Di tanah air ini umat Islam telah menampilkan beberapa wajah Islam yang berbeda-beda. 
Islam pernah ditayangkan dalam wajah pencapai kejayaan kemerdekaan yang gagah berani. 
Dalam waktu lain, Islam ditayangkan sebagai wajah yang mengerikan dengan aksi 
pembunuhan-pembunuhan demi kepentingan politik (negara Islam...?) atau pembela 
Pancasila (pembantaian PKI....?). Saat orde baru, Islam ditayangkan sebagai penggerak 
pembangunan yang kini malah berbalik menjadi biang kerok kebejatan moral (KKN....?) 
Belakangan, Islam ditayangkan sebagai gerakan penegak kebenaran dengan mengatasnamakan 
jihad atau lagi..lagi negara Islam. Pagi ini di SCTV seorang ulama dari Aceh 
mengatakan bahwa yang dilakukannya semata-mata hanyalah menegakkan agama Allah. 
Padahal menurut pihak militer merupakan pengacau ketentraman.

Tak salah jika ada yang bertanya...setengah berteriak..."dimana Islam". Beribu dimensi 
wajah Islam telah ditebarkan. Mulai dari Presiden, Menteri, Pemimpin Partai, Pejabat, 
Guru, Ulama bahkan Maling dan Biang kerok adalah orang-orang yang mengaku beragama 
Islam.

Pak Sunarman, Mas Wargino, Mas Ali, Bang Nadri....dan rekan-rekan lain yang dimuliakan 
Allah.

Biarkan Maha Guru Sufi tetap berada di puncak-puncak keheningan bersalju yang tak 
mudah dijangkau. Akan tetapi dari anda-anda ini saya harapkan ajaran-ajaran tasawuf 
dapat turun gunung, dapat menyentuh jalan kami yang becek, berbau, berlubang-lubang 
bahkan sudah tak lurus lagi. Dari anda-anda ini kami berharap bahwa yang namanya 
sabar, ikhlas, tidak takut mati dan yang lain-lain menjadi tidak rumit sehingga dapat 
kami bawa ke dalam relung diri tanpa harus menjadi "ajaran dari balik pintu". Jangan 
biarkan kami yang berkerongkongan cekak ini bersulit-sulit mencerap istilah, misalnya, 
"kosong/berisi", "ada/tidak ada", atau yang lain. Mudahkan kami. Please....? (Apakah 
begitu maksud mas Arif...??)

Astaghfirullaahu al-adziim.
Maaf beribu maaf.

Bil taufiq wal hidayah.
Wassalaamu'alaikum w.w.
Jaret Imani


Get your FREE Email at http://mailcity.lycos.com
Get your PERSONALIZED START PAGE at http://personal.lycos.com

---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)




Kirim email ke