NAIK HAJI: PENDAKIAN SPIRITUAL

Oleh: Dr Alwi Shihab

HARI Raya Kurban (Idul-adh-ha) yang dirayakan umat Islam seluruh
dunia, sungguh mengandung serangkaian pelajaran dan peringatan
berharga yang patut kita renungkan.

Kita patut mengetahui signifikansi haji agar dapat menyadari mengapa
umat Islam yang mampu diwajibkan untuk menunaikannya, sekaligus
mendorong kita untuk berusaha memahami esensi simbol-simbol berupa
ritual yang dilakukan pada upacara haji tersebut. Ritual-ritual yang
merupakan petunjuk dan pertanda sarat makna yang diharapkan dapat
mengubah roda kehidupan manusia secara menyeluruh.

Pada hakikatnya haji merupakan ajaran Islam yang praktis dan teoretis.
Yang menunaikannya diharapkan memahami dan menghayati secara teoretis
kandungan ritualnya, dan secara praktis melaksanakan apa yang dituntut
dalam perjalanan kehidupannya. Niat untuk menunaikan haji merupakan
tekad dan komitmen untuk meninggalkan rutinitas hidup yang terkadang
membelenggu. Melepaskan diri dari lingkungan keseharian yang sering
tak berujung pangkal.

Haji merupakan suatu kebangkitan spiritual melawan kecenderungan
manusia terhadap keterikatan kepada kenikmatan temporal yang sunyi
dari nilai transendental.

Haji adalah komitmen tulus untuk meninggalkan segala bentuk arogansi,
penindasan, diskriminasi dan eksploitasi, karena setiap individu yang
menunaikannya dituntut untuk menunjukkan kesamaan, kesatuan sehingga
kendala apa pun yang memisahkan manusia dengan sesamanya, harus
dikubur.

Haji mengajarkan kita semangat egalitarian bahwa semua adalah satu,
semua datang memenuhi undangan Tuhan. Semua menuju suatu jalan yang
terhampar untuk mencapai ketenangan dan ketenteraman abadi.

Haji tidak lain adalah pendakian spiritual yang pada klimaksnya
merupakan perjumpaan antara hamba dengan Tuhannya. Oleh karena itu,
haji dimulai dengan hanya mengenakan dua helai pakaian putih
melambangkan kesamaan derajat manusia di sisi Tuhan.

Ini berarti bahwa dalam perjalanan menuju Tuhan, manusia akan
meninggalkan segala keunggulan duniawinya yang bersifat sementara.
Kain putih tersebut bagaikan kain kafan yang membungkus jasad ketika
manusia menghadap Tuhan.

Padang Arafah yang harus disinggahi merupakan syarat mutlak dalam
upacara haji. Arafah yang berarti pengenalan dan pengetahuan
melambangkan tuntutan dan keharusan untuk mengenal jatidiri manusia
sebagai hamba di hadapan Yang Maha Kuasa. Di Arafah, kita melakukan
refleksi sambil mengenang kejatuhan Adam dan Hawa dari surga ke bumi,
menyusul kekeliruan yang mereka lakukan akibat rayuan Iblis.

Dengan lontaran jamarat, simbol perlawanan terhadap rayuan setan dan
hawa nafsu, manusia memperkokoh sikapnya untuk tidak terjerumus di
lembah godaan Iblis yang bersumpah untuk menyesatkan manusia
(Al-Qur'an 7: 16).

Arafah, mengingatkan fungsi dan status manusia yang diberi tugas suci
sebagai khalifah (dalam Islam) atau steward (dalam tradisi Kristiani)
untuk menciptakan kedamaian di bumi ini (Al-Qur'an 11: 61) atau
Kingdom of God (Kerajaan Illahi) di dunia menurut Perjanjian Baru.

Dalam upacara penyembelihan kurban, sebagai puncak upacara haji,
melambangkan sikap pasrah total manusia kepada Tuhan. Kita dituntut
meneladani nabi Ibrahim A.S. dalam ketaatannya kepada Allah,
sebagaimana kita dituntut pula sebagai putranya dalam kesabarannya
menghadapi cobaan Allah. 

Nabi Ibrahim diperintah Tuhan untuk menjadikan putranya sebagai
kurban, putra kandungnya yang tunggal, tumpuan harapan yang
dinanti-nantikannya bertahun-tahun. Alangkah besar ujian serta
pengorbanan yang dituntut dari nabi Ibrahim (Al-Qur'an 2:127-128).

 Pemersatu Umat

Upacara haji tidak lain adalah pelajaran sejarah nabi Ibrahim yang
dalam tradisi Islam dijuluki khalilullah dan Perjanjian Lama sebagai
friend of God yakni Teman Tuhan. Nabi yang sama-sama dimiliki oleh
ketiga umat yakni Yahudi, Kristen dan Islam. Sejarah mulia beliau
seakan kita ulangi melalui ritual-ritual haji.

Saat kita bertawaf, kita mengenang usaha beliau ketika membangun
kembali ka'bah, rumah Tuhan pertama di permukaan bumi (Al-Qur'an 3:
96).

Saat kita ber-sa'i antara bukit Safa' dan Marwah, ingatan kita tertuju
pada istri nabi Ibrahim, Hajar dan putranya nabi Ismail, yang
ditinggalkan Ibrahim A.S. di daerah tandus Mekkah atas perintah Tuhan.
Hajar tanpa rasa putus asa mencari air untuk bayinya yang menangis
kehausan, akhirnya dianugerahi Tuhan mata air yang tidak habis-habis
pancaran sumbernya (Zamzam).

Sungguh benar, ibadah haji tidak dapat dipisahkan dari pribadi nabi
Ibrahim. Oleh karena itu, pribadi nabi ini sangat sentral dalam haji.
Dialah yang disuruh Allah untuk mengundang manusia untuk menunaikan
ibadah ini, karena ia memiliki beberapa keistimewaan. 

Ibrahim A.S. yang diabadikan oleh kitab-kitab suci sebagai manusia
pertama yang menemukan Tuhan melalui pencarian dan pengalaman rohani.
Melalui dia pula tradisi mengorbankan manusia sebagai sesaji
dibatalkan Tuhan. Dan dia pula satu-satunya nabi yang dikabulkan
permohonannya untuk ditunjukkan bagaimana Tuhan menghidupkan yang
mati. 

Ibrahim A.S. yang melalui caranya telah menemukan konsep tauhid,
monoteisme yang diyakini oleh para pemeluk agama-agama samawi. Tidak
aneh kiranya apabila ketiga agama besar monoteis Yahudi, Kristen dan
Islam sama-sama menjadikan nabi Ibrahim sebagai panutan dan
Patriarchnya.

Berangkat dari keyakinan ini, sudah sepantasnya umat Yahudi, Kristen
dan Islam tidak saja menyadari kesatuan rumpun mereka, tapi lebih
penting menjadikan nabi Ibrahim sebagai perekat dan pemersatu. Namun
apa yang terjadi dalam sejarah interaksi antarumat serumpun ini jauh
dari semangat persatuan dan persaudaraan. 

Di beberapa tempat di dunia, secara nyata permusuhan dan konfrontasi
fisik mewarnai ketiga umat tersebut. Penganut Katolik Kroasia,
Ortodoks Serbia dan Muslim Bosnia saling bermusuhan di Eropa. Kaum
Yahudi dan Muslim di Palestina saling membunuh. Demikian pula halnya
dengan umat Islam Azerbaijan dan umat Kristen Armenia saling
cakar-cakaran.

Lebih menyayat hati, tragedi Hebron tahun 1994 masih segar dalam
ingatan. Tidak jauh dari kuburan nabi Ibrahim, 29 Muslim dibantai
seorang Yahudi fanatik. Sangat ironis cucu nabi Ibrahim saling
membunuh di hadapan kakeknya sendiri.

Tampaknya ketiga penganut agama tersebut belum mampu menggunakan nabi
Ibrahim sebagai pemersatu mereka, atau bahkan tidak menghayati bahwa
ajaran mereka bermula darinya. Bukan hanya itu, hubungan darah yang
menjalin mereka begitu erat diikat oleh nabi Ibrahim A.S. Rasul-rasul
Allah seperti Musa, Isa dan Muhammad, ketiganya berasal dari keturunan
yang sama yang bermula dari nabi Ibrahim atau Abul-anbiya (bapak para
nabi-nabi).

Kontroversi menyangkut siapa dari putra nabi Ibrahim yang diperintah
Allah untuk dikorbankan, tidak relevan untuk diketengahkan dalam
rangka mencari titik temu. Karena hal ini hanya akan melahirkan
ketegangan baru. Kita harus menyadari bahwa pelajaran penting yang
harus kita petik adalah sikap, kedua nabi tersebut yakni Ibrahim dan
putranya dalam merespon perintah Tuhan. Bukan justru mempersoalkan
siapa di antara mereka yang dimaksud (Ishaq A.S. atau Ismail A.S.).

Umat Islam di satu pihak dan umat Yahudi dan Kristen di pihak lain
hendaknya menyadari bahwa dari kalangan Islam pun ada beberapa ulama
yang tidak bersikeras menunjuk Ismail A.S., sebagaimana halnya di
kalangan Kristen ada pula yang menerima nabi Ismail sebagai putra
Ibrahim yang dimaksud.

Peredam Ketegangan

Dalam situasi dan kondisi di mana umat Islam dan umat Kristiani
dihadapkan pada tantangan berat untuk meredam ketegangan hubungan,
seyogianya kedua umat merujuk kepada nilai-nilai yang terkandung dalam
ibadah Haji.

Kedua umat dituntut untuk mengenang kembali kakek mereka nabi Ibrahim
A.S. ketika memanjatkan doa pada Tuhan agar darinya keluar keturunan
baik dan panutan bagi manusia. Bahkan dalam tradisi Yahudi dinyatakan
janji Tuhan padanya akan kelahiran orang-orang besar dari keturunannya
(Yahwistic tex 12:2).

Kedua umat patut menghayati betapa kedua saudara putra-putra Ibrahim
yakni nabi Ishaq (yang darinya lahir agama Yahudi dan Kristen) dan
nabi Ismail (yang darinya lahir Islam), kedua putra tersebut
bersama-sama, penuh kerukunan, mengubur ayahnya Ibrahim di Machpelah
Hebron, sambil bertekad untuk melestarikan keakraban hubungan
tersebut.

Kedua umat Kristen dan Islam dituntut untuk menunjukkan kepada kakek
mereka Ibrahim bahwa mereka pantas untuk mewarisi ajaran yang
dibawakan oleh kakeknya yakni menabur kasih sayang antarsesama
manusia. Oleh karena itu, perseteruan dan pertumpahan darah yang
dialami saudara serumpun, umat Islam dan umat Kristen di Ambon, bukan
saja menjadikan kita semua sedih, tapi lebih dari itu, kita patut malu
terhadap kakek kita bersama di mana hati beliau pasti tersayat
menyaksikan cucu-cucunya tidak mengindahkan tuntunannya.

Mari kita jadikan Hari Raya Haji sebagai momentum untuk bersama-sama
melakukan tobat sambil memohon maaf kepada kakek kita tercinta Ibrahim
A.S. dengan menunjukkan sikap maaf-memaafkan serta mengubur rasa benci
dan permusuhan antara kita.


---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)




Kirim email ke