Bismillahirrahmanirrahim
Assalamu'alaikum wr.wb.
ALAMI, AKHLAKI DAN ROHANI......VI)
SIFAT THABI'I, AKHLAKI DAN ROHANI PERBAIKANNYA....
Kalau kita baca dan renungkan akan menjadi jelaslah bagi kita bahwa
tidak ada satupun ajaran Islam yang harus dipercayai secara paksa.
Muslim berarti penyerahan diri secara bulat kepada Allah dan kepatuhan
kepada agama adalah didasarkan kepada keihklasan..............
.....(mukhlisinalahuddien). Ihklas bisa datang kalau seorang merasa
dirinya membutuhkan.... dan kebutuhan terhadap agama menjadikan
seseorang itu tunduk kepada apa yang digariskan syari'at tanpa rasa
keterpaksaan karena tanpa mengikut syari'at dia akan merasa dirinya
tidak selamat. Ketakutan akan celaka itu itulah yang membuat seseorang
itu mencari perlindungan dan perlindungan itu hanya bisa diperoleh dari
Allah lewat agama tentunya.
Al-Qur'an satu-satunya panduan hidup dan kehidupan manusia telah
menggariskan dan menjelaskan semua yang dibutuhkan manusia dalam
usahanya mencari perlidungan kepada Allah itu. Allah menjelaskan dalam
Kitab Suci itu bahwa tujuan sebenarnya dari Al-Qur'an adalah untuk
perbaikan dan ishlah dari ketiga tingkatan jiwa manusia itu. Dari
tingkatan hewan menjadi manusia, dari manusia menjadi manusia yang
berakhlak dan dari manusia yang berakhlak menuju manusia yang ber-Tuhan,
tujuan seluruh misi Al-Qur'an hanyalah ketiga perbaikan itu dan intisari
ajaran Islam juga hanya meliputi tiga perbaikan itu.
Maksud sebenarnya semua ajaran ma'rifat ilahi, ilmu-ilmu dan
nasehat-nasehat dan sarana lainnya ialah untuk mengantarkan manusia dari
keadaan thabi'i yang memiliki corak biadab , kepada keadaan -keadaan
akhlaki yang berbudi pekerti dan kemudian mengantarkannya lagi dari
keadaan akhlaki itu hingga tenggelam kepada kehidupan suci( zahid)
yang merupakan samudera kerohanian yang tiada berpantai itu. Adapun
sebagaimana dijelaskan dalam tulisan-tulisan terdahulu, bawa keadaan
thabi'i itu bukanlah sesuatu yang terpisah dari keadaan-keadaan akhlaki
, melainkan keadaan-keadaan itu jugalah yang bila diterapkan sesuai
pertimbangan akal dan tempat serta kesempatan yang tepat akan mengambil
corak keadaan-keadaan akhlaki. Selama hal itu tidak dilakukan dan
perbaikan itu tidak didasarkan pertimbangan akal serta makrifat,
kendatipun hal itu sangat menyerupai akhlak , pada hakikatnya itu
bukanlah akhlak melainkan dorongan naluri yang mengalir tanpa kendali.
Apabila kita melihat seekor anjing atau kucing yang menampakkan
kecintaan atau kepatuhan pada majikannya, maka kita tidaklah akan
mengatakan bahwa anjing itu berakhlak dan tidak pula akan menyebut
kucing itu beradab. Demikian juga kita tidak bisa mengatakan serigala
dan harimau itu berakhlak buruk karena kebuasannya. Melainkan karena
sebagaimana disebutkan diatas "keadaan akhlaki" itu mulai berlaku
apabila pertimbangamn akal dan ketepatan waktu menjadi dasar dari
tindakan seseorang itu. Dan orang yang tidak menggunakan akal serta
pikirannya adalah seibarat bayi yang hati dan akalnya belum dinaungi
daya pikir atau seperti orang gila yang kehilangan akal dan kebijakan.
Kendatiupun seorang bayi dan orang gila itu kadang-kadang memperlihatkan
tingkah laku yang yang nampaknya seperti akhlak, tidaklah ada orang yang
arif bijaksana menamakannya akhlak. Sebab tingkah laku tersebut tidak
terbit dari sumber penalaran dan pertimbangan waktu dan tempat
melainkan timbul secara alami oleh rangsangan-rangsangan.
Bayi manusia begitu lahir serta merta ia kan mencari buah dada ibunya
untuk menyusu. Dan anak ayam begitu menetas langsung mematuk
biji-bijian. Anak lintah mearisi kebiasaan lintah, anak ular menampakkan
kebiasaan-kebiasaan ular dan anak singa akan memperlihatkan
kebiasaan-kebiasaan singa. Begitu juga anak manusia, begitu ia lahir
kedunia, langsung juga memperlihatkan kebiasaan-kebiasaan manusia. Dan
tatkala ia telah mencapai usia satu sampai satu setengah tahun , maka
kebiasan-kebiaan thabi'inya nampak sangat nyata. Misalnya , sebagaimana
ia menagis pada pada masa-masa awal, kini ia menangis lebih keras lagi
dibandingkan dengan keadaan sebelumnya. Begitu juga senyumnya berubah
menjadi tertawa terbahak-bahak. Matanyapun memperlihatkan tanda-tanda
bahwa ia mulai melihat dengan sengaja. Pada usia ini timbul suatu gejala
alami lainnya, yaitu suka atau tidak sukanya melalui gerak-gerik dan
ingin memukul atau ingin memberikan dan mengambil sesuatu dari orang
lain. Akan tetapi semua gerak gerik dan tindakan ini sesungguhnya adalah
hal-hal alami.
Jadi seperti hal bayi tadi, ada juga manusia biadab yang sedikit sekali
meiliki nalar manusiawi yang hanya sekedar memperlihatkan
gerakan-gerakan alami dalam setiap ucapan, perbuatan, gerak dan diamnya.
Tiada perkara yang timbul dari padanya yang merupakan hasil pikiran dan
pertimbangan kekuatan batin , melainkan segala sesuatu yang timbul dari
dalam dirinya secara alami terus mengalir berdasarkan
rangsangan-rangsangan dari luar. Mungkin saja saja gejolak-gejolak alami
yang keluar dari dalam dirinya akibat suatu rangsanagan itu, tidak
semuanya buruk bahkan diantaranya ada yang menyerupai akhlak baik. Akan
tetapi suatu yang jelas adalah bahwa didalamnya tidak terdapat campur
tangan pemikiran dan pertimbangan akal. Kalaupun ada campur tangan akal
dan pikiran dalam , kadar tertentu tetapi gejolak-gejolak alami lebih
dominan maka hal itu tidak layak dipercaya sebagai akhlak.
Secara ringkas tidaklah dapat kita menyebutkan bahwa orang-orang yang
dikuasai unsur-unsur alami sepeti hewan, anak-anak dan orang gila serta
manusia yang cara hidupnya masih biadab semacam itu, memilik akhlak
sejati. Pada hakikatnya berlakunya masa akhlak baik dan akhlak buruk
ialah semenjak akal manusia yang merupakan anugerah Tuhan itu telah
matang. Dan dengan perantaraan akal itu manusia itu bisa membedakan
kebaikan dan keburukan atau membedakan dua kebaikan dari dua keburukan
dalam derajatnya. Dan dengan meninggalkan jaln kebaikan, timbullah dalam
hatinya suatu penyesalan atas perbuatan buruknya.
Itulah masa kedua dalam kehidupan manusia , yang didalam Kitab Suci
Al-Qur'an diungkapkan dengan nama "nafsu lawwamah". Akan tetapi untuk
mengantarkan seorang biadab sampai kepada nafsu lawwamah tidaklah cukup
dengan sekedar memberi nasehat saja. Melainkan adalah mutlak baginya
untuk memiliki pengetahuan tentang Tuhan, yang dengan itu ia mengetahu
bahwa kelahiranya kedunia ini adalah atas kehendak Allah dan tentu saja
Allah mempunyai maksud dengan melahirkannya kedunia ini. Sehingga dengan
makrifat Ilahi itu timbulllah pada dirinya akhlak sejati.
Dengan makrifat Tuhan itu akan timbul dalam dirinya suatu keyakinan
bahwa dalam setiap amal dan akhlak terkandung suatu konsekwensi yang
dapat mengakibatkan kelezatan rohani ataupun siksaan rohani dalam
hidupnya didunia , selanjutnya akan menampakan dampak-dampaknya secara
nyata didalam kehidupan akhirat. Pendeknya , pada derajat nafsu lawwamah
manusia sudah demikian rupa memiliki akal, makrifat dan hati nurani yang
suci sehingga ia menyesali dirinya sendiri apabila melakukan perbuatan
buruk , lalu mendambakan dan menghasratkan perbuatan yang baik. Pada
derajat itulah manusia memperoleh "akhlak fadhilah" (budi pekerti
luhur).
........bersambung.
Reading source:
The Philosophy of the teachings of Islam by Hazrat Mirza Ghulam
Ahmad , The London Mosque 1979...
Wassalamu'alaikum wr.wb.
Nadri Saaduddin, Jalan Rambutan B-32, Telp. (+62-0765) 93072
Duri 28884,
Riau Daratan, INDONESIA
----------------------------------------------------------------------------
---------------------------
THERE IS NO GOD BESIDE ALLAH AND MUHAMMAD SAW IS HIS MESSENGER...
LOVE FOR ALL, HATRED FOR NONE....!
---------------------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)