Bismillahirrahmanirrahim...
Assalamu'alaikum wr.wb.

2/2) SIKSAAN NERAKA TIDAK KEKAL...

Berbagai hadits yang dikutip pada tulisan sebelumnya menunjukkan  bahwa
banyak  juga   sahabat Rasulullah SAW, para tabi'i dan juga  sebahagian
kecil  para  Ulama-Ulama Islam terdahulu berpendapat bahwa  neraka  itu
tidak  abadi dan berkesudahan juga. Dengan berpedoman kepada  Al-Qur'an
dan  beberapa  ayat-ayatnya yang  menunjang pendapat itu,  berikut  ini
adalah uraian kami mengenai hal tersebut:

1.  Sekalipun  perkataan  "kecuali apa  yang  Tuhan  engkau  kehendaki"
digunakan baik untuk neraka, maupun untuk surga (Hud 107 , 108),  namun
bertalian  dengan pahala yang yang tiada putus-putusnya  yang  terdapat
pada  ujung  ayat  108 dengan maksud untuk menunjukkan bahwa  keabadian
surga  memang  tidak ada batasnya. Sebaliknya berkenaan  dengan  neraka
perkataan  ityu diikuti oleh "Sesungguhnya Tuhanmu  Maha Pelaksana  apa
yang  Dia kehendaki".....(QS. 11:107). Perkataan ini mengandung tekanan
yang  sangat besar dan ia  mengandung arti bahwa bahwa pada suatu  saat
kelak  penghuni neraka itu akan dikeluarkan semuanya. Sekiranya  mereka
sama  sekali  tidak dikeluarkan dari neraka maka pernyataan  itu  tidak
perlu  dibuat dengan tekanan yang sangat besar dengan menggunakan  tiga
kata-kata   yang   mengandung  tekanan   yaitu  "inna"  (sesungguhnya),
"rabbaka" (Tuhan engkau), "fa'ilu" (Perlaksana Besar dari hal-hal  yang
tidak dapat dilakukan oleh lain-lainnya.

Andaikan  mereka tidak akan dikeluarkan dari neraka itu dan  keadaannya
seperti kekalnya surga maka penyebutannya seharusnya diikuti oleh suatu
keterangan  yang menunjukan keabadiannya...."sebagai suatu  penghukuman
yang  tak putus-putusanya". Memanglah benar bahwa seperti halnya  surga
juga  mengenai neraka dikatakan bahwa penghuni-penghuninya akan tinggal
disana  selama  dikehendaki  Tuhan, tetapi berkenaan  dengan  penghuni-
penghuni  surga  ditambahkan dengan jelas bahwa  mereka  akan  menerima
karunia  itu  dengan  tidak putus-putusnya dan  bahwa  kediaman  mereka
disurga  tidak  mengenal kesudahan. Sebaliknya  yang  bertalian  dengan
hukuman  neraka tak ada diberikan keterangan semacam itu.

Adalah  Ibnu  Hadjar yang pendapatnya sangat bertentangan  dengan  Ibnu
Taiymiyah  mengenai tidak abadinya neraka itu, telah terpaksa  mengakui
bahwa  sementara  yang  bertalian dengan  penghuni  surga  Tuhan  telah
menyatakan mereka akan tinggal disana untuk selama-lamanya , maka  yang
bertalian dengan neraka Dia tidak berkata apa-apa. Apakah Tuhan sengaja
mendiamkan  masalah yang berkenaan dengan penghuni neraka  itu?  Dugaan
yang demikian adalah tidak benar karena dengan mengatakan "Sesungguhnya
Tuhan  engkau  melaksanakan  apa  yang Dia  kehendaki"  maka  Al-Qur'an
menyatakan   bahwa  berkenaaan  dengan  penghuni  neraka   Tuhan   akan
melaksanakan keinginanNya  yang terkandung dalam kata-kata "kecuali apa
yang Tuhan engkau kehendaki" itu.

2.  Bukti  kedua  tentang terbatasnya masa neraka diberikan  oleh  ayat
berikut:  "..Illa  marrahima rabbuka walidzalika khalaqahum"....Kecuali
kepada  orang-orang yang Tuhan engkau melimpahkan rahmatNya; dan  untuk
itulah  Dia  menciptakan mereka".....(QS. 11:119).  Para  penafsir  dan
orang-orang yang berwenang seperti Ibnu Abbas, Ta'us, Mujahid,  Dahhak,
Qatadah  dan  Ikrimah telah mengakui bahwa kata tunjuk "dzalika"  (ini)
dalam  perkataan diatas menunjukkan kepada "rahmat", yang berarti bahwa
Tuhan  menjadikan  manusia  supaya kepada  mereka  dapat  diperlihatkan
rahmatNya..... (Tafsir Ibnu Katsir, dikutip lagi lewat The Holly Qur'an
with  English  Translation, editor Malik Ghulam Farid). Jika  sekiranya
sebahagian manusia akan tetap tinggal dineraka selama-lamanya dan tidak
akan  pernah dikeluarkan dari padanya, maka tentang manusia celaka  ini
tak  dapat  dikatakan  bahwa kepada mereka diperlihatkan  suatu  rahmat
apapun dari Allah.

3.  Sementara pada tempat lain dalam Al-Qur'an kita menemukan ungkapan-
ungkapan  tentang  surga seperti, "Sesungguhnya bagi  orang-orang  yang
beriman   dan  mengerjakan  amal  saleh  adalah  ganjaran  yang   tidak
berkesudahan"....(QS. 41:8, 84:25, 95:6), maka mengenai neraka tak  ada
digunakan ungkapan-ungkapan seperti itu sehingga bisa disimpulkan bahwa
lama ganjaran surga dan hukuman neraka ada perbedaan yang nyata.

4.   Sebuah  ungkapan  dari  Al-Qur'an  :  "Warahmatii  wasi'at   kulla
syai'in....Rahmat-Ku melingkupi segala sesuatunya"....(QS. 7:156), juga
menunjukkan  bahwa  hukuman neraka hanya satu kondisi  pertengahan  dan
keadaan  peralihan sehingga orang-orang yang dihukum Tuhan itu akhirnya
diliputi oleh RahmatNya dan dosa-dosanya akan diampuni. Ungkapan diatas
menampilkan  Rahmat Tuhan sebagai hanya tidak meliputi  segala  makhluk
manusia tetapi juga semua benda makhluk ciptaanNya. Hal ini diungkapkan
dengan  jelas  dalam QS. 40:7, dimana dikatakan bahwa Tuhan  melingkupi
semuanya  dengan Rahmat dan IlmuNya. Kalau diumpamakan  bahwa  beberapa
orang  dapat tetap terhindar dari Rahmat Tuhan karena harus  menanggung
penghukuman abadi, maka harus diakui juga bahwa barang-barang  tertentu
dapat pula terhindar dari ilmu Tuhan, karena ilmu dan rahmat disebutkan
berdampingan  dalam ayat itu. Tetapi asumsi bahwa sesuatu  benda  dapat
terhindar  dari ilmu Tuhan adalah perbuatan tidak masuk  akal  sehingga
dengan  demikian juga mustahil mempercayai bahwa  barang  sesuatu  akan
terputus selamanya dari Rahmat Tuhan.

Hendaklah  diingat  bahwa penghukuman sementara  tidaklah  bertentangan
dengan Rahmat Tuhan. Kenyataan bahwa penghukuman akan berlangsung dalam
waktu  terbatas  menunjukkan  sendiri  bahwa  hukuman  adalah  bersifat
memperbaiki dan penghukuman dimaksudkan sebagai perbaikan hanya sebagai
suatu   pengejawantahan  dari  Rahmat  Tuhan,  yang   daripadanya   tak
seorangpun dapat terhindar sekalipun hanya untuk sesaat saja.  Hal  ini
tentu bertentangan dengan kepercayaan tentang kekalnya neraka.

5.  Ayat-ayat Al-Qur'an berikut ini juga menopang pendapat tidak  kekal
dan abadinya neraka itu. "Aku tidak jadikan jin dan manusia , melainkan
untuk   mengabdi  kepada-Ku"....(QS.  51:56),  dan  "Masuklah   kedalam
golongan hamba-hamba-Ku dan masuklah kedalam sorga-Ku".....(QS.  89:29,
30).  Nah,  apabila semua orang pada akhirnya akan menajdi  hamba-hamba
Tuhan-karena manusia tidak bisa diasingkan secara permanen dari  tujuan
sebenarnya  untuk  apa  dia  diciptakan. Dan  kalu  semua  hamba  Tuhan
kemudiannya  akan masuk kedalam surga , maka kepalsuan  pendapat  bahwa
neraka itu kekal dan abadi adalah nyata sekali.

6. Bukti keenam tentang terbatasnya sifat-sifat neraka berdasarkan ayat
"Barangsiapa  mengerjakan kebaikan sebesar zarahpun akan melihatnya"...
.....(QS.  99:7).  Dengan hanya meringankan hukuman  saja  tidak  dapat
dikatakan  benar-benar  "melihat"  kebaikan  itu  sendiri.  Jadi  untuk
membuat manusia melihat amal-amal mereka dalam kesempurnaan, yakni agar
mereka menjumpai ganjaran dari amal baik mereka, mereka perlu mula-mula
dihukum dengan arti perbaikan atas perbuatan-perbuatan jahat mereka dan
kemudian menerima ganjaran buat amal-amal baik mereka.

7.  Ayat  "Dan  adapun orang-orang yang ringan timbangan  (kebaikannya)
maka  ibunya ialah neraka (ummu hawiyah).....(QS. 101: 8,9),  merupakan
bukti  kuat  lebih lanjut yang menunjang pendapat bahwa  neraka  adalah
tidak  abadi. Dalam ayat ini neraka  diumpamakan sebagai  seorang   ibu
dan  adalah  suatu  kenyataan yang dkikenal  sekali  bahwa  bayi  tidak
selamanya  tinggal dalam rahim bunda . Ia tinggal disana  hanya  sampai
pembentukan  badan  dan anggota-angggotanya menjadi sempurna.  Demikian
pula orang-orang yang malang itu, yang dilemparkan kedalam neraka, akan
tinggal  disana sampai pada suatu saat bila indera-indera  yang  sesuai
bagi mereka untuk melihat keindahan wajah Tuhan sudah berkembang dengan
sempurna.  Jadi  ayat ini juga menjelaskan bahwa neraka  itu  tidaklahj
abadi  dan  perkataan "khaalidiina" dalam ayat yang sedang  ditafsirkan
tidaklah berarti masa yang tidak berakhir, melainkan hanya suatu  waktu
yang  panjang, sebagaimana jelas dalam ayat "mereka tinggal  didalamnya
berabad-abad"......(QS 78:23).

Perkataan "selama langit dan bumi ada" hanya berarti "selama langit dan
bumi  dari  surga dan neraka itu ada" bila neraka sudah  berakhir  maka
langit  dan  bumi  dengan  sendirinya tidak  akan  ada  lagi.  Pendapat
mengenai  tidak  abadinya  neraka ini dan bahwa  manusia  yang  berdosa
sebesar-besarnya pun apada akhirnya akan keluar juga dari sana dan akan
masuk  kesurga , mencegah manusia terjerumus ke dalam sikap putus  asa.
Hal  ini sesuai dengan seruan Tuhan kepada manusia melalui lidah  Yakub
supaya:   "  Janganlah  putus asa terhadap Rahmat Allah"  (QS.  12:87).
Paham  yang  salah tentang neraka dan juga tentang jihad serta   takdir
Tuhan yang dikemukakan oleh sebahagian Ulama-Ulama Islam belakangan ini
telah  banyak  menyesatkan kita semua. Terutama tentang  pendapat  yang
mengatakan bahwa buruk baik nasib yang akan dijalani manusia yang konon
sudah  ditentukan  lebih dahulu....yakni ketika  kita  dalam  kandungan
rahim  ibu ... tanpa kesempatan baginya untuk mengadakan perobahan  dan
perbaikan  mempunyai pengaruh yang negatif yang sangat besar atas  cara
dan jalan kehidupan manusia.


Wassalamu'alaikum wr.wb.
Nadri Saaduddin, Jalan Rambutan B-32, Telp. (+62-0765) 93072
Duri 28884,
Riau Daratan, INDONESIA
----------------------------------------------------------------------------
---------------------------
THERE IS NO GOD BESIDE ALLAH AND MUHAMMAD SAW IS HIS MESSENGER...
LOVE FOR ALL, HATRED FOR NONE....!
----------------------------------------------------------------------------
        ---------------------------

---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)




Kirim email ke