... 

Filsafat Iqbal terpusat tentang ego atau "self hood". Untuk memperkuat
pengetahuannya itu ia tidak segan-segannya menimba ilmu pengetahuan Timur
maupun Barat. Ada, misalnya, afinitas yang nyata antara "filsafat diri"
Iqbal William Mc Dougall, yang di dalam bukunya Introduction to Social
Psychologi (1910) ia melacak perkembangqan kepribadian dari "instring" ke
sentimen kesadaran diri (self regard). Tetapi sementara Mc Dougall
melihatnya dari sisi Psychologi, Iqbal dari metafisika dan etika. 

Menurut CA. Qodir, Iqbal mengambil pandangan tentang "ego" ini terutama dari
kaum idealis seperti Hegel dan Fichte, tetapi menggabungkan dengan paham
perubahan.[7] Ia berpendapat ada tangga nada keakuan yang muncul secara
perlahan-lahan di alam semesta ini, hingga mencapai tingkat manusia, di mana
ke-ego-an berada pada titik titik tertingginya. Allah SWT dipandang sebagai
ego juga tetapi Ia adalah Ego unggul (Ego). Alam semesta adalah lembah
ego-ego yang lebih rendah yang biasanya kita pandang sebagai materi.[8]
Iqbal sangat menekankan dan mengukuhkan perkembangan ego, dan menjelaskan
dengan rinci faktor-faktor yang membangunnya, dan juga faktor-faktor yang
bisa melemahkan bahkan menghancurkannya. 

Seperti J. Rumi, Iqbal percaya bahwa ego membutuhkan lingkungan sosial untuk
berkembang[9] karena dalam kesendirian ia akan melemah dan kering. Dalam
karyanya Romaz-i Bekhudi (Rahasia non-Diri), Iqbal menunjukan saling
ketergantungan antara individu dan masyarakat dan menyatakan dengan tegas
bahwa keanggotaan yang aktif dalam suatu masyarakat yang riil inilah yang
memberi tujuan dan makna dalam kehidupan seseorang.[10] Ego sebagai diri
adalah keseluruhan kepribadian "dalam keadaan tegangan", yang menerima dan
mengintegrasikan rangsangan dan menjawabnya secara kreatif dan inovatif. Ego
pada dasarnya bebas dan kkebebasan ini dipandang oleh Iqbal sebagai
"rahmat".[11] Tuhan, yang harus diperoleh lewat perjuangan berkesinambungan
dan bertahan. Iqbal sendiri mendefinisikan ego (khudi) sebagai berikut:
"Secara metafisik kata "khudi" (keakuan) digunakan dalam arti adanya
perasaan yang tak terperikan tentang "Aku" yang membentuk dasar bagi setiap
keunikan "individu". Secara etik kata khudi berarti kemandirian (self
reliance), penghargaan diri, kepercayaan diri, pemeliharaan diri dan bahkan
pernyataan diri (self assertiion), ketika hal seperti itu memang diperlukan,
demi kepentingan hidup dan kekuatan untuk berpegang teguh pada cita-cita
kebenaran, keadilan, kewajiban dan sebagainya, bahkan ketika harus
berhadapan dengan maut sekalipun.[12] Tindakan yang seperti itu dalam
pandangan Iqbal bersifat moral karena ia membantu mengintegrasikan
kekuatan-kekuatan ego, sehingga mengukuhkannya sebagai lawan terhadap
kekuatan-kekuatan disintegrasi dan disolusi. 

Manusia adalah wakil Allah di atas bumi. Ia dikaruniai
kemungkinan-kemungkinan yang tak terbatas teetapi juga dibebani tanggung
jawab yang tak terbatas juga. Dalam merealisir kemungkinan-kemungkinannya
dan menciptakan dunia secara baru, memperbaharui dunia melalui kerja dan
perjuangan yang keras melawan kekuatan-kekuatan jahat, manusia menjadi
"pekerja sama" (co-worker) dengan Tuhan. Iqbal tidak percaya pada
pre-determinisme, karena ia akan menghapuskan kebebasan dan kreatifitasnya
untuk memberi peluang bagi kehendak bebas manusia, Allah, dengan kehendaknya
sendiri, membatasi kehedak-Nya dengan cara memberikan sebagiannya kepada
manusia, suatu pandangan yang barangkali bertentangan dengan
pandangan-pandangan ortodoks. 


------------

Catatan Kaki 


7. Ibid, h. 166 

8. Lihat M. Iqbal, Reconstruction, h. 106 

9. Lihat Mulyadi Kartanegara, The Mystical Reflection of Rumi, MSSG,
Chicago, 1994, h.71. 

10. C.A. Qadir, op.cit., h. 166. 

11. Rumi memandang "kehendak bebas" sebagai hadiah dari Tuhan. Lihat
Kartanegara, op.cit., h.69. 



Dikutip dari:
http://www.iiman.co.id/artikeldetail.cfm?ArtikelID=97


---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)




Kirim email ke