Assalamualaikum wr wb

Berbeda pendapat sich boleh aja, namun kita perlu ketahui, kita hidup
sekarang
ini bukan di jaman dulu, namun kita ini sekarang hidup di Indonesia yang
kurang
lebih penduduknya 200 juta, juga lingkungannya bukan   sama-sama orang
Muslim
atau sesama suku, namun kita hidup yang serba berbeda dari suku, ras,
agama,
golongan.
Sekarang kita tidak usah diberdebatkan lagi, mengenai Pemilu
Bid'ah/tidak
bid'ah.
Kata beberapa ahli tasawwuf bahwa yang terjadi diseluruh alam adalah
semuanya
itu kehendak Allah, marilah kita kembalikan kepada Allah, semoga Negara
yang
kita cintai ini lepas dari penderitaan krisis sosial, krisis moral,
krisis
moneter dan selalu mendapat ridlo Allah SWT. Amin.....
Pemilu mungkin jalan satu-satunya untuk kita bisa memberikan inspirasi
untuk
memilih pemimpin yang kita inginkan, karena kata sebagian ulama memilih
pemimpin
adalah termasuk ibadah, kita sekarang ini tinggal niatkan untuk memilih
pemimpin
Indonesia ini yang Adil dan Bijaksana.
Banyak beberapa kiyai dari Jawa Timur, sebelum memilih partai, beliau
ini
melakukan Sholat Istikharah, gunanya  untuk minta pentujuk langsung
kepada Allah
SWT. untuk memilih partai yang terbaik untuk Rakyat Indonesia khusus
nasib ummat
Islam.
Kita ini termasuk orang-orang yang berpikir, jangan sia-siakan kita
untuk
memilih pemimpin yang bersifat kebangsaan, tidak untuk mementikan diri
sendiri
bahkan golongan sendiri.
Kalau kita ragu maka beristikharahlah kepada Allah SWT.
Semoga bermanfaat bagi kita semua, Amin.......

Zubaidi

Danang Setiawan wrote:

> PEMILU model barat (kreasi Yahudi/Nasrani) seperti inilah yang diharapkan
> oleh AS dan sekutunya untuk mencegah adanya ukhuwah Islamiyah. Umat Islam
> akan terpecah-belah di PDI-P, Golkar, PAN, PPP, dsb. Sehingga tidak
> membahayakan kepentingannya di Indonesia. Siapa menjamin bakal tidak ada
> bentrokan sesama umat Islam antar partai sebab sudah ditanamkan benih-benih
> dendam kesumat antar umat Islam disana.
> Mbok yaa... kembali model pemilihan Islami (Rasulullah dan para sahabatnya).
> AS tak akan bisa berkutik.
>
> Oleh sebab itu, janganlah kita terpancing ikut-ikutan bersaing dengan setan
> memberi suara, bukankah malah kita habisi saja setan itu agar tidak bisa
> memberikan suaranya. INGA'...INGA'...JANGAN BADAFTAR RAME-RAME DENGAN SETAN.
>
>         -----Original Message-----
>         From:   ivan [SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
>         Sent:   Sunday, April 11, 1999 10:07 AM
>         To:     [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED];
> [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; partai keadilan
>         Cc:     [EMAIL PROTECTED]
>         Subject:        [Sabil] Re: [Tasawuf] Bid'ah ikut pemilu
>
>         Afwan sebelumnya, saya ingin menanyakan hal ini pada Mas Danang.
> Mas,
>         bukankah jaman Rosululloh saw jumlah sahabat atau ummat Islam  tidak
>         sebanyak sekarang ini dan di sana ada sahabat-sahabat terbaik
> Rosululloh saw
>         yang mendukung untuk diangkatnya seorang khalifah setelah Rosululloh
> saw.
>
>         Kalau saya boleh tahu apakah Mas Danang pernah mengetahui bagaimana
> prosesi
>         terpilihnya Imam Ali r.a, Abu Bakar r.a, Umar r.a dan Usman r.a dan
>         bagaimana pemilihan yang dilakukan pada Bani Umayyah ?
>
>         Dan apakah dalil (Qur'an atau hadits) yang mendukung statement Mas
> Danang
>         sedangkan MUI baru saja menyatakan fardhu 'ain untuk memilih ini ?
>
>         Hati-hati mas, jangan sampai kita malah terkena hukuman dari Alloh
> SWT
>         karena mengharamkan sesuatu yang mungkin itu sesungguhnya dihalalkan
> oleh
>         Alloh SWT. Berarti, bukankah kita apabila tidak memiliki ilmunya dan
> telah
>         mengatakan sesuatu itu dosa, kita ini telah mendahului keputusan
> Alloh SWT ?
>
>         -----Original Message-----
>         From: Danang Setiawan <[EMAIL PROTECTED]>
>         To: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>; [EMAIL PROTECTED]
>         <[EMAIL PROTECTED]>; [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>;
> partai
>         keadilan <[EMAIL PROTECTED]>; [EMAIL PROTECTED]
>         <[EMAIL PROTECTED]>
>         Date: Sunday, April 11, 1999 6:46 AM
>         Subject: [Tasawuf] Bid'ah ikut pemilu
>
>         >
>         >Assalaammu'alaykum wr. wb.
>         >
>         >Kita sudah diangkat oleh-Nya sebagai Khalifatullah (Wakil Allah)
> dibumi
>         ini,
>         >oleh sebab itu kita harus menyuarakan 'aspirasi' Nya yang tersurat
> didalam
>         >Alqur'an dan Sunnah-sunnah Nya. Oleh sebab itu kita harus memilih
> seseorang
>         >yang benar-benar menyuarakan 'aspirasi' Nya. Dengan sistim pemilu
> yang
>         >sekarang ini, tidak memungkinkan hal ini terjadi sebab yang
> disuarakan
>         >adalah aspirasi rakyat (mahlukNya). Oleh sebab itu, dengan
> mengikuti Pemilu
>         >sekarang ini berarti kita telah memilih orang-orang yang tidak
> jelas, tidak
>         >dikenal, masih menganggap Pancasila sebagai dasar negara, masih
>         berorientasi
>         >kebangsaan, masih memperjuangkan partai (bukan memperjuangkan
> kehendakNya).
>         >Saya kira berdosa kita kalau mengikutinya sebab akan menambah
> murka-Nya.
>         >
>         >Pada masa Rasulullah dan sahabat-sahabatnya, Khalifah adalah
> ditunjuk bukan
>         >dipilih rame-rame. Sebab kalau yang rame-rame itu akhlaknya kayak
> Serbia,
>         >bagaimana ?.
>         >
>         >Wa'alaykumsalaam wr. wb.

---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)




Kirim email ke