Assalamu'alaikum wr wb,
     Kisah sapi betina dalam surat al-baqarah ini berakhir pada ayat ke
     74 berikut ini:
     "Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan
     lebih keras lagi. Padahal di antara batu-batu itu sungguh ada yang
     mengalir sungai-sungai dari padanya dan di antaranya sungguh ada
     yang terbelah lalu keluarlah mata air daripadanya dan di antaranya
     sungguh ada yangmeluncur jatuh, karena takut kepada Allah. Dan
     Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan. (QS.
     2:74)"
     Allah mengumpamakan kerasnya hati manusia bagai batu. Yang tidak
     bisa lunak dengan api, tidak hancur dengan air ataupun angin.
     Kalaupun dipaksa dihancurkan maka batu itu akan pecah
     berkeping-keping dan masih membentuk kristal-kristal yang keras
     seperti aslinya.
     Kekerasan hati manusia itulah yang menghalangi dari cahaya
     kebenaran dari Al-Haq.
     Sebagai serang salik tidak semestinya kita seperti kaum Nabi Musa
     yang terlalu banyak bertanya sebelum melaksanakan perintah
     mursyidnya. Karena hikmah dan kebenaran itu bersembunyi di balik
     amalan itu. Bagaimana kita akan mendapat hikmah kalau hanya sekedar

     bertanya, diskusi namun tidak mengamalkannya?
     Wallahu'alam bs,
     Wassalamu'alaikum w rwb,
     Wargino




     Assalamu'alaikum wr wb,
     Kisah sapi betina dalam surat al-baqarah ini berakhir pada ayat ke
     74 berikut ini:
     "Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan
     lebih keras lagi. Padahal di antara batu-batu itu sungguh ada yang
     mengalir sungai-sungai dari padanya dan di antaranya sungguh ada
     yang terbelah lalu keluarlah mata air daripadanya dan di antaranya
     sungguh ada yangmeluncur jatuh, karena takut kepada Allah. Dan
     Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan. (QS.
     2:74)"
     Allah mengumpamakan kerasnya hati manusia bagai batu. Yang tidak
     bisa lunak dengan api, tidak hancur dengan air ataupun angin.
     Kalaupun dipaksa dihancurkan maka batu itu akan pecah
     berkeping-keping dan masih membentuk kristal-kristal yang keras
     seperti aslinya.
     Kekerasan hati manusia itulah yang menghalangi dari cahaya
     kebenaran dari Al-Haq.
     Sebagai serang salik tidak semestinya kita seperti kaum Nabi Musa
     yang terlalu banyak bertanya sebelum melaksanakan perintah
     mursyidnya. Karena hikmah dan kebenaran itu bersembunyi di balik
     amalan itu. Bagaimana kita akan mendapat hikmah kalau hanya sekedar
     bertanya, diskusi namun tidak mengamalkannya?
     Wallahu'alam bs,
     Wassalamu'alaikum w rwb,
     Wargino





---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)



Kirim email ke