Assal�mu'alaikum warahmatull�hi wabarak�tuh.

Dari cermin saya yang masih buram, tampak gambaran seperti berikut.
Allah menghendaki pemimpin yang dalam hatinya terdapat keadilan,
kearifan dan keberpihakan kepada kepentingan rakyat yang dipimpinnya.
Tidak penting apakah ia dipilih secara demokratis melalui pemilu atau
sistem pemilihan lainnya, raja yang menduduki takhta secara
turun-temurun, orang yang muncul begitu saja di tengah kekacauan, atau
orang yang merebut kekuasaan melalui kekerasan -- selama setiap saat
ia memikirkan keadilan dan kesejahteraan rakyat yang dipimpinnya,
selama dalam mimpinya ia merindukan bimbingan Allah untuk mengatasi
permasalahan di negerinya -- saya yakin, dialah khalifah sejati di
bumi ini; ia akan mampu mengubah bumi ini menjadi 'sorga'. 
Di sinilah rakyat [dan begitu pula, Allah] 'berdaulat'.

Sebaliknya, biarpun seorang pemimpin yang sehari-harinya tampak tekun
beribadah dan berkelakuan baik, dari mulutnya keluar perkataan-
perkataan yang menyejukkan, dan ia dipilih secara demokratis -- 
tetapi setelah ia dipilih menjadi pemimpin ternyata selalu lebih
mengutamakan kepentingan dirinya, kroninya, atau kelompoknya, maka
yang terjadi adalah kebalikan daripada kasus yang saya sebut di atas. 

Karena cermin pribadi saya memantulkan bayangan demikian, maka tentu
sikap saya terpengaruh olehnya. Saya tidak peduli dengan sistem,
asalkan pada akhirnya kita dikaruniai pemimpin yang baik. Pemilu, ya
pemilu karena saya merasa tak berkompeten untuk memutuskannya, tetapi
saya kan tiap hari berhubungan dengan Allah yang saya yakini sebagai
Penguasa Tertinggi. Jadi saya manfaatkan saja hubungan itu untuk
memohon, kiranya negeri ini segera dikaruniai pemimpin yang mampu
mendatangkan 'sorga' bagi rakyat. Terserah bagaimana Allah mengatur
bagaimana prosesnya, saya hanya mohon hasil akhirnya saja.

Saya tidak patriotik, ya? Bisanya cuma berdoa doang! 

Wassal�mu'alaikum warahmatull�hi wabarak�tuh.
RS


arief muLya wrote:
> 
> Assalaamu 'alaykum wR wB,
> 
> maafkan rekan Saliks ysh,
> setelah capai memikirkan mengenai hakikat penciptaan, sekarang renungan
> saya beralih ke sesuatu hal lain yang dipicu oleh posting2 bidah ikut
> pemilu.
> 
> Sebenarnya telah lama saya memikirkan hal ini,  yang  inti pemikiran
> saya itu, begini :
> Demokrasi itu kan menempatkan kedaulatan Rakyat diatas segala-galanya,
> bisa kita sepakat akan hal ini ? Ini saya ambil dari arti Demokrasi itu
> sendiri. Nah kalau begitu, bagaimana mungkin, kita menyandingkan
> kedaulatan Allah dengan kedaulatan Rakyat ??? bukankah Allah Maha
> Berdaulat ? Dan dalam kekuasaan-Nyalah segala apa yang ada di langit dan
> di bumi ???
> 
> Some would say : yup that's right, tetapi disini ini sistemnya memang
> dibuat seperti itu untuk menuju ke kedaulatan Allah.
> Me : ??? Demokrasi berketuhanan ??? bagaimana ini ??? apa kurang ajaran
> Al-Qur'an ? apa nggak cukup kitab hadits dan sirah nabi ??? apa nggak
> ada ulama yang bisa berijtihad lagi dalam memutuskan sesuatu, sehingga
> perlu 'Rakyat' sebagai pelegitimasi keputusannya ???
> 
> Some would say : iya tapi kan, sekarang kan beda, banyak persoalan baru.
> 
> Me : bedanya apa ? teknologi ? itu kan cuma perubahan kecanggihan martil
> batu jadi robot yang bisa ngetok paku. Yang beda sebetulnya kan sikap
> kita dalam mengahadapi sesuatu. Kita menjadi cenderung begitu materialis
> (dibuktikan dengan ditemukan dan di'dewa'kannya sesuatu yang disebut
> 'Uang'), sehingga melupakan nilai-nilai yg sesungguhnya. Terus contoh
> lain, coba dulu, 10 th lalu aja, make rok mini pasti udah dianggap 'wow'
> silau, tapi sekarang ??? kalo belum berbikini, belon ngetrend.
> 
> Menurut saya disinilah hebatnya propaganda demokrasi dibbandingkan
> paham-paham lain seperti komunisme, sosialisme, etc,dsb. Sifat demokrasi
> yang begitu tersembunyi keasliannya. Emaskah ia ? ataukah hanya besi
> berkarat berbungkus emas ???
> 
> Setahu saya, yang bersesuaian dengan Islam itu hanya, musyawarah u/
> mufakat, (misalnya untuk ijtihad, ijma' dll), tetapi demokrasi ??? saya
> kira itu suatu hal yang berbeda.
> 
> Tapi ya, monggo dech, kalo memang ada yang berpendapat itu kan udah
> keputusan ulama2, berarti udah bener dong. Saya tidak  ingin memaksakan
> pendapat kok. Hanya ingin mengutarakan apa yang dipantulkan 'cermin'
> saya dari 'Cahaya' yang datang. Entah sumber cahayanya salah/ benar,
> entah cerminnya bagus/jelek. Just that,
> 
> Wallahu 'alam.
> Wassalaamu 'alaykum wR wB,
> 
> arief muLya
> ------------
> "There's always a light in the heart of ones who Love"

---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)




Kirim email ke