Apa kata Al-Qur'an apa pula kata Injil....2/4) Ketinggian Al-Qur'an ini bisa kita perbandingkan dengan Injil. Injil membolehkan kita memandang kepada wanita-wanita yang bukan muhrim asalkan jangan dengan pandangan buruk dan pikiran yang mengandung rasa keberahian. Tetapi Al-Qur'an melarang sama sekali kepada kita untuk memandang mereka baik itu pandangan buruk ataupun pandangan baik karena itu bisa menggelincirkan kita. Kebalikannya Al-Qur'an memerintahkan kepada kita bila berhadapan dengan orang-orang yang bukan muhrim itu hendaklah kita meredupkan mata kita, menundukkan pandangan kita , janganlah kita menatap tajam kepada parasnya dan hendaknya kita saling memandang dan melihat dengan mata berkabut. Al-Qur'an juga tidak mengatakan kepada kita seperti yang dikatakan Injil, bahwa janganlah meminum keras sebanyak-banyaknya yang dapat menjadikan kamu mabuk, tetapi Al-Qur'an melarang kita sama sekali meminumnya karena berakibatkan kita tidak akan menemui jalan menuju Tuhan dan Tuhan juga tidak akan berhubungan dengan kita dan Dia tidak akan mensucikan kita dari kekotoran-kekotoran dosa. Dan Al-Qur'an menyebutkan bahwa khamar atau minuman keras itu adalah penemuan syaitan, dan Allah memerintahkan kita untuk menjauhinya.....(QS: 5:90). Al-Qur'an tidak hanya mengatakan kepada kita sebagaimana dikatakan Injil , bahwa janganlah kamu marah kepada saudaramu tanpa sebab, tetapi Al-Qur'an memerintahkan kita agar kita hendaknya tidak sekedar menahan amarah saja tetapi juga harus mengamalkan "watawa shaw bilmarhamah" dan hendaklah kita memberi nasehat dengan kasih sayang dan hendaklah kita mengamanatkan hal serupa kepada semua saudara kita agar diantara mereka juga bisa berkasih sayang. Al-Qur'an tidak hanya mengatakan kepada kita seperti yang dikatakan Injil bahwa hendaklah kamu bersabar atas setiap perbuatan yang tidak senonoh dari isterimu kecuali zina, dan jangan menjatuhkan talak. Akan tetapi Al-Qur'an mengatakan "atthayibaatu litthayibiina".....wanita yang baik adalah bagi laki-laki yang baik. Tujuan yang dimaksud oleh Al-Qur'an itu ialah bahwa orang yang tidak bersih tak dapat hidup berdampingan dengan orang bersih. Kendatipun isteri kita tidak berzina , akan tetapi memandang laki-laki yang bukan muhrimnya dengan pandangan keberahian....bahkan berpelukan dengan mereka selanjutnya melakukan pendahuluan-pendahuluan perzinaan, walaupun belum lagi berzina tetapi ia telah memperlihatkan auratnya kepada orang yang bukan muhrimnya dan ini tentu saja akan menimbulkan keonaran, sudah barang tentu Allah , Tuhan Yang Suci , yang kita imani tidak akan senang hal demikian. Maka apabila ia tidak meninggalkan perbuatan itu Allah memerintahkan kita untuk menjatuhkan talak kepadanya, sebab ia dan amal perbuatannya sendiri telah memisahkan diri dari kita. Ia bukanlah bagian dari badan kita lagi dan kitapun tak layak lagi hidup bersama dia dengan dayus, ia adalah bagian anggauta badan yang menjijikkan dan busuk sehingga patut diamputasi untuk menghindari kekotoran seluruh badan dan memcegah kita dari kematian....... Al-Qur'an juga tidak mengatakan kepada kita seperti yang dikatakan Injil, bahwa janganlah kamu sekali-kali bersumpah. Tetapi Al-Qur'an melarang kita dari membuat persumpahan-persumpahan yang sia-sia. Sebab dalam beberapa hal dan keadaan sumpah adalah merupakan sarana untuk menjatuhkan putusan dan Tuhan tidak menghendaki untuk menghilangkan suatu sarana bukti, karena dengan demikian bisa saja hikmahnya akan hilang. Adalah hal yang wajar saja apabila seseorang tidak memberikan kesaksian dalam suatu perkara yang diperselisihkan , maka untuk menjatuhkan putusan diperlukan kesaksian Tuhan. Dan persumpahan itu menajadikan Tuhan sebagai saksi. Lebih lanjut Al-Qur'an menjelaskan kepada kita, bukan seperti yang dikatakan Injil, bahwa janganlah melawan orang zalim pada setiap kesempatan...... "Balasan terhadap suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa. Maka barangsiapa yang memaafkan dan oleh karenanya menimbulkan perbaikan, maka pahalanya adalah disisi Allah".....(QS. 42:40). Balasan terhadap kejahatan adalah kejahatan setimpal, akan tetapi barang siapa memberi maaaf dan mengampuni kesalahan dengan pemberian maaf akan menimbulkan suatu perbaikan, maka Tuhan akan ridha kepadanya dan Dia akan memberikan pahala kepadanya. Jadi, menurut Al-Qur'an tindakan balasan pada setiap kesempatan adalah tidak tidak terpuji , begitu pula pemberian maaf pada setiap kesempatan adalah tidak patut dipuji . Seharusnya kita melihat keadaan dan pertimbangan akal dengan memperhatikan kemaslahatan apakah pembalasan yang harus dilakukan atau maaf yang harus diberikan. Itulah yang dimaksudkan oleh Al-Qur'an. "Kasihanilah musuh-musuhmu ", demikian kata Injil. Tetapi Al-Qur'an jauh-jauh menasehatkan kita agar jangan mempunyai musuh-musuh pribadi dan hendaklah rasa kasih kita merata kepada setiap orang. Tiada kebencian bagi siapapun dan rasa kasih sayang buat semua orang..... Akan tetapi setiap orang yang menjadi musuh bagi Tuhan, dan juga menjadi musuh bagi Rasullullah SAW dan menjadi musuh bagi Kitab Allah, orang yang demikian adalah pantas sebagai musuh kita. Maka hendaklah kita jangan mengasingkan mereka dari seruan-seruan dan do'a-do'a kita. Yang kita musuhi adalah perbuatan mereka dan bukan diri pribadi mereka. Marilah kita berusaha agar mereka menjadi orang yang benar. Mengenai hal demikian Allah Ta'la berfirman: "Innallaha ya'muru bil'adli wal ihsaani wa iitaaidzil qurbaa"... ...Sesungguhnya Allah menyuruh kamu berlaku adil dan berbuat kebajikan dan memberi kepada kaum kerabat...."(QS. 16:90). Apa yang dikehendaki Allah dari kita dengan perantaran ayat ini? Tiada lain hendaklah kita selaku berlaku adil terhadap seluruh ummat manusia. Lebih lanjut hendaklah kita juga berbuat kebajikan terhadap mereka yang belum pernah berbuat kebajikan kepada kita. Lebih dari itu lagi Allah memerintahkan kita agar kita memperlakukan manusia ini dengan rasa kasih terhadap umat Tuhan itu , seakan-akan kita merupakan kelurga mereka yang sejati bagaikan ibu-ibu berlaku kasih sayang terhadap anak-anaknya. Banyak diantara kita berbuat kebajikan sesama manusia ini, tetapi sedikit sekali diantara kita ini yang bisa menghilangkan rasa penonjolan diri yang tersebunyi dalam kalbu kita. Tidak sedikit pula diantara manusia ini yang dengan sengaja mempamerkan kebajikan yang diperbuatnya. Ini seharusnya kita sadari dan hindari karena kebajikan yang kita perbuat hendaklah merupakan dorongan alami.... fithrah yang ada pada diri kita sebagaimana dorongan alami yang terdapat dalam diri seorang ibu yang yang berbuat bajik terhadap anak-anak mereka. Kalau kita renungkan ayat itu lebih mendalam lagi. Ayat itu tidak hanya mengatur hubungan kita sesama mahkluk saja, bahkan juga bertalian dengan Tuhan. Bagaimana sikap berbuat adil terhadap Tuhan? Kita senantiasa harus ingat akan nikmat-nikmat dan karunia-Nya kepada kita dengan mempelihatkan kepatuhan terhadap-Nya. Berbuat kebajikan terhadap Tuhan ialah kita harus meyakiniNya sekan-akan menyaksikan-Nya dan meyakini bahwa Allah juga meyaksikan kita. Berbuat " Ita'i dzil qurbaa"...memberi kepada kaum kerabat ialah dengan beribadah kepada-Nya bukan karena ketamakan sorga dan bukan karena takut akan neraka. Melainkan jika tidak ada sorga dan neraka pun , hal itu tidak akan menimbulkan perobahaan dan semangat kita dalam kecintaan dan ketaatan kepada Allah itu. (Dari Buku Bahtera Nuh, oleh Hazrat Mirza Ghulam Ahmad a.s., Pendiri Jemaat Ahmadiyah) bersambung Wassalamu'alaikum wr.wb. Nadri Saaduddin, Jalan Rambutan B-32, Telp. (+62-0765) 93072 Duri 28884, Riau Daratan, INDONESIA ---------------------------------------------------------------------------- --------------------------- THERE IS NO GOD BESIDE ALLAH AND MUHAMMAD SAW IS HIS MESSENGER... LOVE FOR ALL, HATRED FOR NONE....! ---------------------------------------------------------------------------- --------------------------- --------------------------------------------------------------------- Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED] Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED] Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected] Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)
