SAINS, PENGETAHUAN, DAN TASAWUF PENGETAHUAN TASAWUF BAGI SELURUH UMAT MANUSIA Naskah asli: Henry Bayman http://home.att.net/~nungan/sufism/ Diterjemahkan: R. Sunarman NAKHODA DAN KAPAL Kita dapat melihat bahwa bukannya saling eksklusif, sains dan iman malah saling melengkapi, masing-masing memberi ekspresi sepenuhnya kepada yang lain ketika manusia berupaya untuk membuka misteri kita sendiri dan dunia. Albert Einstein berkata: "Sains tanpa agama akan pincang; agama tanpa sains akan buta." Manusia diciptakan sedemikian rupa hingga iman merupakan bagian esensial dari dirinya. Sedemikian vitalnya hingga upaya untuk melenyapkan iman hanya akan meninggalkan lubang yang akan diisi oleh keyakinan lain yang mungkin lebih tidak rasional. Manusia telah mengisi "lubang" iman dengan banyak hal di sepanjang zaman. Namun ada elemen esensial yang tak dapat dan tak boleh dilenyapkan, dan ini adalah iman kepada Allah yang Esa. Tuhan tak dapat kurang atau lebih dari satu; Dia harus Satu. Atheisme menganggap Tuhan sebagai Nihil. Kemudian, politheisme menganggap Tuhan lebih dari satu. Rupanya ada semacam simetri, bahkan suatu hubungan, antara atheisme dan politheisme. Ternyata kedua pandangan ekstrim mungkin dapat disintesiskan. Seperti uang, inflasi dalam jumlah tuhan mengakibatkan devaluasi konsep Allah, dan mungkin penolakan total. Karena atheisme membiarkan 'lubang' iman dalam manusia kosong, dan karena alam membenci kekosongan, benda lain akan masuk mengisi kekosongan itu. Ini dapat terjadi pada banyak hal: sepak bola, uang, sex, makanan, bintang rock, tokoh-Fuehrer, alien, dll. Iman tak dapat dilenyapkan dari unsur manusia. Karena Allah ingin agar kita "menemukan"-Nya, kita harus mempertimbangkan akibat dari kegagalan dalam memanfaatkan kesempatan ini. Dalam menolak semua hal yang irrasional yang terkait dengan iman, kita harus hati-hati dengan tidak menumpahkan air mandi kepada seorang bayi. Atheisme, sebagai kelawanan iman, sering mengaku mempunyai basis rasionalitas yang lebih tinggi dan terbebas dari takhayul. Tentu, banyak orang yang menganut atheisme adalah orang-orang yang cerdas dan rasional. Tetapi kita mungkin bertanya kepada diri sendiri, apakah atheisme itu rasional? Kisah ini menceritakan Abu Hanafi, salah satu pendiri mazhab Islam, yang suatu ketika dikunjungi oleh sekelompok professor naturalis di Baghdad. Maksud mereka sebenarnya untuk membingungkan dan mempermalukan beliau. Beliau menyalami mereka dan meminta mereka menunggu sepuluh menit karena beliau harus menemui tamu yang telah berkencan terlebih dulu di ruangan yang lain. Beliau masuk ke ruang di sebelahnya dan membaca buku. Beliau menunggu setengah jam, bukan sepuluh menit, sebelum menemui para naturalis itu. "Maaf telah membuat anda sekalian menunggu, tetapi tamu yang saya tunggu tidak datang. Aku harus berwudhu, maka aku pergi Sungai Eufrat di dekat sini. Di sana aku melihat suatu pemandangan yang mengagumkan. Aku melihat sebuah perahu tanpa nakhoda, namun perahu itu berjalan seolah-olah ia dikemudikan oleh seorang nakhoda, dengan manis ia mengolah gerak dalam tikungan-tikungan sungai. Ia berjalan tanpa ada yang mengemudikan, tanpa kandas atau menabrak sedikit pun." Para profesor itu tertawa. "Jangan harap kami mempercayai anda" mereka menyahut. "Sebuah perahu tidak mungkin bergerak tanpa seorang nakhoda yang mengemudikannya dan tetap tampak seolah-olah dikemudikan." Abu Hanafi menjawab: "Anda tidak percaya bahwa sebuah perahu dapat dikemudikan tanpa seorang nakhoda. Lalu bagaimana seluruh alam semesta yang jauh lebih besar dari pada sebuah perahu, alam semesta yang di dalamnya terdapat proses-proses rumit yang tak terhingga jumlahnya ini, dapat berjalan terus setiap saat tanpa kegagalan, bagaimana alam semesta ini dapat berjalan tanpa Nahkoda?" Para profesor itu berterimakasih kepadanya. "Kami datang untuk mengolok-olok anda, tetapi anda malah memberi pelajaran yang sangat berharga kepada kami." Ini juga menunjukkan bahwa Allah tidak hanya sekedar menciptakan alam semesta pada mulanya, lalu kemudian berlibur (pendapat ini merupakan kekeliruan analogi Allah sebagai Pembuat Jam). Dia secara aktif memelihara tatanan alam semesta setiap saat. Apakah tidak aneh untuk berkata, sebagaimana ideologi yang dominan dalam pemikiran modern, bahwa alam semesta itu ada dengan sendirinya, tanpa tujuan, sebagai keseluruhan rangkaian kejadian peluang-peluang yang menghasilkan dunia yang ditata sedemikian baik dan dirancang bangun secara uniform? --------------------------------------------------------------------- Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED] Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED] Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected] Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)
