Assalamu'alaykum wr. wb.
Menurut materi pelajaran sejarah yang dulu saya peroleh di sekolah,
nama Indonesia muncul sesudah PD II untuk menyebut negara yang
dibentuk di atas semua bekas Jajahan Hindia-Belanda, yaitu seluruh
wilayah Indonesia sekarang, tidak termasuk Timor Timur. Jadi,
bangsa/negara Indonesia itu dibentuk berdasarkan konsensus bersama.
Nama Nusantara sudah ada sebelum itu, tetapi bukan merupakan bangsa
atau negara, jadi tidak jelas wilayahnya. [mohon dikoreksi kalau
salah]
Semboyan Bhinneka Tunggal Ika mengisyaratkan bahwa kita memang bangsa
yang majemuk dalam berbagai aspek. Saya dapat membayangkan, hanya
sentimen sama-sama menderita akibat penjajahan Belanda-lah yang
menimbulkan tekad untuk bersatu ketika itu. Setelah kemerdekaan
dicapai, kita lihat berbagai pemberontakan dan gerakan separatisme
muncul, tetapi sejauh ini dapat diatasi. Dari sejarah itu pula kita
dapat belajar bahwa selama manusia tidak mempunyai kesamaan
kepentingan, apalagi jika dipicu oleh benturan kepentingan, maka
persatuan itu sulit diperoleh. Jangankan suatu negara, orang-orang
serumah pun sulit dipersatukan tanpa adanya persamaan kepentingan.
Kepentingan bersama untuk melepaskan diri dari penjajah sudah tidak
ada lagi kini, dan karena itu, bila diinginkan negara ini tetap utuh
bersatu secara sukarela, diperlukan seorang pemimpin yang mampu
memunculkan dan menghidupkan 'common interst' baru ke permukaan; bisa
saja hal yang dimunculkan itu merupakan jati diri bangsa Indonesia.
[Saya sendiri tidak/belum tahu; seandainya tahu dan berhasil
memasyarakatkannya, pasti saya-lah yang diangkat menjadi pemimpin
bangsa ini]
Kita tahu dalam tasawuf bahwa segala sesuatu terjadi akibat adanya
Kehendak. Allah memiliki Total (Universal) Will, sedangkan manusia
hanya memiliki Fractional [Free] Will. Manusia boleh menghendaki agar
negara ini bersatu atau terpecah, namun Allah jua dengan Total
Will-Nya yang akan menentukan. Jadi biarlah saudara-saudara kita yang
ingin memisahkan diri - berjuang sekuat tenaga sambil memohon kepada
Tuhan agar keinginannya tercapai, dan biarkan saudara-saudara kita
yang tetap menghendaki persatuan berjuang pula dengan cara yang sama
agar kehendaknya tercapai. Di atas kedua kehendak [bebas] yang saling
berlawanan itu, kehendak [total] Allah akan memutuskan alur sejarah.
"... Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara
manusia (agar mereka mendapat pelajaran) ..." [QS 3:140]
Wassalamu'alaykum wr. wb.
RS
Muhammad Sigit wrote:
> Ikhwah fillah rahimakumullah.
>
> Akhir-akhir ini ada satu pertanyaan yang mengganjal di benak saya. Yaitu,
> siapakah sesungguhnya yang disebut Bangsa Indonesia itu? Apakah umat manusia
> yang ada dari Sabang samapai Merauke? Kenapa pula bisa begitu? Apa dasarnya?
> Apa pula sesungguhnya Nusantara itu?
>
> Saya pikir pertanyaan ini amat relevan untuk kita pikirkan saat ini. Bahkan
> dalam kriteria saya, Capres atau calon pemimpin bangsa ini haruslah bisa
> menjawab pertanyaan tsb.
> Saat ini saudara-saudara di Aceh sudah mulai menuntut referendum yang
> berunjung pada Aceh Merdeka. Bila kita menolak atau menerima kemerdekaan
> Aceh tsb, dasarnya apa? Lantas bagaimana dengan daera-daerah lain?
>
> Ada suatu tesis ttg hal ini, yaitu Indonesia adalah seluruh bangsa yang
> pernah dijajah Belanda. Tapi menurut saya tesis ini bukan landasan yang
> kukuh bagi tegaknya suatu bangsa. Setiap saat suatu daerah bisa dengan mudah
> melepaskan diri dari ikatan persatuan Indonesia, bila landasannya hanyalah
> karena faktor senasib. Lagi pula, toh Nusantara sudah ada jauh sebelum
> Belanda datang.
>
> Pasti ada alasan yang lebih mendasar?
> Sebagaimana jawaban atas pertanyaan siapakah AKU.
>
> Mohon ditanggapi.
>
> Wassalamu'alaykum wr. wb.
>
---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)