SAINS, PENGETAHUAN, DAN TASAWUF
PENGETAHUAN TASAWUF BAGI SELURUH UMAT MANUSIA

Naskah asli: Henry Bayman 
http://home.att.net/~nungan/sufism/
Diterjemahkan: R. Sunarman


TAKDIR

Kita berbicara mengenai takdir hanya dalam retrospeksi (melihat ke
belakang). Jika kita melihat masa lalu, kita menemukan sejarah
kejadian yang timbul dari kemungkinan-kemungkinan yang tak terhitung.
Ini merupakan salah satu alasan mengapa kita cenderung untuk
beranalogi jam terhadap alam semesta. Tentu, di masa mendatang pun
urutan peristiwa itu akan terjadi. Allah akan mendatangkan hasil
tertentu, yang di dalamnya berperan hukum alam tertentu. Tetapi kita,
sebagai manusia, tak dapat mengetahuinya sampai hal itu terjadi. Tugas
kita hanyalah mengupayakan atau mencegah sesuatu hasil, bukan
membicarakan masalah metafisik dari takdir itu.

Ketika Umar (salah seorang Sahabat Nabi dan Khalifah Kedua) hendak
bergabung dengan pasukan pada suatu ketika, ia mendengar berita bahwa
wabah penyakit berjangkit di antara mereka. Setelah berunding dengan
beberapa pembantunya, Umar memutuskan untuk mundur, tidak meneruskan
niatnya. Sahabat yang lain bertanya: "Apakah pembatalan ini berarti
meloloskan diri dari takdir yang telah ditetapkan Allah?"

Umar memberi jawaban yang mengagumkan dan tak terlupakan. "Ya, memang
kita melarikan diri. Namun meskipun kita lari dari takdir Allah yang
satu, kita sekaligus masuk ke takdir yang lain. Meskipun kita
menggunakan kehendak bebas kita, Allah-lah yang menentukan
kejadian-kejadian dengan kehendak total dan universal-Nya. Apakah
engkau membiarkan untamu merumput di padang hijau atau engkau
membawanya ke dataran berbatu, keduanya terjadi menurut ketentuan
Allah."

Begitulah Sahabat Nabi memahami takdir. Ini merupakan pandangan yang
dinamis tentang takdir, tidak berkaitan dengan keputus-asaan, bunuh
diri atau kemalasan yang biasanya distempelkan kepada Islam. 

PERANAN PELUANG

Sebagian orang berupaya mendudukkan Peluang dalam posisi Allah yang
benar. Jawabannya tiga macam:

1.      Peluang tak dapat menerangkan cara kerja alam semesta yang
kompleks, lebih dari penilaian terhadap navigasi sebuah perahu yang
sukses dalam contoh di atas. Mustahil bagi materi yang mati, diam dan
pasif untuk menunjukkan perilaku yang cerdik atau melakukan perbuatan
menurut kaidahnya sendiri. Adapun mengenai karakter materi yang
"mengatur diri sendiri", di sinilah terletak peran kekuasaan Allah
yang tampak atas alam semesta. Menyatakan bahwa alam menetapkan
perilaku non-acak dan beraturan dengan sendirinya, sama saja dengan
menyatakan bahwa ia menciptakan dirinya sendiri, aturannya sendiri,
dan semua kecerdasan yang melekat padanya - dari ketiadaan, dan ini
berarti mengubah Allah menjadi materi.

2.      Kejadian-kejadian acak pun patuh kepada kaidah peluang
(probabilitas) dalam matematika, dan di mana ada kaidah ilmiah, suatu
Pencipta tak mungkin jauh darinya. Kenyataan bahwa kejadian-kejadian
acak dapat tunduk sepenuhnya kepada hukum ini begitu mengejutkan
sehingga ahli matematika John von Neumann menyebut peluang itu dengan
"black magic."

3.      Orang yang percaya bahwa peluang dapat menerangkan cara kerja alam
semesta tidaklah lari dari konsep Allah sama sekali. Mereka
mendudukkan Peluang pada tempat Allah menurut iman mereka sendiri.

Peluang bukanlah pencipta hukum; ia merupakan latar belakang dari
keberadaan tatanan, karena keduanya hadir bersama-sama.



---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)




Kirim email ke