Assalamu'alaikum wr wb,

Kalau kita menengok ke masa lalu dan jujur, pasti kita mengakui bahwa
pemahaman kita selalu berkembang dari waktu ke waktu. Setiap hari kita
memperoleh informasi dan pengalaman baru yang dapat mengubah dan
bahkan membalik pemahaman yang dulu. Dulu saya tahu bahwa api itu
berbahaya dan kita harus menjauhinya, tetapi sekarang saya malah
menggunakan api untuk merebus air, bahkan memotong besi. Dulu si A
dilarang nyebur ke laut, tetapi sekarang ia bekerja dengan menyelam di
laut, memelihara kerang mutiara. Dulu, ketika kecil, saya tahu bahwa
sex itu tabu, tapi sekarang saya beristeri dan beranak.

Jangan disangka saya bermaksud merendahkan seseorang, tetapi kita
pasti setuju bahwa melarang anak kecil bermain api itu BENAR, dan
membolehkan seorang dewasa untuk belajar mengelas dengan menggunakan
api itu pun BENAR. Yang salah justru bila ajaran "dilarang mendekati
api" itu dipertahankan terus meskipun seseorang telah mengetahui
bahaya dan manfaat api.

Dalam pemahaman agama pun kita selalu berkembang. Sekali lagi, saya
tidak bermaksud merendahkan seseorang, tetapi di milis ini kita semua
perlu belajar memahami realita. Merupakan fakta bahwa seseorang
memahami 'Allah tidak butuh disembah; kita-lah yang butuh
menyembahnya'. Tugas bersama adalah memahami perkataan ini meskipun
kita tidak menyetujuinya.

Kalau kita hanya menggunakan pikiran semata-mata, sulitlah bagi kita
untuk menyetujuinya. Anggaplah perkataaan itu merupakan suatu snapshot
pemandangan yang diperoleh dalam perjalanan tasawuf ketika seseorang
mencapai tahap kesucian jiwa tertentu. Maka kita dapat menguji apakah
snapshot itu palsu atau asli bila kita sendiri melakukan perjalanan
serupa. 

Tasawuf merupakan gaya hidup yang menggunakan bukan sekedar pikiran
untuk memahami kehidupan, tetapi menggunakan pula potensi manusia
selain pikiran. Perbedaan penggunaan alat pemahaman inilah yang
menghasilkan pemahaman yang kadang-kadang kontradiktif, padahal
sebenarnya tidak. Apakah ini ilmiah? Ya, karena dapat dijelaskan dan
dibuktikan. Saya berikan satu contoh dalam kasus di alam fisik sbb:

Ada air di dalam gelas: si A memasukkan jarinya dan mengatakan bahwa
air itu hangat, tetapi si B mengatakan bahwa air itu dingin. Siapa
yang benar? Dua-duanya benar! Kita hanya perlu memahami mengapa A
merasakan panas dan B merasakan dingin. Kita gunakan termometer: suhu
air itu 25 derajat. A ternyata baru habis kehujanan hingga badannya
dingin; pantas saja ia berkata air itu hangat. B baru saja selesai
bersenam; badannya panas hingga ia merasakan air itu dingin; ia pasti
berbohong jika berkata bahwa air itu panas.

Sayang sekali, kita baru mampu menerima metode pembuktian dan
penjelasan itu bila kita sendiri telah mengalami. Seandainya si B
tidak pernah kehujanan dan tidak mau mencoba kondisi kehujanan itu,
sulit baginya untuk menerima bahwa air di gelas itu dapat saja terasa
hangat meskipun ia sendiri merasakan dingin.

Sekarang, mampukah kita memahami orang yang berkata bahwa Allah itu
tidak butuh disembah?

Wassalamu'alaikum wr wb,
RS


Budi Utomo wrote:
> 
> ----- deleted -----------
> >
> >USAHA PENGENALAN
> >----------------
> >Menurut pendapat saya semua amal-ibadah yang kita lakukan itu bukan
> >untuk Allah, bukan untuk mengagungkan Allah. Allah tidak butuh
> >disembah, tidak butuh diagungkan. Demikian juga Allah tidak benci
> >dengan orang yang tidak menyembahNya. Sifat 'butuh, senang dan benci'
> >itu bukan sifat Allah melainkan sifat makluk.
> >
> 
> Assalamu'alaikum wr wb,
> 
> Sejak dulu saya agak merasa risih dengan tulisan anda yang kadang
> nampak kontradiktif dengan 'kebenaran' yang selama ini saya pahami.
> 
> Jelas tersurat dalam al-qur'an bahwa diciptakannya jin dan manusia
> itu hanya semata-mata untuk menyembah Allah. Anda menulis bahwa
> Allah tidak butuh disembah!!
> 
> Dalam ayat-ayat lain maupun dalam hadist banyak sekali dikatakan
> bahwa Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik dan membenci
> orang-orang yang berbuat kerusakan.
> 
> Bagimana pendapat anda tentang hal ini?
> Saya tidak kutipkan ayat ataupun hadisnya, karena terlalu banyak.
> Dan saya percaya anda dan rekan-rekan yang lain sudah tahu dan
> sering menemukan ayat-ayat atau hadist yang berisikan hal-hal tersebut.
> 
> Maaf kalau pertanyaan ini menyinggung anda.
> 
> Buat Abah dan Pak Ali, terimakasih atas tambahan ilmunya.
> Saya suka dengan tulisan-tulisan dan pendapat anda.
> 
> Terimakasih,
> Wassalamu'alaikum wr wb,
> BU


---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)




Kirim email ke