Assalau'alaikum
Dua kali seminggu kita dapat menikmati film Kera Sakti di Indosiar.
Film itu merupakan pengungkapan kebenaran tentang hakikat hidup
manusia pada umumnya dilihat dari sudut pandang Buddha, dalam bentuk
film hiburan. Tentu tidak bijaksana jika kita menilainya dari sudut
pandang Islam, karena kita hanya akan mendapatkan banyak perbedaan
dalam BENTUK, tetapi kita dapat menarik garis persamaan/kemiripan
dalam hal perlunya pengendalian Nafsu dan Pikiran.
Tokoh utama dalam film itu adalah rombongan biksu yang melakukan
perjalanan mencari kitab suci untuk menyelamatkan umat manusia.
Rombongan itu terdiri dari tokoh:
- Kera, lambang pikiran manusia
- Babi, lambang jiwa manusia
- Lembu, lambang kemauan manusia
- Guru, lambang "AKU" yang selalu mengupayakan kesempurnaan diri.
Kita bisa melihat di film itu bahwa Kera itu sakti tak terkalahkan,
banyak akal, mampu menyelesaikan banyak persoalan; tetapi juga liar,
sulit diatur, mau menang sendiri. Begitu saktinya ia [pikiran itu],
sampai-sampai para dewa di langit pun tak berdaya menghadapinya.
Babi, sebagai lambang jiwa, diwarnai oleh nafsu-nafsu duniawi.
Lihatlah, dalam film itu ia begitu terobsesi dengan urusan wanita,
makanan, pangkat, kekuasaan, kenikmatan dll. Dalam perjalanan hidup,
nafsu itu terkikis sedikit demi sedikit, tetapi tidak sampai lenyap.
Biarpun telah mencapai kesucian, nafsu itu sesekali datang juga.
Lembu, atau kemauan itu, meskipun bodoh tetapi ia punya energi
yang banyak, pantang menyerah, hasratnya hanya ingin mengabdi dan
melayani.
Keempat tokoh itu tak terpisahkan dan merupakan unsur yang nyata-nyata
ada dalam diri setiap manusia. Perbuatan manusia merupakan resultan
dari gaya tarik-dorong keempat unsur internal itu, di samping
unsur-unsur di luar.
Dalam perjalanannya, Guru tidak mendapat masalah yang berarti dari
Lembu. Masalah lebih banyak berasal dari Babi yang terikat pada nafsu
duniawi, dan dari Kera yang berbuat semaunya sendiri, sehingga perlu
usaha keras untuk menjinakkan keduanya.
Kemiripan yang dapat ditarik dari sini dengan tasawuf Islam adalah:
ketika sang AKU berkehendak untuk mendekatkan diri kepada Allah,
pertama: nafsu, kedua: pikiran, -- keduanya harus ditundukkan agar
mengikuti kehendak sang AKU. Caranya? Aliran mistik dari semua agama
pada umumnya, dan aliran tasawuf pada khususnya, mempunyai solusi
untuk itu.
---
Untuk mas Ali Abidin yang dulu bertanya mengenai manusia yang
dikiaskan dengan kera dan babi [QS 5:60], kira-kira dari tulisan di
atas bisa menerima, nggak, kalau kera adalah manusia yang menyembah
pikirannya, dan babi adalah manusia yang menjadi budak hawa nafsunya?
Wassalamu'alaikum.
RS
---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)