Assalamua'alaikum wr. wb.
Terima kasih pak Sunarman atas terjemahannya ini. Hanya terjemahan istilah
vektor status tidak dikenal dalam dunia fisika di Indonesia, yang di
kenal adalah vektor keadaan. Gampangnya, vektor ini adalah sebuah
representasi dari sistem yang ditinjau.
Tulisannya pak Henry Bayman ini bagus, tetapi mungkin masih sulit
dimengerti oleh orang awam. Henry Bayman sebenarnya ingin mengatakan bahwa
fenomena-fenomena kuantum itu akan meniscayakan adanya suatu 'kesadaran',
yang benar-benar terpisah dari materi, ia bersifat spiritual dan yang
MEMERLUKAN Allah pada akhirnya.
Sebenarnya dunia kuantum bagi fisikawan adalah masih MISTERI, terbukti
terdapat berbagai MAHZAB dalam menafsirkan teori kuantum tersebut. Yang
disebut Henry Bayman adalah Copenhagen School, adalah salah satunya saja.
Mahzab ini menafsirkan dunia kuantum sbb:
Realitas itu masih belum ADA, sebelum adanya pengamat yang sedang
melakukan pengamatan terhadapnya. Keberadaan realitas bergantung pada
keberadaan pengamat. Inilah 'kesadaran' pengamat akan menentukan
ADA dan TIDAK-ADANYA realitas.
Penafsiran tersebut terlihat aneh, karena pengukuran sudah tidak kelihatan
obyektif lagi, karena sangat bergantung pada subjek pengamat. Namun memang
demikianlah dunia kuantum, penafsiran Copenhagen tersebut banyak diterima
oleh fisikawan, karena memang sesuai dengan banyak eksperimen laboratorium
terutama dalam pengukuran partikel-partikel sub-atomis. Selain penafsiran
ini ada juga mahzab Einstein, mahzab Wheeler, dll, yang juga sama-sama
masuk akal, sangat rasional. Pembahasannya cukup panjang, agak sulit
diungkapkan tanpa bahasa matematika.
Singkat kata, dunia kuantum memang dunia "ghaib". Partikel-partikel
elementer, yang menyusun alam semesta, memang TIDAK PERNAH terlihat dengan
mata telanjang. Namun para fisikawan dapat "MELIHATNYA" hanya melalui
"JEJAK-JEJAK-nya" saja di laboratorium, dan perhitungan matematika yang
memang MENGHARUSKAN keberadaanya berdasarkan pertimbangan kesimetrian
dalam fisika. Misalnya adalah penemuan QUARK TOP, keberadaannya di
laboratorium hanya dalam waktu yang sangat-sangat singkat, yakni
SEPERMILYAR DETIK !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!,
dan kemunculannya pertama kali di alam adalah saat detik-detik pertama
big-bang, yang merupakan awal-mula kelahiran alam semesta.
Walhasil ilmu fisika SEBENARNYA sangat dekat atau bahkan sama saja dengan
ilmu-ilmu lain dalam islam untuk ikhtiar pencarian kebenaran sejati.Tentu,
siapa saja yang akrab dengan al-Qur'an, mengetahui dengan persis betapa
kitab itu sangat menganjurkan mempelajari alam semesta, mentafakurinya.
DAN saya sangat prihatin bahwa generasi muda islam kebanyakan tidak
memiliki semangat untuk mempelajari fisika teori. Padahal implikasinya
tidak hanya ke agama, filsafat, dll, tetapi juga ke tekhnologi, dasar bagi
TEGAKNYA PERADABAN.
Saya ingin memberikan contoh lagi betapa fisika dapat digunakan untuk
memahami tasawuf. Para sufi dan mistikus dari agama lain sudah mengetahui
bahwa alam itu fana dan maya. Semuanya mereka sepakat, tetapi memang ada
perbedaan dalam deteilnya tentang penafsiran sifat sifat dan keadaannya,
apa yang dinamakan fana itu. Penjelasan fisikanya seperti ini.
Sudah sejak dulu para ilmuwan fisika dan kimia mengetahui tentang
berlakunya hukum kekekalan energi di alam. Konsekuensi hukum ini adalah
ENERGI TOTAL alam adalah KONSTAN, tanpa tahu berapa besarnya. Perkembangan
fisika menunjukkan, seperti pekerjaannya Edward Tryon, yang menunjukkan
bahwa energi gravitasi ternyata bersifat MENYEIMBANGKAN semua jenis energi
di alam, sehingga ENERGI TOTAL ALAM SEMESTA ADALAH NOL. Selanjutnya
terapkan persamaan massa-energi einstein E=mc2, yang berarti MATERI TOTAL
ALAM SEMESTA ADALAH NOL. Ya, berat SEMUA MATERI DI ALAM adalah nol kg.
Tetapi mengapa kita 'merasakan' materi memiliki berat dan membentuk sistem
yang kita lihat seperti ini ? penjelasannya dianalisa dalam Complexity
Theory, yang tidak sempat dibahas di sini.
Akhirnya tetap saja :: Maha Agung Allah. Maha Suci Allah.
DAN SEGALANYA AKAN MUSNAH, KECUALI WAJAHNYA
28:88
Segala puji bagi Allah dari awal hingga akhir.
Wassalam
ahassan
On Tue, 25 May 1999, R. Sunarman wrote:
> SAINS, PENGETAHUAN, DAN TASAWUF
> PENGETAHUAN TASAWUF BAGI SELURUH UMAT MANUSIA
>
> Naskah asli: Henry Bayman
> http://home.att.net/~nungan/sufism/
> Diterjemahkan: R. Sunarman
>
> ALLAH DAN FISIKA MODERN
>
> Pada abad ke-19, fisika ditandai dengan pandangan materialistik dan
> deterministik. Hukum besi dijalankan secara buta tanpa mempedulikan
> keberadaan manusia. Pabrik-pabrik dalam Revolusi Industri merupakan
> suatu prototype yang dijadikan dasar paradigma ilmiah. Tiada tempat
> bagi Allah, kasih sayang, atau jiwa manusia.
>
> Kini, pada akhir abad ke-20, para ilmuwan lebih terbuka terhadap
> konsep Allah. Cullen Murphy dalam "The Atlantic Monthly" menulis
> "Mereka yang bekerja dalam sains keras, khususnya fisika, adalah orang
> yang paling terbuka dalam berbicara secara serius mengenai keberadaan
> Allah. Dengan tiap perkembangan pemahaman kita mengenai bagaimana alam
> semesta diciptakan, dalam tiap langkah maju dalam pemahaman kita
> mengenai dunia sub-atom dikendalikan, kita hanya makin memperdalam
> misteri keberadaan-Nya, bahkan sebagai arsitek dari realita fisika
> yang mengagumkan."
>
> Dalam bukunya Physics and Beyond (1971), ahli fisika kuantum Werner
> Heisenberg menceritakan bagaimana ia dan Niels Bohr (salah satu
> pendiri "Copenhagen School" yang menginterpretasikan mekanika kuantum)
> bersetuju bahwa tiada sesuatu pun dalam fisika kuantum yang
> menjelaskan kehidupan dan kesadaran. Pandangan ini diikuti juga oleh
> para ahli fisika ternama seperti Erwin Schr�dinger. Baru-baru ini,
> ahli matematika dan filosof David Chalmers telah berkesimpulan bahwa
> "kesadaran merupakan fenomena nonfisik dari dunia", atas dasar bahwa
> "struktur fisik dunia (distribusi partikel-partikel, medan-medan, dan
> gaya-gaya dalam ruang-waktu) secara logis konsisten dengan ketiadaan
> kesadaran, maka keberadaan kesadaran merupakan fakta yang lebih lanjut
> mengenai dunia." Penulis buku The Conscious Mind (1996), Chalmers,
> dikenal dengan apa yang disebutnya sebagai "hard problem" dari
> kesadaran: mengapa kesadaran muncul dari suatu proses fisik.
>
> Kenyataannya, kesadaran memang muncul ketika kita memperhatikan
> penjelas fundamental dari realita dalam fisika kuantum, vektor status
> atau fungsi gelombang, namun di sini bukan tempat yang tepat untuk
> membicarakan hal ini. Cukuplah dikatakan bahwa vektor status
> menjelaskan peluang bentuk-bentuk yang di dalamnya sesuatu system
> fisik harus ditemukan. Ini melibatkan sejumlah peluang-peluang, hingga
> peluang-peluang itu runtuh satu persatu dan hanya meninggalkan satu
> peluang saja.
>
> Apa yang menyebabkan reduksi fungsi gelombang ini: keruntuhan vektor
> status? Secara singkat, dari literatur yang mutakhir, aku menemukan
> jawaban berikut. Di samping kesadaran, reduksi vektor status dikaitkan
> dengan: 1) gaya tarik bumi, 2) panas, 3) ucapan manusia, 4)
> simbol-simbol, 5) lingkungan (yang barangkali all-inclusive). Tentu
> saja masih banyak yang terlewatkan olehku.
>
> Menurut pendapatku, hal ini menunjukkan bahwa adanya keragaman dalam
> bidang itu. Jika sesuatu menyebabkan vektor status reduksi R, ia
> bagaimana pun mempunyai status yang berprioritas lebih tinggi dari
> pada sesuatu yang direduksi. Namun dalam alam fisik, kita tidak
> mempunyai dasar untuk menganggap bahwa sesuatu benda atau proses fisik
> berprioritas lebih tinggi dari yang lain. Lebih spesifik, apakah tidak
> semua yang tersangka menyebabkan 1-5 dari mereka sendiri menyebabkan
> kebutuhan akan R? Mungkinkah ada yang lain? Dapatkah salah satu dari
> penyebab ini mereduksi vektor status juga? Dapatkah pisau memotong
> dirinya sendiri? Bagaimana sesuatu yang membutuhkan R dapat memberi
> yang lain sesuatu yang ia sendiri memerlukannya? Ternyata ini tak lain
> dari praduga metafisik yang ada sejak kita menolak hipotesis Allah,
> bahwa dunia dapat menarik dirinya sendiri dari tiada ke ada. Aku
> mungkin akan mempercayainya jika sebuah batu dapat menggantung di
> udara atas upayanya sendiri.
>
> Apa yang menyebabkan keruntuhan vektor status? Anggaplah ia muncul
> dari hasil pengukuran suatu alat ukur; sistem aslinya kemudian menjadi
> bagian dari sistem yang lebih besar, tersusun oleh dirinya sendiri dan
> alat ukur yang dipakai, maka kita memerlukan alat ukur yang kedua
> untuk mengukur sistem yang baru; begitu seterusnya. Masalah pengukuran
> dalam mekanika kuantum mendatangkan sesuatu yang disebut "bencana
> regresi tak terhingga von Neumann" dan, seperti yang dikatakan ahli
> fisika Eugene P. Wigner, pada akhirnya tak dapat dipecahkan tanpa
> mengacu kepada kesadaran.
>
> Kini kesadaran bukan hanya merupakan deskripsi atau interpretasi yang
> ada tentang mekanika kuantum, tetapi juga sesuatu yang sahih;
> interpretasi yang lain mengabaikan keberadaan kesadaran. Dari gambaran
> tersebut, menggunakan "pisau Occam" untuk melenyapkan kesadaran,
> pengalaman paling fundamental kita sebagai manusia, adalah
> mengamputasi realita dan kemudian menyebut hasil reduksi "komplit."
> Selain itu, banyak yang telah dilakukan akhir-akhir ini berbagai aspek
> misterius dari kesadaran dan fisika kuantum oleh orang-orang tak
> bertanggungjawab.
>
> Namun masih ada satu aspek yang sangat penting. Disebut oleh ahli
> fisika Paul C.W. Davies dalam The Ghost in the Atom (1991), "Wigner
> enigma" memaksakan pilihan antara Allah dan solipsisme [teori bahwa
> hanya diri sendirilah yang dapat dianalisa dan diketahui. Pen]. Jika,
> seperti sains, kita mendakwa bahwa suatu realita external ada secara
> independen dari manusia, kita tidak punya pilihan selain menerima
> bahwa ia ada dalam kesadaran universal Allah. Seperti dikatakan
> seorang filosof ternama, suara pohon yang roboh di hutan tanpa manusia
> dapat didengar oleh Allah.
>
> Alternatif lainnya hanyalah menerima bahwa reduksi fungsi gelombang
> ini timbul akibat kesadaran ilmuwan yang melakukan pengukuran,
> kesadarannya itu menghasilkan realita. (Einstein didakwa telah
> mengatakan itu menurut interpretasi Copenhagen, seekor tikus dapat
> meruntuhkan fungsi gelombang alam semesta.) Namun dalam ini, realita
> menjadi subyektif sepenuhnya. Bagaimana dengan semua realita lain yang
> tidak diukur para ilmuwan, tetapi ada? Satu-satunya cara untuk
> mempertahankan realita dunia external yang independen dan obyektif
> adalah menerima bahwa vektor status mengambil nilai tertentu dalam
> kesadaran Allah. Dengan demikian, satu-satunya alternatif yang sehat
> untuk secara ilmiah mendudukkan solipsisme adalah menerima keberadaan
> of Allah.
>
> ---------------------------------------------------------------------
> Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
> Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
> Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
> Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)
>
>
>
>
>
---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)