SAINS, PENGETAHUAN, DAN TASAWUF PENGETAHUAN TASAWUF BAGI SELURUH UMAT MANUSIA Naskah asli: Henry Bayman http://home.att.net/~nungan/sufism/ Diterjemahkan: R. Sunarman ALLAH DAN FISIKA MODERN Pada abad ke-19, fisika ditandai dengan pandangan materialistik dan deterministik. Hukum besi dijalankan secara buta tanpa mempedulikan keberadaan manusia. Pabrik-pabrik dalam Revolusi Industri merupakan suatu prototype yang dijadikan dasar paradigma ilmiah. Tiada tempat bagi Allah, kasih sayang, atau jiwa manusia. Kini, pada akhir abad ke-20, para ilmuwan lebih terbuka terhadap konsep Allah. Cullen Murphy dalam "The Atlantic Monthly" menulis "Mereka yang bekerja dalam sains keras, khususnya fisika, adalah orang yang paling terbuka dalam berbicara secara serius mengenai keberadaan Allah. Dengan tiap perkembangan pemahaman kita mengenai bagaimana alam semesta diciptakan, dalam tiap langkah maju dalam pemahaman kita mengenai dunia sub-atom dikendalikan, kita hanya makin memperdalam misteri keberadaan-Nya, bahkan sebagai arsitek dari realita fisika yang mengagumkan." Dalam bukunya Physics and Beyond (1971), ahli fisika kuantum Werner Heisenberg menceritakan bagaimana ia dan Niels Bohr (salah satu pendiri "Copenhagen School" yang menginterpretasikan mekanika kuantum) bersetuju bahwa tiada sesuatu pun dalam fisika kuantum yang menjelaskan kehidupan dan kesadaran. Pandangan ini diikuti juga oleh para ahli fisika ternama seperti Erwin Schr�dinger. Baru-baru ini, ahli matematika dan filosof David Chalmers telah berkesimpulan bahwa "kesadaran merupakan fenomena nonfisik dari dunia", atas dasar bahwa "struktur fisik dunia (distribusi partikel-partikel, medan-medan, dan gaya-gaya dalam ruang-waktu) secara logis konsisten dengan ketiadaan kesadaran, maka keberadaan kesadaran merupakan fakta yang lebih lanjut mengenai dunia." Penulis buku The Conscious Mind (1996), Chalmers, dikenal dengan apa yang disebutnya sebagai "hard problem" dari kesadaran: mengapa kesadaran muncul dari suatu proses fisik. Kenyataannya, kesadaran memang muncul ketika kita memperhatikan penjelas fundamental dari realita dalam fisika kuantum, vektor status atau fungsi gelombang, namun di sini bukan tempat yang tepat untuk membicarakan hal ini. Cukuplah dikatakan bahwa vektor status menjelaskan peluang bentuk-bentuk yang di dalamnya sesuatu system fisik harus ditemukan. Ini melibatkan sejumlah peluang-peluang, hingga peluang-peluang itu runtuh satu persatu dan hanya meninggalkan satu peluang saja. Apa yang menyebabkan reduksi fungsi gelombang ini: keruntuhan vektor status? Secara singkat, dari literatur yang mutakhir, aku menemukan jawaban berikut. Di samping kesadaran, reduksi vektor status dikaitkan dengan: 1) gaya tarik bumi, 2) panas, 3) ucapan manusia, 4) simbol-simbol, 5) lingkungan (yang barangkali all-inclusive). Tentu saja masih banyak yang terlewatkan olehku. Menurut pendapatku, hal ini menunjukkan bahwa adanya keragaman dalam bidang itu. Jika sesuatu menyebabkan vektor status reduksi R, ia bagaimana pun mempunyai status yang berprioritas lebih tinggi dari pada sesuatu yang direduksi. Namun dalam alam fisik, kita tidak mempunyai dasar untuk menganggap bahwa sesuatu benda atau proses fisik berprioritas lebih tinggi dari yang lain. Lebih spesifik, apakah tidak semua yang tersangka menyebabkan 1-5 dari mereka sendiri menyebabkan kebutuhan akan R? Mungkinkah ada yang lain? Dapatkah salah satu dari penyebab ini mereduksi vektor status juga? Dapatkah pisau memotong dirinya sendiri? Bagaimana sesuatu yang membutuhkan R dapat memberi yang lain sesuatu yang ia sendiri memerlukannya? Ternyata ini tak lain dari praduga metafisik yang ada sejak kita menolak hipotesis Allah, bahwa dunia dapat menarik dirinya sendiri dari tiada ke ada. Aku mungkin akan mempercayainya jika sebuah batu dapat menggantung di udara atas upayanya sendiri. Apa yang menyebabkan keruntuhan vektor status? Anggaplah ia muncul dari hasil pengukuran suatu alat ukur; sistem aslinya kemudian menjadi bagian dari sistem yang lebih besar, tersusun oleh dirinya sendiri dan alat ukur yang dipakai, maka kita memerlukan alat ukur yang kedua untuk mengukur sistem yang baru; begitu seterusnya. Masalah pengukuran dalam mekanika kuantum mendatangkan sesuatu yang disebut "bencana regresi tak terhingga von Neumann" dan, seperti yang dikatakan ahli fisika Eugene P. Wigner, pada akhirnya tak dapat dipecahkan tanpa mengacu kepada kesadaran. Kini kesadaran bukan hanya merupakan deskripsi atau interpretasi yang ada tentang mekanika kuantum, tetapi juga sesuatu yang sahih; interpretasi yang lain mengabaikan keberadaan kesadaran. Dari gambaran tersebut, menggunakan "pisau Occam" untuk melenyapkan kesadaran, pengalaman paling fundamental kita sebagai manusia, adalah mengamputasi realita dan kemudian menyebut hasil reduksi "komplit." Selain itu, banyak yang telah dilakukan akhir-akhir ini berbagai aspek misterius dari kesadaran dan fisika kuantum oleh orang-orang tak bertanggungjawab. Namun masih ada satu aspek yang sangat penting. Disebut oleh ahli fisika Paul C.W. Davies dalam The Ghost in the Atom (1991), "Wigner enigma" memaksakan pilihan antara Allah dan solipsisme [teori bahwa hanya diri sendirilah yang dapat dianalisa dan diketahui. Pen]. Jika, seperti sains, kita mendakwa bahwa suatu realita external ada secara independen dari manusia, kita tidak punya pilihan selain menerima bahwa ia ada dalam kesadaran universal Allah. Seperti dikatakan seorang filosof ternama, suara pohon yang roboh di hutan tanpa manusia dapat didengar oleh Allah. Alternatif lainnya hanyalah menerima bahwa reduksi fungsi gelombang ini timbul akibat kesadaran ilmuwan yang melakukan pengukuran, kesadarannya itu menghasilkan realita. (Einstein didakwa telah mengatakan itu menurut interpretasi Copenhagen, seekor tikus dapat meruntuhkan fungsi gelombang alam semesta.) Namun dalam ini, realita menjadi subyektif sepenuhnya. Bagaimana dengan semua realita lain yang tidak diukur para ilmuwan, tetapi ada? Satu-satunya cara untuk mempertahankan realita dunia external yang independen dan obyektif adalah menerima bahwa vektor status mengambil nilai tertentu dalam kesadaran Allah. Dengan demikian, satu-satunya alternatif yang sehat untuk secara ilmiah mendudukkan solipsisme adalah menerima keberadaan of Allah. --------------------------------------------------------------------- Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED] Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED] Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected] Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)
