Assalaamu 'alaikum wr. wb.

Mas Ali, saya agak minder dalam urusan peristilahan karena lebih
tertarik pada obyek, bukan nama. Tetapi bolehlah saya ceritakan
kembali kisah yang saya dengar dari seorang guru spiritual, yang
mungkin waktu itu dimaksudkan untuk mendidik dan menghibur saya yang
sedang mengalami cobaan kehidupan yang datang bertubi-tubi. 

Alkisah ada sebuah gua besar di puncak gunung yang dipakai orang-orang
sufi dari kampung sekitar dan dari jauh, untuk berkumpul secara rutin
melakukan pemujaan kepada Allah dengan dzikir. Sudah berbulan-bulan
mereka melakukannya, dan sebagian mengira bahwa mereka sudah
menjadi wali. 

Suatu ketika, datang wahyu yang memberitakan bahwa Allah telah
mengangkat Fulan untuk menjadi wali qutub [wali yang terkemuka] di
antara mereka. Maka berita itu tersebar, mereka sibuk mencari tahu
mana orang yang bernama
Fulan itu. Akhirnya ditemukan bahwa si Fulan ternyata hanyalah orang
baru di antara mereka, ia baru seminggu terakhir ini datang dan turut
berdzikir; itupun hanya malam hari; kalau siang, ia pergi ke hutan
mengumpulkan kayu untuk menghidupi keluarganya.

"Fulan, tahukah engkau mengapa Allah mengangkatmu menjadi wali qutub
di antara kami?"
"Tidak."
"Amalan-amalan apa yang engkau lakukan?"
"Shalat lima waktu."
"Shalat sunnah?"
"Hanya kadang-kadang."
"Kitab-kitab apa yang sudah engkau pelajari?"
"Aku buta huruf. Aku tidak dapat membaca."

Mereka heran, mengapa orang yang tidak pernah membaca Al Qur'an, 
tidak 'mempelajari' agama dan baru saja ikut rombongan mereka,
tiba-tiba diangkat menjadi wali qutub.
Namun akhirnya datang pemberitahuan melalui qalbu mereka, bahwa si
Fulan itu orang yang sabar, teguh memegang kebenaran, dan beriman
kepada Allah. 

Hal itu dibuktikannya dalam kehidupan sehari-hari. Dalam keadaan
miskin dan serba kekurangan, tiap hari ia didera dengan caci maki oleh
isterinya yang tidak puas, namun ia sanggup bersabar menahan diri
untuk tidak marah. Ia juga didorong-dorong untuk mencuri agar
kebutuhan keluarganya terpenuhi, tetapi ia tak bergeming. Ia lebih
suka bekerja lebih keras mencari kayu bakar untuk dijual. Meskipun
dengan itupun kebutuhannya tetap saja tak terpenuhi, ia tetap yakin
bahwa Allah akan menolong. Itu adalah jihad yang sejati, dan ia menang
dalam jihad itu. Jihad semacam itu lebih berat dari peperangan di
zaman Nabi. Dan di antara orang-orang di situ, baru Fulan-lah yang
sudah terbukti lulus dari ujian jihad yang berat. Allah Mahatahu.

Wassalaamu'alaikum wr. wb.
RS



Ali Abidin wrote:

> > ----------
> > From:         R. Sunarman[SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
> >
> > Al-Insan al-Kamil "perfect man" who is the great spiritual teacher
> >                of the age, called qutb or "pole" (Ahmad al-Alawi,
> >                d.1934)

> Setiap kali saya membaca pengantar tasawuf, saya selalu terbentur pada
> kalimat ini yaitu "Qutb" atau dalam bahasa Indonesia biasa disebut sebagai
> "Kutub Luhur" atau kadang juga sebagai "Imam Zaman" dst. Saya bener-bener
> tidak mengerti siapa yang disebut "Qutb" ini didalam perjalanan ruhani.
> Berdasarkan mail japri salah seorang peserta milis ini, disebutkan bahwa di
> yang mirip kedudukannya dengan deskripsi "Qutb" ini adalah "Al-Mahdi". Jika
> melihat deskripsi yang pernah saya peroleh maka memang "Kutub Luhur" dalam
> sufi ini memang mirip sekali dengan deskripsi walayah dari "Imam Mahdi".
> 
> Mungkin pak Sunarman / siapa saja bisa memberikan keterangan tentang apa /
> siapa yang disebut "Qutb" ini dalam tasawuf.
>



---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)




Kirim email ke