Assalamu' alaikum wr.wb.

Terimakasih pak sunarman atas komentarnya ini. Yang kemudian mengingatkan
saya atas kisahnya "orang biasa" Uwais al Qarani, yang diwasiatkan nabi
Muhammad saw. kepada para sahabat terdekatnya untuk memintakan doa. Lalu,
apakah para sahabat seperti Umar, lebih "rendah"  daripada Uwais ? 
Padahal menurut para tetangganya, Uwais adalah orang biasa, tetapi amalnya
yang sangat istiqomah dan ikhlas kepada ibunya itu, yang mungkin
membuatnya Luar Biasa.
Seperti juga Musa as. yang "wahyu" -nya sepertinya tidak mampu mengatasi
Khidir. Memang jumhur ulama mengatakan bahwa Khidir adalah seorang nabi,
tapi yang jelas adalah BELIAU DILUAR 25 nabi yang wajib dikenal. Demikian
juga dengan kisah-kisah hikmah-nya Lukman, apakah juga ia orang 'biasa' ?

Jadi sepertinya ada JALUR RAHASIA LAIN YANG TAK RESMI kepada allah, dan
tidak tunduk oleh pembagian-pembagian maqom resmi dari para sufi. Allah
Yang Maha Tahu tentang hal ini.


Wassalam 

aHassan 





On Sat, 29 May 1999, R. Sunarman wrote:

> Assalaamu 'alaikum wr. wb.
> 
> Mas Ali, saya agak minder dalam urusan peristilahan karena lebih
> tertarik pada obyek, bukan nama. Tetapi bolehlah saya ceritakan
> kembali kisah yang saya dengar dari seorang guru spiritual, yang
> mungkin waktu itu dimaksudkan untuk mendidik dan menghibur saya yang
> sedang mengalami cobaan kehidupan yang datang bertubi-tubi. 
> 
> Alkisah ada sebuah gua besar di puncak gunung yang dipakai orang-orang
> sufi dari kampung sekitar dan dari jauh, untuk berkumpul secara rutin
> melakukan pemujaan kepada Allah dengan dzikir. Sudah berbulan-bulan
> mereka melakukannya, dan sebagian mengira bahwa mereka sudah
> menjadi wali. 
> 
> Suatu ketika, datang wahyu yang memberitakan bahwa Allah telah
> mengangkat Fulan untuk menjadi wali qutub [wali yang terkemuka] di
> antara mereka. Maka berita itu tersebar, mereka sibuk mencari tahu
> mana orang yang bernama
> Fulan itu. Akhirnya ditemukan bahwa si Fulan ternyata hanyalah orang
> baru di antara mereka, ia baru seminggu terakhir ini datang dan turut
> berdzikir; itupun hanya malam hari; kalau siang, ia pergi ke hutan
> mengumpulkan kayu untuk menghidupi keluarganya.
> 
> "Fulan, tahukah engkau mengapa Allah mengangkatmu menjadi wali qutub
> di antara kami?"
> "Tidak."
> "Amalan-amalan apa yang engkau lakukan?"
> "Shalat lima waktu."
> "Shalat sunnah?"
> "Hanya kadang-kadang."
> "Kitab-kitab apa yang sudah engkau pelajari?"
> "Aku buta huruf. Aku tidak dapat membaca."
> 
> Mereka heran, mengapa orang yang tidak pernah membaca Al Qur'an, 
> tidak 'mempelajari' agama dan baru saja ikut rombongan mereka,
> tiba-tiba diangkat menjadi wali qutub.
> Namun akhirnya datang pemberitahuan melalui qalbu mereka, bahwa si
> Fulan itu orang yang sabar, teguh memegang kebenaran, dan beriman
> kepada Allah. 
> 
> Hal itu dibuktikannya dalam kehidupan sehari-hari. Dalam keadaan
> miskin dan serba kekurangan, tiap hari ia didera dengan caci maki oleh
> isterinya yang tidak puas, namun ia sanggup bersabar menahan diri
> untuk tidak marah. Ia juga didorong-dorong untuk mencuri agar
> kebutuhan keluarganya terpenuhi, tetapi ia tak bergeming. Ia lebih
> suka bekerja lebih keras mencari kayu bakar untuk dijual. Meskipun
> dengan itupun kebutuhannya tetap saja tak terpenuhi, ia tetap yakin
> bahwa Allah akan menolong. Itu adalah jihad yang sejati, dan ia menang
> dalam jihad itu. Jihad semacam itu lebih berat dari peperangan di
> zaman Nabi. Dan di antara orang-orang di situ, baru Fulan-lah yang
> sudah terbukti lulus dari ujian jihad yang berat. Allah Mahatahu.
> 
> Wassalaamu'alaikum wr. wb.
> RS
> 
> 
> 
> Ali Abidin wrote:
> 
> > > ----------
> > > From:         R. Sunarman[SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
> > >
> > > Al-Insan al-Kamil "perfect man" who is the great spiritual teacher
> > >                of the age, called qutb or "pole" (Ahmad al-Alawi,
> > >                d.1934)
> 
> > Setiap kali saya membaca pengantar tasawuf, saya selalu terbentur pada
> > kalimat ini yaitu "Qutb" atau dalam bahasa Indonesia biasa disebut sebagai
> > "Kutub Luhur" atau kadang juga sebagai "Imam Zaman" dst. Saya bener-bener
> > tidak mengerti siapa yang disebut "Qutb" ini didalam perjalanan ruhani.
> > Berdasarkan mail japri salah seorang peserta milis ini, disebutkan bahwa di
> > yang mirip kedudukannya dengan deskripsi "Qutb" ini adalah "Al-Mahdi". Jika
> > melihat deskripsi yang pernah saya peroleh maka memang "Kutub Luhur" dalam
> > sufi ini memang mirip sekali dengan deskripsi walayah dari "Imam Mahdi".
> > 
> > Mungkin pak Sunarman / siapa saja bisa memberikan keterangan tentang apa /
> > siapa yang disebut "Qutb" ini dalam tasawuf.
> >
> 
> 
> 
> ---------------------------------------------------------------------
> Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
> Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
> Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
> Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)
> 
> 
> 
> 
> 


---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)




Kirim email ke