SAINS, PENGETAHUAN, DAN TASAWUF
PENGETAHUAN TASAWUF BAGI SELURUH UMAT MANUSIA

Naskah asli: Henry Bayman 
http://home.att.net/~nungan/sufism/
Diterjemahkan: R. Sunarman


DI BALIK KONTRADIKSI

Alam semesta membiarkan keberadaan berbagai kontradiksi. Merupakan
bagian dari rencana Allah bahwa orang atheis dan orang beriman harus
hidup berdampingan; dunia ini cukup luas untuk menampung keduanya
(meskipun Sorga tidak). Pendukung berat atheisme harus menyadari bahwa
keyakinan mereka bukan hanya tidak rasional sebagaimana pengakuan
mereka, mereka pun tidak berhak memonopoli rasionalitas. Sekiranya
Allah menghendaki, Dia dapat membuat keberadaan-Nya jelas dan tak
terbantahkan oleh siapa pun, sehingga tidak perlu adanya iman. Namun
Allah memberi kita kebebasan dalam keyakinan; Dia ingin agar kita
beriman atas dasar kehendak bebas kita sendiri.

Kelemahan atheisme yang paling mendasar ialah kemiskinan dalam
pandangannya. Akibatnya tidak hanya terbatas pada permainan logika
dalam diskusi filosofi di belakang ruang kuliah atau ruang rahasia di
Internet, mereka dapat pula dilihat dalam setiap aspek kehidupan kita.
Ini bukan berarti bahwa mereka tidak punya tempat; yang menjadi
masalah adalah bagaimana orang hidup dan kualitas hidup mereka, dan
kualitas kematian mereka. Sampai di sini, kita perlu mempertanyakan
baik prinsip yang dipegang seseorang maupun hasil nyata dari upaya
mereka.

Tidak diperlukan kecerdasan yang tinggi untuk melihat bahwa
perkembangan ilmu dan material manusia tidak diiringi dengan
perkembangan yang seimbang dalam bidang moral dan spiritual.
Sebaliknya, lubang iman yang menganga telah mendatangkan kerusakan,
bukan perbaikan dari kehidupan moral kita. Hanya dengan penerapan
kaidah-kaidah moral yang disediakan oleh iman (dan tidak disediakan
oleh sains), kita dapat terus menikmati karunia material kita. Jika
tidak, bangunan itu akan runtuh, cepat atau lambat. Perkembangan
material yang lestari bergantung kepada perkembangan moral dan
spiritual. 

Seperti dibahas di atas, pikiran bukan merupakan alat untuk menghadapi
proyek atheis melawan iman; ini merupakan ukuran kemampuan yang umum
bagi kita; dalam banyak hal ia hanya berkaitan dengan manusia. Oleh
karena itu, agar mencapai perkembangan yang penuh, kita memerlukan
fusi yang sejati antara manfaat sains dan teknologi dengan iman kepada
Allah yang Esa, suatu fusi yang mengangkat dan mengembangkan baik jiwa
maupun pikiran. Pengertian ini dibangun atas perbuatan etika, atas
renungan dan kontemplasi, bersamaan dengan alat klasik dalam riset dan
eksperimen; di mana dunia alami merupakan titik keberangkatan bagi
kita, bukan sebagai batas dari pemahaman kita. Bukan sia-sia
kitab-kitab suci mengajak kita agar membaca dunia ini sebagai tanda;
sebagai jari telunjuk yang mengarah ke bulan. Mengapa membatasi diri
sendiri dengan jari telunjuk?

"Dalam penciptaan langit dan bumi; dalam pergantian siang dan malam;
dalam kapal-kapal yang mengarungi lautan bagi kepentingan manusia;
dalam hujan yang diturunkan Allah dari langit, dan kehidupan yang
diberikan-Nya dengan itu kepada bumi yang mati; dalam segala jenis
hewan yang bertebaran di muka bumi; dalam pergantian angin dan
awan-awan yang mengikutinya, semua merupakan tanda bagi orang-orang
yang bijak."

Kita harus keluar dari kontradiksi antara iman dan pikiran, hingga
mencapai sesuatu yang diterima keduanya. Hanya perkawinan suci antara
iman dan pikiran-lah yang akan mendatangkan manfaat. Kita perlu
pengetahuan yang bermanfaat, yang memecahkan masalah, dan membuat kita
menjadi bijak. Pikiran dan informasi itu baik, but tidak cukup dengan
itu saja. Kita tidak boleh meninggalkan kearifan, tanda khas manusia
dan bekal utama untuk bertahan hidup.



---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)




Kirim email ke