>> ----------
>> From:
>> [EMAIL PROTECTED][SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
>>
>> Bagi yang belum punya mursyid, saya tidak mempunyai pendapat secara
>> khusus. Sekedar pendapat umum mungkin kita bisa meningkatkan atau
>> meng-istiqomahkan amalan-amalan yang sudah biasa kita lakukan.
>> Misalnya :
>>      - Membiasakan baca al-qur'an (minimal 1th 2X khatam)
>>      - Membiasakan ibadah sunah sesudah tertib ibadah wajib.
>>           misalnya: puasa sunah, sholat sunah, shodaqah,mencitai anak
>>           yatim dan orang-orang miskin... dsb.
>>      - Membiasakan/mengkontinyukan dzikrullah
>>      - Belajar memahami sifat Allah 20
>>      - Belajar memahami dengan penuh penghayatan 99 Asma Allah.
>>      - Mencintai Rasulullah SAW dan mencintai apa yang dicintai Beliau.
>>      - Memelihara diri dari sifat-sifat tercela.
>>      - dsb...
>> Dengan mengharap ridlo Allah atas amalan-amalan itu semua, insya Allah
>> lambat laun hati kita akan semakin bersih dan terang. Terang disini
>> bisa bermakna 'tahu', termasuk tentang 'mengenal diri'
>>
>>

[Ali Abidin wrote:]

>Assalaamu 'alaikum wr. wb.

>Saya rada tersentak malu membaca tulisan pak Wargino ini.
Yang jelas saya punya problem cukup parah dalam masalah istiqomah ini.
Setiap kali saya mencoba meningkatkan amalan ibadah maka seringkali yang
terjadi justru sebaliknya. Kira-kira yang terjadi adalah  pada awalnya saya
naik sedikit, kemudian ketika saya mulai berbahagia dengan keberhasilan
saya
itu maka entah mengapa saya sangat ingin menghentikan amalan-amalan itu
sesaaaaat saja. Akibatnya ternyata dengan cepat saya kembali ke tempat
awal,
dan kemudian parahnya malah terus turun lebih rendah daripada sebelum saya
meningkatkan amalan tsb. Akhirnya biasanya ketika sadar maka dengan
tertatih-tatih saya kembali pada posisi semula.

>Saya pernah membaca suatu hadist bahwa kejadian seperti itu akan terus
dialami semua orang dalam jalan ini karena begitulah hati berbolak-balik.
Meski hadist tsb sangat menenangkan saya (karena serasa punya temen :-),
tetapi tidak menjawab masalah bagaimana caranya agar mampu istiqomah. Nah
barangkali pak Wargino/lainnya bisa memberi tips bagaimana mengatasi godaan
untuk berhenti sesaaaat saja tersebut.

>Wassalaamu 'alaikum wr. wb.
--------------------------------------------------------------------------

Wa'alaikum salam Wr wb

Pak Ali, apa yang anda katakan itu insya Allah benar. Setiap orang
mengalami naik-turun kondisi imannya.

Idealnya iman itu senantiasa naik (membaik kwalitasnya) dari waktu
ke waktu. Kalaupun tidak demikian, saat turunnya hendaklah tidak
sama atau bahkan melebihi dengan naiknya, agar tidak membentuk
zero resultan.

Kalau iman itu diilustrasikan dengan angka (sebagai misal), ada
beberapa kondisi sebagai berikut.


*(1).Iman datar (Pemain YOYO)

Tahun ke  Naik      Turun          Sisa
--------  --------  -------   --------
1         10        5         +5
2         15        20        -5
3         10        10        0
4         40        30        +10
5         20        30        -10
--------  --------  -------   --------
Total          105       90        +0 (celaka)



*(2).Iman yang naik-turun (extreem-fluctuation)

Tahun ke  Naik      Turun          Sisa
--------  --------  -------   --------
1         40        10        +30
2         20        40        -20
3         60        50        +10
4         10        30        -20
5         30        20        +10
--------  --------  -------   --------
Total          105       90        +10 (rugi)


*(3). Bertahap naik

Tahun ke  Naik      Turun          Sisa
--------  --------  -------   --------
1         5         3         +2
2         9         6         +3
3         15        10        +5
4         30        10        +20
5         50        20        +30
--------  --------  -------   --------
Total          105       90        +60 (beruntung)


Dari ketiga ilustrasi di atas, kalau bisa kita usahakan seperti
yang ke-tiga. Walaupun kadang turun tapi jangan sampai turunnya
itu sampai sama atau melebihi saat naiknya.

Bagaimana caranya?
Tentu caranya banyak sekali sebagaimana cara-cara yang telah
diajarkan oleh Rasulullah SAAW maupun para Sahabat RA.

Di sini saya hanya ingin sharing pengalaman saya pribadi dalam
belajar beristiqomah (bukan nasihat lho pak!!).

Disini saya juga tidak bicara soal teknis, melainkan lebih mengarah
pada sikap, dan kedisiplinan diri.


[1]. Sedikit tapi terus (persistent)

Jangan dikira bahwa nafsu itu hanya bekerja pada hal-hal negatif
saja. Kadang ada orang yang terlalu ambisi/bernafsu atau terlalu
semangat dalam beribadah (karena ingin segera 'sampai').

Cara ibadah yang demikian ini biasanya akan mengalami penurunan
yang cukup tajam, karena tidak dilandasi syukur dan realitas
kemampuannya.


[2]. Jaga Kondisi/Stamina tubuh/jasmani

Pasangan ideal antara jasmani dan rohani ini haruslah dipelihara
secara baik. Yang 'luar' bisa membantu yang di 'dalam' dalam
melaksanakan ibadah dengan baik. Walaupun saat jasmani sedang sakit
kita juga masih bisa sholat (dengan berbaring misalnya) tapi kwalitas
sholat orang yang jasmaninya sehat dengan yang tidak bisa berbeda.

Sholat malam itu baik, tapi bagi yang belum terbiasa bisa terganggu
stamina tubuhnya. Sebaiknya dilakukan secara bertahap sedikit demi
sedikit sehingga tubuh terbiasa dengan pola tidur yang berbeda.

Makanan disamping halal, baik, bergizi dan jangan belebihan.
(Rasulullah SAAW belum pernah makan kenyang selama hidupnya)


[3]. Ingat kondisi 'Up' dan 'Down'

Pada saat iman kita lagi 'up' kita akan merasakan kenikmatan tersendiri
yang tidak kita rasakan di saat iman sedang 'down'
Kondisi ini perlu di-ingat untuk menguatkan semangat.

Misal:
Saya mempunyai kebiasaan puasa sunah Senin-Kamis. Tadi malam(pagi) saya
baru terbangun saat mendengar adzan subuh, jadi tidak sempat makan
syahur. Syetan berbisik... hari Senin kerjaan numpuk kalau tidak sahur
bisa lemas... dsb... Dalam kondisi begini disamping mohon kekuatan
kepada Allah, saya ingat minggu lalu saat saya juga tidak makan syahur
dan tidak puasa, saya sedih sekali. Maka tadi pagi saya katakan pada
diri saya sendiri "Saya tidak akan mengulangi kesalahan seperti minggu
lalu" toh akhirnya hanya menyesal.

Disamping itu juga ingat kondisi saat 'up' merindukan saat-saat indah
itu datang kembali.
saya sudah berniat puasa Senin

Lakukan sebisanya sekalipun tidak konsentrasi dan tidak bisa ihlash.
Misalnya kita baca al-qur'an atau dzikir tidak khusu' nggak apa-apa
lakukan terus. Ini saya sebut "Strategi bertahan dengan menyerang"

Karena kalau kita tidak melakukan hanya menunggu saat ihlash atau saat
bisa konsentrasi, di saat inilah grafik iman menukik turun.
Ini saya sebut dengan "Strategi bertahan tanpa senjata) pasti lose!!


[4]. Bergaul dengan Orang-orang sholih.

Dengan bergaul bersama orang-orang sholih hati kita akan damai dan
pembicaraan kita pun terjaga dan terarah untuk membicarakan kebesaran
Allah. Banyak keuntungan berkawan-bergaul dengan orang-orang sholih.


[5]. Fokus pada goal (tujuan)

Yang bisa menguatkan semangat adalah tujuan utama 'burning desire'.
Cari salah satu hal yang ingin anda capai (harapkan) dalam beribadah.
Kalau bisa keinginan ini yang tidak bisa ditawar. Harus IYA.

Dengan bisa menemukan hal tersebut, insya Allah bisa membantu menyalakan
api semangat untuk beribadah.


Tentunya banyak sekali tidak hanya lima kiat di atas. Mungkin rekan-rekan
yang lain punya kiat-kiat khusus untuk belajar istiqomah dalam beribadah.

Kalau tidak keberatan mohon bisa sharing kepada kita semua.


Kurang lebih mohon maaf,
Wassalamu'alaikum wr wb,
Wargino




---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)




Kirim email ke