>Assalaamu 'alaikum wr. wb.
>Anggap si X ini orang islam biasa yang cuman mengerjakan sholat lima waktu
>seperti kain kumal. Yang jarang mengerjakan amal-amal sunnah atau bahkan
tidak sama sekali. 
> Orang yang mempelajari sedikit tentang islam. Orang yang resah jiwanya.
Orang yang
>memiliki niat baik untuk membersihkan jiwanya. Singkatnya barangkali seperti
>rata-rata sebagian besar anggota milis ini. 
>Langkah-langkah apa yang harus dilakukan oleh si X tersebut agar mampu
>menaikkan tingkatan jiwanya? Saya berandai -andai mungkin abah akan menjawab
>bahwa si X ini harus bertaubat yang sungguh-sungguh (langkah ke-2) lalu
>dibarengi dengan berserah diri tidak mengikuti hawa nafsu (langkah 3) maka
>otomatis tingkatan jiwanya akan naik sedkit demi sedikit, lalu menunggu
>Rahmat Allah ke-1 (langkah 4) agar naik ke level langit 1 shaf 7, Bener
>nggak bah?.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb

Benar Om Ali...

Rasulullah SAW pernah bersabda, yang kl:
"Berimannya seseorang atau masuk surganya seseorang bukan karena banyaknya
amal, tetapi karena rahmat atas kemurahan Allah".

Kunci dari rahmat Allah, kalau kita lihat di 49:14 dan 39:22 adalah
Berserah Diri.

Nah permasalahan berserah diri ini sesungguhnya yang sulit. Kalau kemarin
kita diskusi tentang "Akal Otak & Akal Hati", disinilah letak "fungsi
pengetahuan" untuk mengotomatisasi keberserahan diri dalam semua aktivitas
kita. 

Dengan belajar (pengetahuan) yang BAIK DAN BENAR, maka akan membentuk
INTUISI yang menjadi dasar seorang beraktivitas.

Untuk belajar (pengetahuan) yang BAIK DAN BENAR, banyak caranya. Banyak
orang di kampung, tidak banyak mengerti tentang aturan agama. Tetapi dengan
segala keterbatasannya, ia memiliki pengetahuan untuk berserah diri BAIK
dan BENAR, maka ia jauh lebih mulia daripada seorang yang belajar Agama
Islam di Kairo (misalnya), namun tidak membawa perubahan dirinya untuk
"berserah diri".

Seandainya seorang melakukan semua aktivitasnya dengan "berserah diri",
tidurnya pun jauh lebih mulia ketimbang orang (yang tidak berserah diri)
shalat semalam suntuk. Ingat kisah ketika ada seorang tidur dan seorang
shalat, lalu Rasulullah SAW mengatakan "orang ini (tidur) jauh lebih mulia
ketimbang orang yang shalat". 

 
>Baru sadar bahwa taubat dalam AlQuran dibedakan dengan memohon ampun ya QS
>5:74? Wah bedanya apa nih Abah? Kalau dalam pengertian saya maka memohon
>ampun inilah yang terkait dengan maksiat yang pernah dilakukan .... Nah
>kalau begitu taubat itu apa donk?

Seperti penjelasan Mas Sigit. Taubat merupakan Niatan Kuat untuk KEMBALI
kepada Allah.
Sehingga taubat diapit oleh:

MOHON AMPUN - TAUBAT - MEMPERBAIKI DIRI - BERSERAH DIRI


>Masalahnya untuk memohon ampun ini maka si X harus menyadari dosa-dosanya.
>Barangkali untuk orang yang benar-benar pendosa lebih mudah untuk memohon
>ampun, padahal si X seperti di atas tentunya tidak terlalu banyak
>bergelimang dalam dosa sehingga barangkali untuk memohon ampun beneranpun
>sudah susah. Orang islam biasa kan biasanya tidak pernah melakukan maksiat
>yang sangat besar sehingga bisa menangis untuk memohon ampun (meski juga
>biasanya tidak pernah mengerjakan amal yang sangat baik)..

Seorang ulama pernah mengatakan bahwa ukuran dosa kecil dan besar
(dihadapan Allah) bukan kepada jenis amalnya. Tetapi bergantung kepada
anggapan kita kepada dosa tersebut.

Apabila kita menganggap dosa yang kita perbuat kecil, maka dihadapan Allah
dosa itu sangat besar. Tetapi apabila kita menganggap dosa tersebut besar,
maka dihadapan Allah dosa tersebut sangat kecil.

-wallahu'alam-

+++++++
Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain apa yang telah Engkau
ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha
Bijaksana. (QS. 2:32)


---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)




Kirim email ke