Assal�mu'alaikum warahmatull�hi wabarak�tuh.

Akhir-akhir ini Mbak Yani mengeluarkan jurus mengenai thariqat yang
eksak. Apabila kita tune ke frekuensi yang tepat, maka kita dapat
nyambung kepada Allah; dan dengan demikian doa-doa kita pasti akan
terkabul. Beberapa rekan jengah dengan kalimat itu, tetapi tampaknya
begitulah rona khas dari kalangan thariqat tempat Mbak Yani belajar,
dalam menyuarakan kebenaran. Tugas kita adalah memahami mengapa
kebenaran itu disampaikan dengan cara demikian.

Dugaan saya, frasa itu dipakai untuk menggedor hati mereka yang
mengagungkan akal-pikiran dan memandang tasawuf atau thariqat itu
tidak rasional. Seperti kita tahu, dalam dunia fisik kita membagi ilmu
pengetahuan menjadi ilmu eksakta dan non-eksakta. Sepintas kita
melihat bahwa pembagian itu didasarkan atas pasti atau tidaknya
hubungan antara sebab dan akibat. Masalah besi yang bila dipanasi
selalu memuai, dan 2 kali 2 selalu 4, masuk dalam bilangan eksakta
meskipun ada kasus-kasus tertentu yang tidak demikian.  Ini
dikontraskan dengan hubungan berikut:
A nakal - dinasihati - menjadi baik
B nakal - dinasihati - tetap nakal
C nakal - dinasihati - tambah nakal
Karena efek dari menasihati itu tampak tidak pasti, bidang yang
menelaah masalah ini digolongkan dalam ilmu non-eksakta.

Benarkah proses menasihati itu tidak selalu menghasilkan akibat yang
sama? Sebenarnya selalu sama, bila kondisi atau parameter yang
terlibat dalam proses itu sama. Kalau kita telaah akibat dari
pemanasan logam dan pengalian 2 dengan 2 itu, di sini parameternya
jelas dan terkendali; sedangkan dalam contoh proses menasihati, tidak
semua parameternya terkendali bahkan beberapa di antaranya tidak
diketahui. Seandainya semua parameter yang terlibat di dalam proses
itu dapat dikenali dan dikendalikan agar seragam, maka bidang ilmu itu
akan beralih ke eksakta. Kita akan tetap bercokol di alam non-eksakta
selama kita belum mampu mengidentifikasi dan mengendalikan parameter
yang terlibat di dalam suatu proses.

Bagaimana dengan thariqat? Mengapa ada orang yang mengatakan bahwa
thariqat itu eksak? Karena mereka telah mampu menemukan berbagai
parameter yang terlibat dalam thariqat, dan sejauh ini mampu
mengendalikan agar mencapai hasil yang dikehendaki. Mereka telah
membuktikan, sekurang-kurangnya pengenalan dan pengendalian parameter
itu telah berjalan sekian ratus tahun dan membuahkan hasil yang
dikehendaki. Karena telah terbukti kehandalannya, maka metode yang
ditemukan itu disebut-sebut dengan 'teknologi' yang 'eksak', sebuah
terminologi yang pas dari sudut pandang tertentu tetapi dapat 'lucu'
bila dipandang dari sudut pandang lain, dan karena itu jangan terlalu
dipermasalahkan.

Dalam ilmu eksakta yang murni sekalipun, kita masih menyisihkan suatu
margin bagi parameter-parameter yang sejauh ini belum diketahui.
Karena itulah dalam ilmu statistika kita mengenal istilah 'taraf
kepercayaan' yang biasanya dinyatakan dalam bilangan 0,01 dan 0,05.
Bilangan ini menunjukkan bahwa dari setiap 100 kali pengulangan proses
yang sama, dimungkinkan terjadinya penyimpangan hasil  paling banyak
masing-masing 1 dan 5 kali.

Demikian pula, dalam thariqat yang eksak itu, meskipun semua parameter
yang diketahui telah dikendalikan, kenyataannya tetap saja ada
penyimpangan, namun penyimpangan itu sangatlah kecil. Penyimpangan ini
terjadi karena adanya parameter yang tidak atau belum diketahui. 

Tuning dan fine tuning merupakan simbolisasi proses yang selalu
dilakukan dalam thariqat dalam upaya agar kita dapat menangkap
bimbingan Allah tanpa distorsi. Karena hanya merupakan simbolisasi,
maka dalam thariqat tidak ada radio receiver yang harus di-tune.
Pengungkapan ini bertujuan agar di alam fisik ini kita bisa memahami
bimbingan Allah itu mirip dengan pancaran gelombang radio, sedangkan
kita adalah pesawat penerima radio. Tentu penggambaran ini tidak
sepenuhnya tepat karena bimbingan Allah lebih merupakan 'voice of
silence', getaran suara yang tak dapat ditangkap dengan panca-indera
dan tak dapat dideteksi dengan alat-alat ukur. Hendaklah kita bijak
pula dalam menerima penggambaran bahwa bimbingan Allah itu berupa
cahaya dalam kegelapan [light in darkness] karena cahaya ini tak
tertangkap oleh mata.

Begitulah hasil otak-atik saya dalam upaya untuk memahami mengapa
istilah eksak itu dipergunakan. Mudah-mudahan tidak terlalu jauh
menyimpang dari tujuan si pencipta istilah itu.

Wallahu a'lam bishshawab.
Wassal�mu'alaikum warahmatull�hi wabarak�tuh.
RS



---------------------------------------------------------------------
Daftar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Keluar Keanggotaan, e-mail (kosong): [EMAIL PROTECTED]
Dokumentasi Milis : http://www.mail-archive.com/[email protected]
Sumbangan Milis : BCA No. Rek 2311222751 (a.n Muhammad Sigit P)




Kirim email ke